
Devan dan Fay telah berada di mansion setelah sebelumnya mampir di grocery terdekat dari tempat tinggal Devan.
Sesampainya masuk rumah Devan langsung menyerang tubuh kekasihnya dan menggendong ala bridal tubuh Fay.
"Aaarrghh!!" Fay memekik terkejut kemudian terkekeh geli.
"Aahh Dev!" rutuk Fay.
Devan mendudukan kekasihnya di meja dapur mereka. Dengan sigap pria itu meletakkan semua kebutuhan makan malam yang akan di masak oleh kekasihnya.
Ini bukan pertama kalinya Fay berkunjung ke rumah kekasih gelapnya. Dahulu Harv selalu meninggalkan Fay dalam waktu yang lumayan lama. Fay sering berkunjung ke rumah Devan, walau mereka hanya sekedar bercumbu biasa, berbincang di sela makan malam romantis sederhana yang di hidangkan Fay, bahkan hanya sekedar menonton drama bersama hal itu membuat Fay melupakan kesepiannya.
Devan adalah rumah singgah yang terkadang di harapkan menjadi rumah utama oleh keduanya. Wanita itu tidak mengerti, mengapa dia bisa jatuh cinta pada Harv yang selalu menyakitinya.
"Mmmccch... Mmmmhhh!"
Keduanya bertautan mesra sejenak, Devan melu mat bibir Fay lembut. Dengan pasrah dan tak kalah agresif Fay membalas ciuman kekasihnya.
"Aku masak dulu ya Sayang, biar ga kemalaman!" ujar Fay mendorong tubuh Devan yang mulai bergairah.
"Yuks, aku bantu..." Devan menurunkan tubuh kekasihnya kemudian mereka bekerja sama menyiapkan makan malam sederhana namun terasa istimewa bagi keduanya.
Tiga puluh menit sudah berlalu dan semua hidangan telah tersaji. Keduanya memposisikan dirinya di tempat masing-masing.
"Masakanmu selalu yang terbaik!!" puji Devan berbinar menatap semangkuk nasi dengan lauk beef teriyaki kesukaannya.
"Selamat makaaan..." sahut Fay suka cita.
Malam ini tidak begitu naas bagi Fay, dia bahkan menertawakan nasib konyolnya. Suaminya bersama wanita lain, begitu pula dirinya saat ini bersama pria lain.
'Jangan salahkan aku mendua Tuan Smith... Aku hanya tengah belajar dari ahlinya!' batin Fay mencari pembenaran atas kelakuannya.
"Cheers..." sambut Fay saat prianya mengangkat gelas winenya.
__ADS_1
Fay meminumnya dalam sekali tegukan, Devan menatap lekat pada wanita yang sudah mencuri cinta darinya.
"Siapa yang sangat berani menyia-nyiakanmu Sayang?!"
Perkataan Devan membuat hati Fay kembali seperti di remas begitu kencang saat ini.
"Heh, mungkin aku belum di katakan cukup baik baginya." sahut Fay lirih.
"Dia sungguh buta!" maki Devan tidak terima.
"Lepaskan lah dia Fay... Aku bersumpah, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu... Aku akan menjagamu sepanjang sisa usiaku. Cintaku hanya milikmu Fay..." tutur Dev terdengar begitu tulus dan pilu.
Fay telah menjatuhkan air matanya, dia menghapusnya cepat. "Seandainya aku bisa meminta Tuhan untuk memutar kembali waktu. Aku ingin memperbaikinya... Aku sendiri yang akan menemukanmu dan menjadikanmu pria satu-satunya di hati dan hidupku!"
Fay terisak menutup wajah dengan kedua tangannya. Devan terdiam sejenak, dia tidak menyangka bisa mendengar hal manis itu dari mulut Fay.
"Fay..." Devan bangkit mendekat dan kembali bersimpuh di bawah tubuh kekasihnya yang masih terisak di kursinya.
Dengan lembut Devan menarik kedua tangan Fay, mengusap lembut permukaan kulut pipi dan membuang air mata wanitanya. "Kau tidak perlu meminta kembali ke masa lalu Sayang. Semua sudah menjadi sejarah yang tidak akan pernah kembali terulang..."
Dengan cepat Faye memeluk erat pria di hadapannya. Di saat semuanya terasa menghakimi hidupnya sepertinya hanya Devan yang benar-benar menariknya dari seluruh rasa sakit yang ia terima saat ini.
Fay kembali dibawa merasakan sakit yang pertama kali ia terima. Di saat keluarga Luke dengan penuh kasih sayang dan kelembutan memberikannya harapan akan hangatnya sebuah keluarga yang selalu di harapkan seorang yatim piatu seperti Faye namun dengan cepat kembali menjatuhkan angannya dan menerima kepalsuan dari sebuah keluarga.
Dia kembali ingat, Greic yang merupakan adik angkatnya selalu membuat masalah dengannya. Mengadukannya pada orang tua sehingga Fay selalu menerima hukuman atas sesuatu yang tidak benar-benar ia lakukan.
Puncaknya saat Fay mengenalkan kekasihnya Zayn dan berencana menikah dalam waktu dekat dengan tidak tahu malunya Greic kembali merebut apa yang di miliki Fay. Sialnya kedua orang tuanya berada di pihak anaknya tentu saja. Meminta Fay untuk merelakan Zayn pada adik angkatnya.
Tidak selesai disitu, Fay kembali harus menelan pil pahit. Greic dengan rencana jahatnya menawarkan Fay untuk membayar hutang perusahan Zayn pada Si Raja Bisnis Harvey Smith.
'Aku bersumpah, kalian akan mendapatkan balasan. Aku yakin karma tidak pernah salah menunjukan waktunya!' batin Fay menjerit penuh dendam.
"Sayang..." Devan melepas pelukan, mengusap kembali wajah sembab kekasihnya. "Bolehkah aku memilikimu saat ini juga?!" pinta Dev mengusap lembut bibir Fay.
__ADS_1
Fay bimbang, dia masih ingin bertahan demi harga dirinya. Hanya saja rasa sakit hatinya teramat dalam. Fay mengulas senyuman tipis membuat Devan tidak percaya atas respon kekasihnya saat ini.
"Apa disini ada pengaman Sayang?" bisik Fay memagut bibir Devan.
Percayalah Devan tengah bersorak dalam hatinya saat ini. Saking tidak percayanya Dev terpaku menatap Fay dengan tatapan sulit di artikan Fay.
"Kau serius Fay?!" tanya Devan lirih memastikan.
"Ya, kamu berhak mendapatkan jika kamu mau sekarang. Kamu selalu ada di saat terpurukku Dev." Fay kembali memeluk erat prianya dan menyandarkan kepala di dada bidang kekasihnya.
"Tapi mungkin kamu akan kecewa, aku bukan seorang gadis..." lirih Fay tidak percaya diri.
"Faaay..." hardik Devan cepat mendorong tubuh Fay dan menatapnya serius.
"Sayang, aku benar-benar mencintaimu... Tidak peduli bagaimana keadaanmu atau masa lalumu." ujar Devan serius.
"Jika kamu tidak ingin, aku tidak akan memaksa... Hubungan kita bukan sekedar friend with benefits yang tau mengambil keuntungan semata."
"Kau tahu Fay..." Devan mengangkat dagu kekasihnya.
"Aku jatuh cinta padamu sedari aku melihatmu di club bersama Vanesh. Rasanya ada sesuatu dalam dadaku yang membuat pipiku tergelitik dan malu!" ujar Devan tersipu membuat Fay semakin gemas melihat tingkah Devan.
"Aku menyetujui FWB dengan mu hanya sebagai batu loncatan... Karena aku─" Devan menatap penuh sayang pada wanita cantik di depannya. "Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan merasakan perasaan yang sama dengaku... Kamu akan jatuh cinta padaku Fay dan kita akan merajut mimpi dan asa kita untuk ke jenjang lebih serius lagi nantinya..."
DEG!!
Sudah berapa kali perasaan Fay di hantam keromantisan yang terus di tunjukan Devan padanya.
Fay mengunci bibir penuh Devan, tak lama keduanya bertautan mesra. Devan memapah Fay bangkit tanpa melepaskan tautan mereka, lalu dengan cepat menggendong wanitanya menuju kamar utama.
"Aaarrghh Devaaaan..."
"I love you Faye Yvonna..."
__ADS_1
To be continued...