Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 31 : Loser...


__ADS_3

"Ugghh!!"


Fay tersadar dengan pandangan yang masih kabur. Hanya saja bau disinfektan begitu kentara di hidung Fay dia meyakini dirinya berada di rumah sakit saat ini. Dengan susah payah Fay berusaha bangkit dari ranjang rumah sakit.


"Kamu sudah sadar Sayang?!"


Suara pria yang sangat di hafal Fay menghentikan gerakan tubuhnya. Seketika hatinya kembali di dera nyeri. Hal yang barusan dia pikirkan adalah dia berharap orang yang ada di sampingnya saat ini adalah suaminya nyatanya semua hanya angan semata.


"Aku sudah menyangka!" Devan segera mendekati Fay membantu wanitanya duduk bersandar. "Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu sendiri!!" gerutu Devan terdengar begitu mengkhawatirkan keadaan kekasihnya saat ini.


Di saat Devan masih terus melayangkan protes dan kekhawatirannya menjadi satu air mata Fay sudah tidak tahan untuk tidak jatuh dari tempatnya.


"Sayang?! Kamu sebenarnya ada apa?!" lirih Devan mengusap air mata Fay.


"Maafkan aku, aku terlalu banyak berbicara... Harusnya kamu tahu betapa takutnya aku saat mendengar petugas mengatakan kamu mengalami kecelakaan!" Devan segera memeluk kekasihnya.


Fay tidak merespon apapun saat ini, Fay sungguh lelah atas semua yang terjadi di hidupnya. Dia tidak mengerti mengapa harus saat ini?! Saat dia menjatuhkan hati pada orang yang salah.


"Fay, aku disini untukmu sayang... Jika kamu lelah maka beristirahatlah... Jika kamu sudah tenang kamu bisa menceritakan padaku apa masalahnya." Devan mengusap lembut punggung Fay yang telah bergetar hebat karena isak tangisnya.


Devan sendiri merasa masalah ini mungkin ada kaitannya dengan kekasih Fay. Hanya saja Devan begitu kesulitan mendapatkan informasi tambahan mengenai Fay.Mau tak mau hati Devan ikut terhimpit rasanya melihat kekasihnya dalam keaadan seperti sekarang ini.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Devan merasa tidak enak perasaan, dia teringat akan Fay. Wanitanya tidak mengabari dirinya apa sudah sampai rumah atau belum. Tanpa pikir panjang dia menghubungi kekasihnya. Betapa terkejutnya Devan yang menjawab panggilan adalah petugas medis yang mengabarkan bahwa Fay mengalami kecelakaan lalu lintas. Dengan secepatnya Devan menuju rumah sakit yang sudah di beritahukan sebelumnya.


"Dev... Aku minta maaf merepotkanmu..." Fay melepaskan pelukannya. Dia sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya, mungkin saja sudah mengering saat ini.


"Sayaang, aku tidak pernah merasa di repotkan selama ini. Aku justru senang... Aku ingin jadi orang yang pertama dan satu-satunya yang ada di sampingmu..."


Fay menutup mata perlahan, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya dia tidak perlu lagi membuka matanya maka semua kesakitan akan berakhir saat itu juga.


"Dev, aku lelah... Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri... Aku tidak ingin di ganggu siapapun..." sahut Fay lemah tidak bersemangat.


Fay benar-benar lelah, lelah berpura-pura kuat dan bisa mengatasi segalanya. Mulai saat ini sebisanya dia tidak ingin terlibat lagi dengan hal yang mungkin melukai perasaannya. Tidak dengan Harvey bahkan tidak juga dengan Devan. Fay butuh waktu sendiri menyembuhkan segala kesakitan yang menimpanya kali ini.


'Sebentar lagi pernikahan kontrakku akan tamat, aku harus mencari tempat tinggal baru. Tidak di kota dan negara ini. Aku harus keluar dan menjauh... Mungkin ini jalan yang terbaik...'


"Fay, apa kamu senang menyakiti dirimu sendiri?" protes Devan atas pengusiran wanitanya.


"Aku mohon Dev, kali ini saja..." pinta Fay terdengar pilu membuat hati Devan nyeri teramat nyeri.


Devan yang sudah begitu memprioritaskan Fay saja masih menerima penolakan seperti ini. Tapi pria itu tidak ingin menyerah memperjuangkan cintanya. Dia yakin tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.


"Baiklah sayaang, aku akan menunggu di luar ya..." sahut Devan lembut.

__ADS_1


"Tidak Dev, tinggalkan aku sendiri... Aku butuh sendiri... Aku lelah aku mohon..." hardik Fay sedikit berontak terdengar depresi.


"Oke aku pulang, aku akan kembali lagi besok. Aku akan terus aktifkan ponselku. Jika kamu butuh sesuatu hubungi aku, aku akan segera datang untukmu. Walau sudah jam malam sekalipun!" tukas Devan panjang kali lebar membaut Fay mengulas senyum lemahnya. Devan tidak pernah cacat dalam menghargai keputusannya.


"Te ri ma ka sih Dev, teri ma ka sih..." sahut Fay terbata.


"With pleasure Honey... I love you..." Devan mencium kedua tangan Fay lembut penuh rasa sayang.


'Maafkan aku Devan, aku tidak bisa mengontrol hatiku untuk memberikan cintanya pada siapa. Aku hanya bisa menyalahkan waktu, mengapa aku tidak bertemu denganmu lebih dulu...'


Devan sudah berlalu dari ruang perawatannya. Fay menatap nanar ke arah luar jendela. Beruntung tempatnya di rawat merupakan ruang VIP, jendela tanpa penutup tengah menampilkan gemerlapnya kota XY.


---


Ceklek!


Harv telah sampai di ruangan dimana istrinya tengah di rawat. Tanpa mengetuknya lebih dulu seperti biasa, baginya tidak perlu ijin dia berhak disana saat ini juga.


Setelah keluar dari kediaman besar, Harv segera melacak keberadaan Fay. Betapa terkenutnya dia saat mengetahui bahwa Fay terlibat kecelakaan lalu lintas.


Harv memberi perintah pada Will mengurusi segala rupa kecelakaan itu sedangkan dia langsung melesat menuju rumah sakit dimana istrinya dirawat.


"Cutie... Apa yang terjadi?!" Harv yang sebelumnya tergesa kini terpaku melihat istrinya berbaring di ranjang rumah sakit diam termenung bahkan tidak merespon dirinya sama sekali.


"Cutie... Maafkan aku..." Harv duduk di tepi ranjang mencoba menggenggam tangan istrinya.


Fay menepis segera membuat Harv tersentak tidak percaya. "Cutie, apa kamu marah padaku?!"


Setengah berteriak Harv bertanya pada istrinya. Fay tidak juga ingin membalasnya.


'Bagaimana jika aku berpura-pura lupa, mungkin dia akan membebaskanku!' batin Fay menerka.


"Siapa kamu!" ucap Fay ketus pada akhirnya membuka mulutnya.


DEG!


Harv semakin di buat serba salah, emosinya terpancing setelah seharian ini pikirannya kalut tak berkesudahan.


"Jangan pernah mempermainkanku Faye! Aku sudah menemui dokter yang menanganimu dia mengatakan kamu hanya terbentur dan hanya butuh istirahat saja!!" cerca Harv membuat Faye terkekeh lirih semakin membuat Harv merinding dibuatnya.


"Jika kamu marah katakan dan hukum aku! Jangan acuhkan aku Faye Yvonna!!" pekik Harv frustasi dengan sikap Fay yang seperti kekanak-kanakan ini.


"Aku lelah Tuan Smith, bisa kah anda keluar dari ruanganku." tutur Fay dingin tanpa menatap suaminya.

__ADS_1


"FAYE!!"


Fay telah menjatuhkan air matanya. "Jika anda bersikeras aku terpaksa memanggil security mengusir anda!"


"KAU MENGANCAMKU HAH?! Siapa yang berani padaku disini!!" maki Harv di depan Fay.


Fay berbalik menatap wajah suaminya yang selalu terasa angkuh atas apapun. Tanpa kata sanggahan lainnya Fay segera menekan tombol emergency untuk memanggil perawat ke ruangannya.


"Apa yang kamu lakukan Honey?!" Harv tidak menyangka Fay benar-benar berani padanya saat ini.


"Keluar kataku!" pekik Fay mengusir suaminya.


Betapa miris hidupnya, di perlakukan lembut oleh selingkuhan namun sebaliknya suaminya sendiri justru selalu membuat dia merasakan sakit hati tak terkira.


"PERGI DARI SINI!!" jerit Fay kemudian.


Harv terpaku melihat perubahan sikap istrinya, dia tidak pernah tahu sikap berontak Fay seperti ini. Selama ini yang Harv tahu istrinya sosok yang penurut dan manja yang selalu bisa menyenangkan Harv.


Selama ini Harv hanya mengetahui sisi Fay seperti apa yang di harapkan Harv selama ini. Tanpa pernah tahu keadaan Fay yang sesungguhnya. Hati Harv seperti tertusuk sembilu mengetahui kenyataan istrinya pandai menyembunyikan keadaannya.


Harv tidak pernah sekali pun mendengar keluhan Fay jika bukan karena Harv meminta penerus dan berhenti bekerja Fay tidak pernah menceritakan hidupnya selama ini.


'Fay... Maafkan aku terlambat menyadarinya...'


"PERGI DARI SINI PERGIII!!" jerit Fay semakin tidak terkendali.


Harv termangu sulit menggerakkan tubuhnya melihat istrinya Fay saat ini tengah menjerit dengan menjambak rambut dan menggelengkan kepalanya tak beraturan.


"Tuan... Nyonya... Ada apa ini?!" Petugas medis sudah berada di ruangan Fay.


"USIR DIAA... BAWA DIA PERGI... PERGI SEKARANG JUGA PERGIII!! HUHU..."


Harv masih berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun bahkan suara angkuh sebelumnya lenyap melihat istrinya seperti ODGJ saat ini.


"Tuaan... Toloong demi pengobatan Nyonya anda harus─"


"PERGIII KALIAN SEMUA PERGIII AAARRRGHHH!!"


"Honeey..." lirih Harv pilu.


Dengan berat Harv melangkahkan kakinya keluar ruangan, dia sempat berbalik badan melihat beberapa perawat tengah memberikan suntikan penenang. Fay pingsan seketika, hati Harv teriris saat melihatnya.


"Maafkan aku Sayang..."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2