Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 60 : Jatuh Cinta?


__ADS_3

"Haha, sayaaaang..."


Angella terbahak saat tuan Jie mengutarakan dirinya mungkin telah jatuh cinta pada pria di hadapannya.


"Tiba-tiba bilang aku jatuh cinta?! Apa itu harapanmu?!"


Dengan secepat kilat Angella bisa merubah raut wajahnya, tuan Jie lupa siapa wanita ranjangnya kali ini. Angella adalah artis berbakat yang di nobatkan menjadi artis terbaik tahun ini. Bukan hal sulit baginya untuk bermuka dua dan berpura-pura.


"Bagaimana mungkin aku mengharapkan pria yang sudah memiliki istri." lanjut Angella seolah tengah mengejek.


Tapi tidak dengan hatinya, rasanya ada satu rasa yang membuatnya tidak nyaman. Dia hanya tidak ingin mengakuinya, mengakui bahwa mungkin saja benar Angella mencintai pria yang sudah memaksanya menjadi wanita simpanan. Apa yang bisa di harapkan dari pria paruh baya di hadapannya? Dia sudah memiliki keluarga, bahkan putrinya hanya terpaut beberapa tahun saja dengan dirinya.


"Heh... Oke." Tuan Jie beranjak dari ranjang.


"Apa kamu akan pergi?" tanya Angella sedikit tidak rela.


"Ya," sahut tuan Jie dingin.


Pria itu mengenakan kembali pakaiannya dan seperti ucapannya barusan dia akan pergi dari mansion Angella.


"Apa kamu berniat mencari wanita lain? Atau kembali pada istrimu?" Angella terdengar begitu cemburu saat ini.


Tuan Jie berbalik menatap Angella dengan seringainya. "Haha, apa kamu cemburu Sayang? Bukankah kamu bilang tidak menyukai pria tua sepertiku? Terserah aku mau pergi kemana... Lagian sudah seminggu aku tertahan disini!"


Pernyataan tuan Jie sukses menghujam jantung Angella. Di saat wanita itu menaruh harapan atas hidupnya pada pria yang membuatnya jatuh ke dasar jurang nyatanya tak seindah yang ia kira.


"Heh!" Angella terkekeh. "Aku pikir aku hanya akan jadi wanita kesayanganmu, ternyata aku salah..." tutur Angella pilu.


Siapa sangka tuan Jie tersentuh dengan ucapan dan sikap Angella saat ini.


"Jadi kamu mau mengakui perasaanmu hm? Apa ini rasa cemburumu?" Tuan Jie mendekat dan mengangkat dagu wanitanya.


"Apa Tuan Jie belum cukup puas dengan hanya menerima pelayanan dariku saja?" Angella justru mengalihkan pembicaraan mereka.


Tuan Jie merasa kalah kali ini, dia kembali memagut bibir menggoda wanita simpanannya. "Jika begitu maka puaskan aku saat ini. Mungkin aku akan berubah pikiran untuk meninggalkanmu."


"I'll do, We'll fly again, just you and me... We become a fire and we're lovely!!"


Kata manis yang keluar dari mulut Angella sungguh membuncah perasaan tuan Jie. Selama dia berhubungan dengan wanita ranjang manapun tidak pernah mereka melontarkan kata manis sebagai pembuka atau basa-basi yang tulus seperti yang di lakukan Angella selama ini.


Hal yang di benci tuan Jie bahwa mereka hanya mengambil keuntungan semata, tuan Jie akan menjadi sponsor mereka dan pria itu menerima kepuasan fisiologisnya. Bahkan hal yang selalu dia tutupi selama ini tentang pernikahan hambarnya, bahwasanya nyonya Li tidak pernah sekalipun memperlakukannya dengan manis. Tidak seperti Angella yang memiliki kriteria penuh menjadi istri yang di idamkan presidir JiE itu.


"Aku sungguh gegabah menjadikan artis terbaik menjadi wanita ranjangku." ujar tuan Jie menatap Angella sendu.

__ADS_1


"Aku sampai tidak bisa membandingkan ucapanmu ini kenyataan atau tengah membaca skrip semata? Rasaya tidak ada bedanya!" sambungnya menyesap kembali bibir Angella yang kini diam seribu bahasa.


"I love you Baby, selamanya kamu akan menjadi kesayanganku!" tutur tuan Jie tulus menghujam perasaan Angella.


Angella terpaku dengan ucapan singkat syarat akan makna yang mungkin tidak benar adanya. Dulu Harvey pernah mengatakan dia mencintainya, nyatanya pria itu justru lebih memilih wanita lain yang baru dia kenal dan membangun rumah tangga dengan harmonis.


Sekuat tenaga Angella menahan laju air matanya, tahun ini hidupnya bagai roller coaster. Dia jungkir balik tidak menentu tanpa bisa ia pastikan.


"Bisakah aku mempercayai ucapan manis Tuan Jie barusan?" tanya Angella menggoda menautkan kembali kedua tangan di belakang tengkuk leher tuan Jie dan mengusapnya lembut.


"Terserah, kamu ingin percaya atau tidak..." sahut tuan Jie datar. "Selama ini aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada siapapun. Bahkan pada istriku sekalipun!"


DEEEG!!


"Jika begitu, bisakah kamu ceraikan istrimu dan jadikan aku satu-satunya wanita milikmu!" tukas Angella lantang meminta berlebihan.


"HAHAHAHA!" gelak tawa tuan Jie memecah ketegangan sebelumnya. "Aku akan mengusahakannya Baby..." bisik tuan Jie di ceruk leher wanitanya. "Sekarang bukankah kamu bilang kita akan memadamkan api dan terbang kembali?!"


Angella merona atas perkataan lembut pria dihadapannya dan kembali membuatnya berpikir ulang untuk membuang gengsinya.


"Bagaimana jika aku jatuh cinta denganmu Tuan Jie?" lirih Angella spontan tanpa pikir panjang.


"Aku ingat barusan ada yang bilang semua itu kemustahilan. Hahaha!"


---


Beberapa hari kemudian...


Di penthouse Fay, terlihat dia dan suaminya tengah melakukan sarapan bersama. Tak lama Fay bangkit lebih dulu dan menghampiri suaminya tak lama mengecup pipi pria maskulinnya dengan singkat.


"Aku berangkat duluan ya..." pamit Fay pada suaminya.


"Berhentilah bekerja..." cegah Harv menarik satu lengan Fay.


Fay kembali menunjukan raut wajah tidak sukanya, dia menghembuskan nafas kasarnya.


"Honeeey, kita sudah sepakat sebelumnya bukan!" Fay paling tahu kelemahan suaminya, dia tinggal merengek di depan Harv maka pria itu tidak akan bisa menolaknya.


"Tapi kamu selalu sakit akhir-akhir ini!" Harv masih tidak ingin mengalah begitu saja.


Fay terkekeh lirih menundukan wajahnya, dia kembali mendekat dan berbisik di telinga prianya.


"Bukankan kah sayang tahu sendiri alasan mengapa aku selalu jatuh sakit?!" goda Fay membuat tubuh Harv meremang seketika. "Jika ingin aku baik-baik saja maka jaga dengan baik perasaanku ya Tuan Smith!" Fay mengapit wajah Harv dengan jemari lentiknya membuat bibir prianya mengerucut, dengan lembut Fay menciumnya.

__ADS_1


Harv begitu menyukai tingkah agresif wanitanya seperti ini, dia melingkarkan tangan di pinggang ramping Fay justru menekan tengkuk leher Fay meminta lebih.


"Jika begitu, pastikan dirimu baik-baik saja ya sayang!" pesan Harv terdengar masih begitu mengkhawatirkan suaminya.


"Siaaap bosquu!!" Dengan mengangkat tangan menghormat pada suaminya Fay membuat Harv terkekeh dengan sikapnya saat ini.


"Ijinkan aku mengantarmu ya?!" pinta Harv masih enggan berpisah dengan istrinya setelah beberapa hari keduanya selalu bersama.


"Honeeeeeey!!" rengek Fay menolak.


Ibu mertunya telah kembali kekediaman besar, setelah memastikan Felly baik-baik saja wanita paruh baya itu kembali pulang ke tempatnya. Setelah mendapat kabar dari Yun, dokter pribadi Harv nyonya Jane cukup jelas mengetahui bahwa Fay benar-benar hamil cucunya. Harv mendengus kesal saat mencuri dengar percakapan mereka, tapi dia segera mengerahkan anak buahnya untuk melindungi istrinya yang tengah berbadan dua. Harv begitu bahagia membayangkan di dalam perut istrinya terdapat janin penerus dirinya. Keduanya sama-sama tengah memainkan peran masing-masing dalam kepura-puraan.


"Aku akan melindungi kalian dengan segenap jiwa dan ragaku!!" gumam Harv saat melihat bayangan istrinya menghilang di balik pintu.


"Will... Menurutmu apa anakku laki-laki atau perempuan?!" tanya Harv serius.


William tengah mengerutkan keningnya, dia sendiri tidak mungkin mengetahuinya. Hal yang harus dia lakukan saat ini tentu saja memberikan jawaban yang bisa menyenangkan hati tuannya agar hidupnya selamat, aman dan damai.


"Saya tidak pandai menerka Tuan, tapi sepertinya baik laki-laki ataupun perempuan dia akan menjadi anak yang hebat!" tutur Will bersemangat.


Harv melebarkan senyumnya dengan pujian dari asistennya. Harv bangkit di ikuti Will, keduanya juga sudah di sambut dengan banyaknya pekerjaan yang tertunda selama kesehatan Fay menurun.


Kantor XCorp, 07.45 AM.


"Lu ko akhir-akhir ini sering bolos?!" sambut Vanesh segera setelah melihat batang hidung sahabatnya. "Kamu baik-baik aja kan?!" tanya Vanesh sedikit gelisah.


"Iya, aku hanya tidak fit saja." sahut Fay sumringah. "Siang ini maksi bareng ya... Pengen ceritaaaa!" Fay merangkul lengan sahabatnya kemudian mereka terlibat percakapan random lainnya dan menghentikannya saat jam efektif bekerja berlaku.


"Devan kemana?!" tanya Fay seketika saat melewati ruangan bosnya tidak ada siapapun disana, bahkan sudah jam sembilan ini pria itu belum juga menampakan dirinya.


'Tidak biasanya si bos ini telat?' batin Fay merasa tiba-tiba gelisah.


"Oh iya, dia ga ada bilangkah?!" Vanesh menatap janggal pada sahabatnya. "Denger-denger dia di tugaskan bisnis keluar kota." sambung Vanesh segera.


"Owh..." Perasaan Fay sedikit tidak nyaman. 'Sejak kapan ada perjalanan bisnis di bulan ini?'


Fay memeriksa ponselnya, benar saja Devan menghubunginya beberapa kali kemudian dia juga mengirimkan pesan singkat. Hanya saja semuanya tidak mengarahkan dia ada tugas keluar kota. Hanya menanyakan kabar dan pernyataan rindunya. Fay menatap nanar ke ruangan Devan, dia sudah putuskan harus mengakhiri hubungan gelapnya. Dia tengah mengandung dan tidak mungkin berbuat hal hina itu disaat dirinya berbadan dua dan bahkan mengandung benih suaminya.


'Maafkan aku Dev, harus bagaimana aku menghadapimu kelak?'


'Aku sungguh sangat jahat padamu... Semoga kamu mau mengampuniku.. Aku selalu mendoakan kebahagian untukmu...'


Walau bagaimanapun ini salahnya, jika saja dulu dia tidak mengijinkan Dev hadir di hidupnya dan tidak memberikan harapan seperti ini mungkin dia tidak akan merasa sebersalah ini pada atasannya itu. Terlebih, Fay sendiri mengakui Devan benar-benar mencintainya. Selama enam bulan bersama pria itu tidak melakukan hal yang menyakiti Fay. Justru menurut saat Fay melarang pria itu melakukan penyatuan walau sudah sangat berhasrat. Jika Devan tipe pria bajingan tentu lain ceritanya...

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2