
Fay dan sahabatnya telah berada di sebuah club malam yang cukup terkenal di kotanya. Fay sengaja melakukan reservasi di area tertutup karena mereka akan membahas perihal yang begitu pribadi. Fay dan Vanesha sudah memesan minuman favorit keduanya untuk menemani mereka dalam sesi mencurahkan hati Fay saat ini.
"Aku sudah menikah." lirih Fay menatap nanar ke arah minumannya.
Dengan segera Vanesha membuka mulutnya tidak percaya, dia juga menggelengkan kepalanya masih terlihat speechless untuk sekedar menyahut ucapan Fay.
"Impossible right?" sahut Vanesh pada akhirnya tetap menatap dengan tidak percaya. "Jika benar, mengapa kamu sangat berani melakukan hubungan terlarang dengan Devan? Bahkan sudah begitu sangat dekat seperti tadi?" cerca Vanesh kembali mengelak tidak percaya.
"Heh..." Fay terkekeh sejenak. "Aku menikah hanya karena sebuah kesepakatan. Aku di jebak oleh mantan kekasih dan adik angkatku. Aku tak lebih hanya istri di atas kertas atau lebih tepatnya penghangat kasur yang legal!" Fay menunduk pilu meratapi kembali nasipnya.
"Oh my goodness!" Vanesh menutup mulut dengan kedua tangannya semakin takjub dengan jawaban mengejutkan dari Fay.
"Aku sangat sedih Van..." Tanpa di minta air mata itu jatuh secepatnya.
Vanesha merasa iba, dia segera memeluk sahabatnya erat.
Jika kau minta aku menjauh
Hilang dari seluruh memori indahmu
Kan kulakukan semua walau tak mungkin sanggup
Bohongi hatiku...
Sebuah lagu yang membuat keadaan mereka semakin terasa sendu membuat Fay tak kuasa menahan laju air matanya. Tubuhnya semakin bergetar hebat, hatinya terasa nyeri saat ini.
Saat ku rindu ku coba tak rindu
Demi bahagiamu yang tak membutuhkanku
Entah sampai dimana sanggup ku kan bertahan
Tuk bisa tanpamu...
(Bohongi Hati - Mahalini)
"Aku sangat ingin mengakhirinya, tapi sialnya aku sudah menjatuhkan hatiku padanya. Huhu..." tutur Fay di tengah isak tangisnya.
Vanesh merasakan kesedihan sahabatnya, dia ikut menjatuhkan air matanya terus mengusap lembut punggung Fay menenangkannya. Setelah cukup menenangkan hati temannya, Fay melonggarkan pelukan di dalam dekapan sahabatnya.
"Siapa dia?" tanya Vanesh memberanikan diri bertanya saat ini juga.
"Suamiku?" tanya Fay meyakinkan. "Huh, kamu tidak akan percaya jika aku beritahu siapa suamiku sekarang." kekeh Fay dengan senyuman pilunya.
"Ya elah tinggal bilang aja sih siapa! Lu takut gue tikung apa gimana hm?" canda Vanesh membuat Fay tertawa.
__ADS_1
"Terus Devan itu gimana ceritanya... Kok lu bisa seberani ini, gimana kalau suami lu tahu kelakuan lu sekarang?!" cibir Vanesh sedikitnya mengkhawatirkan kondisi Fay.
"Kan elu yang ngajarin friends with benefit, awalnya kami deket biasa aja cuma lama-lama malah jadi nyaman, bahkan pria itu menjadi pelarianku di saat aku begitu sedih seperti ini." sesal Fay.
"OMG! Gak gitu konsepnya anjiiir... FWB buat yang single, elu udah double bangsaaaat!" pekik Vanesha mengacak rambutnya tidak percaya akan idenya menjodohkan Fay dengan bosnya berujung seperti ini.
'Ini salah Fay, dia tidak jujur padaku akan statusnya!!' jerit Vanesh dalam hatinya.
Fay terkekeh melihat respon ketar-ketir Vanesha yang memang membuat Fay dengan berani berhubungan gelap seperti ini.
"Siapa?" tanya Vanesh lagi masih terlihat kepo. "Apa aku mengenalnya? Kamu bilang aku pasti gak akan percaya." cicitnya kemudian tiada henti jika sudah meng-ghibah.
"Huh, dia Harvey Smith!"
Ppffuuuuufffh!
Vanesh yang tengah menenggak air mineralnya tiba-tiba menyemburkan air dalam mulutnya. Fay sampai di buat tersentak oleh teman lucknut-nya itu. "Basaaah anjiiiirrr!" maki Fay memukul bahu Vanesh.
"Fu*ck Faye Yvonnaaa... Bangun kisanaaak, tidurmu terlalu miring!" ejek Vanesh tentu saja tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.
'Dia pikir siapa Tuan Muda Smith? Bagaimana bisa Faye jadi istrinya...' batin Vanesh tetap tidak ingin percaya.
"Lu kalau halu liat-liat dong... Apa gak sekalian kalau suami lu itu Bias Idol K-Pop youu~" cibir Vanesh gemas.
"Lu nyatut nama Tuan Muda Smith berabe entar urusan! Bisa kena pencemaran nama baik oy!"
"Kamu ingin bukti... Panjang umur Tuan Smith, dia menghubungiku!" Fay memperlihatkan ponsel bobanya yang terlihat nama suami di layar dengan tulisan Mr. H calling...
"Halo..." sapa Fay segera menjawab dengan mengaktifkan loudspeaker-nya agar Vanesh percaya padanya.
"Kamu sudah pulang Cutie?"
Vanesha membuka mulut dan matanya lebar saat suara husky di sebrang sana menjawab sambungan.
"Not yet... Aku di undang temanku minum... Dia tengah patah hati!" bual Fay membuat Vanesha berdebar tidak karuan.
Sedangkan di sebrang sana Harvey mendadak gelisah, mulai saat ini dia akan terus curiga pada istrinya setelah apa yang dia temukan kemarin.
"Who?" tanya Harv dingin.
"Vanesh, siapa lagi... Apa Tuan Smith sudah sampai?" tanya Fay melancarkan serangan meyakinkan Vanesha.
"Ya, aku sudah sampai di Inggris dan aku sangat merindukanmu Cutie..."
Jantung Fay dan Vanesh berdetak kencang seirama seolah tidak percaya apa yang tengah mereka dengar dari mulut manis Harv saat ini.
__ADS_1
"Halo... Cutie..." Harv kembali memanggil istrinya yang mendadak diam.
"Ya..." sahut Fay singkatdan dingin.
"Apa yang kamu lakukan hm? Ingat jangan melanggar batasan, jika tidak ingin mendapat konsekuensinya Cutie..." tukas Harv setengah emosi.
"Aku hanya sedang mencerna kalimat Tuan Smith yang mengatakan merindukanku... Apakah itu nyata?" tutur Fay sendu.
Seketika hati Harv merasa di remas, namun dia menyeringai mendapati kenyataan bahwa istrinya masih merajuk saat ini.
"Ah, hahaha maaf aku membuat Tuan Smith kesal..." sindir Fay.
"Cutie, apa kamu marah? Apa yang kamu inginkan aku akan kabulkan tapi saat ini pekerjaanku sedang padat. Mengertilah..."
Fay sudah meneteskan kembali air matanya, Vanesh merasa iba pada sahabatnya. 'Ternyata menjadi istri Tuan Smith tidak seindah kelihatannya.'
"Aku mengerti Honey, istirahatlah... Jangan lupa dengan jadwal makanmu, Tuan Smith harus terus bekerja keras agar tidak menggoyah kartu ATM-ku..." cicit Fay sekuat hati tidak terdegar seperti menahan tangis.
"Hahaha... You too... Kita akan bertemu lusa Cutie..." tukas Harv lembut.
"Ya... Selamat bertemu di mimpi Honey, miss you too... Aku berharap aku terbangun dan aku bisa kembali melihat tubuhmu seperti tiga hari kebelakang..." tutur Fay menggetarkan hati Harv.
Harv tidak langsung menjawab, hatinya merasa dia ingin saat ini juga dia kembali menemui istrinya dan mendekap Fay seperti semalam saat ia terlelap.
"Aku akan segera pulang Cutie... Ingat jangan melakukan tugas berat, di rumah sudah ada maid..."
"Thank you Honey... Love you..." lirih Fay.
DEG!
Braaaak!
Saat mendengar kata singkat itu ponsel Harv terlepas dari genggaman tangannya dan terjatuh begitu saja hingga menimbulkan kerusakan tambahan setelah sebelumnya dia lempar.
"AAAHHH SHIIITTT!" maki Harv ponselnya mati.
Itu pertama kalinya dia mendengar kalimat cinta dari Fay yang terdengar begitu tulus dan nyata. Biasanya Fay hanya akan mengatakan seolah tengah berkata berterima kasih saja bukan pernyataan cinta seperti barusan. Ingin rasanya Harv benar-benar pulang saat ini juga, dia ingin mendengar kembali kata yang membuat seluruh saraf di tubuhnya menghentikan fungsinya.
Sedangkan disisi lain di club, Fay kembali menjatuhkan air mata menutup ponselnya yang mati sepihak. Dia pikir Harv tidak menginginkan pernyataan terima kasih dan cintanya.
"Aku akan tetap tidak percaya jika saja kamu tidak memperdengarkannya barusan padaku..." ucap Vanesh sama sendunya, melihat sahabatnya menangis hatinya ikut teriris.
"Aku sedih Van... Huhu..."
Bruukk!
__ADS_1
Fay kembali memeluk erat sahabatnya dan menangis meraung sepuasnya disana.
To be continued...