
Devan sudah mengantarkan Fay di depan mansionnya. Keduanya masih terdiam tanpa kata, wanitanya juga masih berada di dalam mobilnya.
"Thanks... Aku tanpamu bagai sayur sop tanpa masa*ko" canda Fay di depan wajah Devan yang sudah memerah.
"Aku gak butuh cuma thanks!"
Dengan cepat Devan mendorong tubuh Fay hingga batas pintu mobilnya. Pria itu melesakkan lidahnya ke dalam mulut mungil wanita pujaannya. Sebagai wanita yang tahu diri dan tahu balas budi dia melingkatkan kedua tangan menyambut kekasihnya bertukar saliva setelahnya.
Seperti yang sudah-sudah keduanya akan bercumbu sampai 20 menit lamanya. Terkadang Fay ingin rasanya Harv memergokinya dan melempar surat perceraian mereka. Dengan begitu Fay terlepas dari jeratan Tuan Angkuh dan Dingin itu.
"Oughh Sayang, apa kamu tidak ingin melakukan penyatuan denganku hmm?!" Devan mendaratkan ciuman panas di sekujur tubuh Fay.
"Aku pikir hubungan ranjang kalian begitu dingin ya sampai mencariku?!" Pertanyaan Devan sukses membuat kedua netra Fay membulat sempurna.
Fay menahan tawanya, seandainya Devan tahu bahwa derit ranjangnya selalu aktif jika suaminya berada disampingnya. Aksi ranjang mereka juga bisa dibilang panas membara!
"Begitulah..." sahut Fay asal tidak ingin membantah maupun menjelaskan.
"Aku pulang dulu ya, ati-ati di jalan... Jangan menghubungi ku akhir-akhir ini dia selalu mengabsenku." titah Fay sebelum benar-benar meninggalkan pria simpanannya.
Sakit rasanya Devan diperlakukan bebar- benar seperti pria simpanan kekasihnya. Tapi mau gimana lagi, dia tak sanggup jika harus berpisah dengan Faye.
"See you tomorrow Honey!" pamit Fay mencium pipi Devan dan berlalu menuju unit mansionnya.
"Fay... Kapan kamu bisa melihat kesungguhan hatiku... Melepaskannya dan menjalin hubungan serius denganku... Aku bersumpah hanya akan membahagiakanmu..." Devan mendongak frustasi dengan keadaannya.
---
Di dalam rumahnya, seperti biasa dia akan langsung membersihkan dirinya menaruh pakaian kotor di keranjang bajunya. Dia menatap panturan dirinya di cermin besar kamar mandi.
"Hubungan apa yang kamu harapkan Faye? Aku begitu terluka melihatnya menggandeng wanita lain, sedangkan aku pun demikian!"
__ADS_1
Fay menelan salivanya serat, "Harusnya aku tidak menjatuhkan hatiku begitu cepat hanya karena ucapan manisnya. Aku terkadang lupa siapa dia..."
Fay kembali meneteskan air matanya, dia langsung membenamkan diri dalam bak mandi membasuh tubuh kotornya. Dia berharap Harv tidak lagi datang menemuinya dengan begitu dia akan terbiasa kembali seperti sebelumnya.
Setelah selesai membersihkan dirinya Fay bersiap menuju ranjang besarnya yang dua malam terakhir begitu hangat dan terasa penuh cinta. Nyatanya semua hanya perasaan semu semata. Fay merebahkan dirinya tanpa ingin peduli lagi. Walau demikian air matanya terus saja mengalir hingga dia lelah sendiri.
"Kamu berharap aku melahirkan putramu? Bermimpilaaah!"
Fay tertidur setelah dia puas menghabiskan pasokan air mata dan penyesalannya. Tanpa dia ketahui suaminya kembali mengunjunginya.
Ceklek...
Harv tersenyum dan mendekati istrinya, dia menyadari wajah sendu istrinya yang masih membekas basah oleh air matanya. Dengan perlahan tanpa membangunkan istrinya Har menyeka sisa air mata Fay.
"Maafkan aku Cutie..." Harv mencium kening Fay mesra.
Sebelum membersihkan dirinya Harv menaikan selimut di tubuh wanita kesayangannya mulai saat ini. Harv tengah berendam di dalam kamar mandi masih tersisa ingatan dimana Fay di gandeng mesra oleh pria yang rupanya samar. Ingin rasanya Harv menghajar pria itu, hanya saja dia tahu Fay tengah kecewa dan memergokinya langsung. Selama ini Fay hanya tahu dari gosip yang beredar, tak pernah Harv duga ternyata Fay berada di Mall yang sama dengannya. Harv telah selesai dan segera beristirahat di samping Fay, Harv memeluk erat wanitanya dan terpejam setelahnya.
Keesokan harinya...
"Ga usah baper please... Dia kan Aligator terus aku crocodille betina jadi dah lah..." Fay menyemangati dirinya memulai hari dengan seperti biasanya menyiapkan sarapan pagi.
Terdengar derap langkah kaki suaminya mendekat, Fay bersiap berangkat bekerja.
"Kamu tidak membangunkanku?" keluh Harv dengan suara husky prianya.
Fay membalikan wajahnya menatap Harv dingin. "Oh maaf, aku tidak tahu kamu pulang ke rumah... Bukankah biasanya kamu tidak di rumah?"
Harv menyeringai, dia tahu istrinya tengah dalam mode marah padanya. Dirinya pun demikian, kali ini dia harus benar-benar menjaga emosinya jangan sampai seperti sebelumnya melukai Fay.
"Apa aku tengah berbuat salah Cutie?" Harv semakin mendekati istrinya.
__ADS_1
"Tidak." sahut Fay cepat. "Memang Tuan Muda Smith bisa melakukan kesalahan? Anda selalu terlihat sempurna di mataku!" puji Fay terdengar sarkas di telinga suaminya.
Fay segera menyambar sling bag dan memakai sepatunya mengacuhkan suaminya saat ini. Harv tersulutkan emosinya dengan cepat atas pengacuhan Fay seperti ini. Di dalam dirinya terus saja mencurigai istrinya bahwa perhatiannya akan tercurah pada pria yang bersama dengan Fay malam tadi.
Bruk!
Fay tersentak saat tangannya di tarik kasar oleh suaminya. "Kamu berani mengacuhkanku hm?" tukas Harv menekan.
Fay lupa siapa prianya, dia tidak mungkin meminta hak untuk di hargai dan di hormati segala keputusannya. Selama ini semua hanya berlaku untuk tuannya saja, dia sebagai budak tentu harus selalu patuh.
"Ah, Sayang... Aku akan terlambat... Maafkan aku, sepertinya mood aku ancur karena aku akan mendapat tamu bulananku!" Dengan secepat kilatan cahaya Fay kembali merubah raut wajah dan sikapnya. Kembali menjadi Fay si istri tuan muda Smith yang patuh.
"Aku sudah menyiapkanmu sarapan di atas meja, makanlah sebelum dingin..." Fay melingkarkan kedua tangan di belakang tubuh kekar suaminya dan dengan terpaksa dia berinisiatif mencium bibir prianya.
Tiba-tiba saja mood Harv kembali seperti semula, ingin rasanya menahan istrinya lebih lama hanya saja Fay sudah melesat gesit keluar saat mengetahui suaminya sudah sanagt berhasrat. Harv mendengus kasar, rasanya sulit di percaya dia bisa mengalami perasaan seperti ini.
Sepanjang jalan Fay merutuk di dalam mobilnya, memaki suami dan menjelekkannya. Saking emosinya dia bahkan selalu membunyikan klakson mobilnya merusuh pada pengendara lain dia sungguh tidak peduli jika harus berurusan dengan pihak kepolisian atas tindakannya saat ini.
"Harusnya aku tidak keluar semalam! Aku lebih baik tidak mengetahuinya bangsaaat!!"
Braaak!
Fay membanting pintu Maserati Granturismo miliknya dengan kasar. Dia sungguh seperti akan menerima tamu bulanan jika seperti ini. Rasanya dia ingin kaur melarikan diri dari dunia ini menuju dunia lain rasanya.
Brukk!
Lagi-lagi Fay selalu saja berurusan dengan tubrukan di saat menuju lift yang hanya ada satu di gedung kantornya itu. Beruntungnyaaat ini dia justru bertubrukan dengan kekasih gelapnya.
"Pagi Sayang... Sepagi ini kamu godain aku..." bisik Devan lirih di telinga Fay.
"Manaaa adaaa..." pekik Fay menahan malu.
__ADS_1
Beberapa orang memperhatikan interaksi keduanya, bisik-bisik tetangga mulai terdengar di telinga keduanya. Devan melayangkan tatapan dingin dan menekannya membuat atmosfer di lift berubah seketika. Semua orang yang menggunjing menutup mulut mereka. Fay mengulumkan senyuman tak sadar justru semakin memanasi keadaan dengan merangkul lengan Devan. Devan mendadak tersipu dengan tingkah Fay yang memang sangat senang meladeni orang yang berbuat rusuh padanya.
To be continued...