
"Terima kasih Harv, kamu sudah boleh tinggalkan aku..." lirih Angella sendu.
Harv membawa Angella ke salah satu hotel di bawah anak usaha SG Company. Angella merasa bahwa mungkin dia masih ada kesempatan mendapatkan kembali perhatian pria di dekatnya saat ini.
Angella sangat mengenal Harv sejauh ini, Harv memiliki kepedulian yang besar padanya. Apalagi jika tahu asam lambung wanita itu kambuh.
"Will, bawakan aku beberapa makanan dan obat pereda asam lambung!" titah Harv pada asistennya.
Di sebrang sana Will hanya bisa mengabulkan semua permintaan tuannya. Dia tidak berhak menasehati tuannya.
Sudut bibir Angella terangkat, hatinya yang semoat kecewa kembali dibuat percaya bahwa Harv masih memiliki perasaan padanya. Walaupun Harv berbincang sedikit menjaga jarak dengannya tapi Angella bisa dengan jelas apa yang di ucapkan pria itu.
'Kamu hanya tengah tersesat Harv, tenang saja aku sudah kembali dan akan menunjukan jalannya padamu sebentar lagi!' batin Angella percaya diri bahwa Harv akan kembali pada dekapannya.
Harv sendiri menatap ponsel miliknya, dia melihat panggilan terakhir dari istrinya dan juga pesan sebelumnya yang mengatakan Fay sudah di resto. Ada rasa penyesalan dan juga tidak nyaman sekarang menggelayut di hati Harv.
Dia berencana menghubungi istrinya hanya saja dari dalam kamar terdengar suara benda jatuh. Harv kembali menaruh ponselnya dan memberikan perhatiannya pada Angella.
---
Keesokan paginya...
Devan sungguh bahagia saat ini, terpancar raut wajah yang bersinar setelah dia mendapatkan apa yang diinginkannya dari hubungan gelapnya bersama wanita yang dicintainya.
"Fay..." panggil Devan mesra di depan kekasihnya yang tengah menyuap sarapan paginya.
Pagi ini Fay kembali memasak sarapan untuk pria yang sudah membuat pedih hatinya sedikit terobati.
"Hm?!" Fay mendongak menatap pria di hadapannya.
"Terima kasih..." ucap Devan lirih menarik tangan Fay dan menciumnya.
Fay tersipu malu dengan perhatian luar biasa selingkuhannya. Tiba-tiba saja dia beharap yang melakukan hal kecil seperti ini adalah suaminya.
"You're welcome..." jawab Fay tersipu.
"Aku sungguh berharap semua kebahagian ini akan terus berlanjut, esok, lusa, dan seterusnya." imbuh Devan sedikit tercekat.
"Apa kamu tidak menginginkannya seperti ini Fay?!" tanya Devan kembali memaksa kekasihnya untuk melepaskan pria yang selalu terlihat menyakiti kekasihnya.
"Aku bersumpah, aku─"
"Sssttt!"
Fay buru-buru meletakkan jari telunjuk di bibir penuh Devan. "Jangan terus mengucapkan janji, karena saat kamu tidak bisa menepatinya, kata itu hanya akan membuat nyeri!"
"Heh! Aku bukan pria yang menyia-nyiakan wanita sesempurna dirimu! Kamu hanya terlahir satu kali dalam abad ini." goda Devan membuat Fay terkekeh.
"Gombal!" pekik Fay mencubit pipi prianya.
Tak lama ruangan mansion milik devan penuh dengan canda tawa keduanya. Mereka tidak ingin memikirkan apapun, bahkan Fay sendiri. Dia hanya tengah menikmati hari barunya saat ini.
__ADS_1
'Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, dan hari esok adalah misteri dan mungkin bisa menjadi harapan. Kamu kuat seperti biasanya Faye!! Let's start again and again...' batin Fay membesarkan dan menangguhkan hatinya agar selalu kuat dalam menghadapi kerasnya kenyataan hidup yang di alaminya sekarang.
Fay dan Devan sudah berada di kantor, mereka berpisah di area pelataran parkir. Sesuai kesepakatan sebelumnya. Fay belum siap dengan rumor buruknya.
Devan tentu saja mengabulkan apapun permintaan wanitanya, walau terlihat merugikan dari sisinya.
Fay berjalan menuju meja kerjanya, di sambut tatapan yang sulit di artikan Fay dari sahabatnya Vanesha.
"Sst!" bisik Vanesh menatap Fay serius.
Fay yang tidak mengerti hanya bisa mengernyitkan keningnya kebingungan. Vanesh terlihat gemas dan segera beranjak dari kursinya mendekati sahabatnya yang sedikit lambat dalam membaca situasi.
"Lu pasti gak buka medsos?!" cerca Vanesh langsung melempar pertanyaan pada intinya.
"Emang kenapa?!" tanya balik Fay membuat Vanesh memutar bola matanya kesal.
"Sini gue tunjukin!" Vanesh memperlihatkan ponselnya yang tengah memuat sebuah berita yang cukup mendapat respon dari masyarakat.
Fay menatap laman berita antara portal bisnis dan media sosial sama-sama memberitakan masalah yang sama. Fay menelan salivanya namun dia menunjukan wajah datarnya saat ini.
"Owh..." Fay tidak peduli dan menghidupkan perangkat kerasnya segera.
"Hah?!" Vanesh terbelalak tidak percaya pada respon temannya. "Ini kan berita laki lu Bestie?" tanya Vanesh memastikan bahwa temannya tidak dalam keadaan mabuk.
"Huh, aku tahu... Lagian aku hanya istri di atas kertasnya saja Besti... Aku tidak peduli tentang hal pribadinya. Toh selama ini bukannya gosip dia udah sering banget berseliweran di gosipkan dekat dengan beberapa artis selama ini!" sungut Fay sedikit terbawa emosi.
"Tapi Fay... Di sini dibilang dia adalah mantan kekasih dan mantan tunangan Tuan Smith! Lebih gilanya ada portal berita bilang mereka akan kembali rujuk dan membuang istri sah yang tak di anggap bahkan kamu di bilang tak layak karena tidak pernah di publikasikan." ujar Vanesh menggebu ikut emosi atas masalah sahabatnya.
Fay terkekeh pahit, pada kenyataannya memang Fay seperti di sembunyikan selama ini. 'Yah, mau gimana lagi... Aku kan memang hanya istri kontrak beliau. Mungkin ini kesempatan untukku... Tuhan tengah menolongku untuk terlepas dari Tuan Smith.'
Fay menatap ponselnya, sedari semalam dia menon-aktifkan nomornya. Hal yang ia takuti saat menghidupkannya kembali buka karena Harv mencarinya. Tapi justru dia takut harus menerima kenyataan suaminya tidak mencari atau peduli padanya saat ini.
'Yah... Katanya sih semua orang ada masanya, mungkin waktu sudah selesai!'
Fau menarik nafas panjang, dan menyuruh Vanesh kembali ke meja kerjanya. Dia tidak ingin tahu apa yang tengah di lakukan suaminya saat ini, toh semalaman dia dan Devan juga sama bejadnya.
Sedangkan di kantor SG Company Harv tengah begitu emosi dan meluapkannya dengan membuat berantakan ruang kerjanya. Harv membaca portal berita yang menampilkan dirinya tengah memasuki hotel bersama Angella sore hari dan keluar di pagi harinya.
"Aaarghh!!"
BRAAAAAAAK!!
PRAAAAAANG!!
Harv menyapu bersih meja kerjanya. Semua berkas bahkan dekorasi kaca semua pecah berhamburan.
"WILLIAM!!" pekik Harv berkacak pinggang emosi.
"Saya Tu-an!" Will segera menghadap menuju ruangan tuannya.
"Siapa yang sangat berani menaruh berita tidak benar di media sosial!! Akusisi perusahan media itu!!" berang Harv memberikan perintah pada asistennya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menghubungi Fay!! Kamu lacak dimana keberadaannya!" sambungnya kembali memberikan perintah pada asistennya.
Will hanya bisa menundukan tubuhnya mengerti dan segera keluar untuk mengerjakan semua perintah.
"Aaarrghhh!!" pekik Harv frustasi.
"Cutie... Maafkan aku... Aku mohon percayalah padaku..."
---
Sore harinya, Fay memang telah mengerjakan seluruh pekerjaannya hari ini. Hanya saja untuk kembali menuju mansionnya dia begitu enggak. Fay mulai memeriksa uang di tabungannya, walaupun Harv memberikannya kartu tanpa batas Fay tidak menggunakannya sembarang atau berfoya-foya. Semua berdasarkan kebutuhan saja, dan saat ini terlintas di pikiran Fay untuk membeli sebuah rumah di pinggir kota yang tidak di ketahui siapapun keberadaannya terlebih suaminya.
"Kurasa segini cukup..." Fay mengulas senyum girangnya.
"Lu gak pulang?!" pertanyaan Vanesh membuyarkan lamunan Fay.
"Ni lagi beres-beres..." sahut Fay antusias. Vanesh sampai di buat takjub dengan keadaan temannya saat ini.
"Gue standing applause buat wanita paling tegar paling cuek yang gue kenal di dunia ini. Dimana suami selingkuh dia juga masih happy bahkan ikut selingkuh!" cibir Vanesh menusuk jantung Fay dengan gaya.
"Haha... Sakit tak ber-blood dong mendengarnya!" sahut Fay terkekeh.
"Lagian ya, kalian tuh pasangan aneh!! Saling menyakiti satu sama lain itu buat apa hm?!"
Fay terdiam dengan penuturan temannya yang 100% benar adanya.
"Gini ya Bestie, aku cuma mau nyaranin... Jika dengan berpisah kamu bahagia... Maka─" Vanesh sengaja menggantung kalimatnya.
"Lagian ya, gue tahu banget. Devan cinta mati sama lu!! Dan sialnya, gue lebih milih lu bareng Devan di banding Tuan Smith..."
"Tuan Smith memang terlahir sempurna tanpa cela rasanya. Tapi lihat? Bagaimana dia memperlakukanmu... Uang memang bisa membuat kamu mendapatkan segalanya. Tapi apa kamu bahagia?!"
"Devan mungkin tak sempurna, tapi dengan posisinya dia sekarang. Kau tidak akan pernah kekurangan. Apalagi Devan begitu mencintaimu. Kau akan bahagia dengan seseorang yang mencintaimu lebih dari dia mencintai dirinya sendiri!!"
"Seandainya aku bisa Nesh..." Fay kembali menjatuhkan air matanya. Hanya kata ini yang mampu keluar dari mulutnya.
Tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang...
Bukankah rumah tempat ku bersandar...
Sendiri ku tak bisa... Bersama ku tersiksa...
Ini kenyataannya, kita tak baik saja!
Sakit tak sanggup, sadarkah kita terlalu hancur...
Hilang habis tak bersisa, tapi tak mampu ku menyerah... Tertawan hati─
Kita terlalu hancur...
(Tertawan hati - Awdella)
__ADS_1
To be continued...