Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 82 : Pilihan yang Terbaik


__ADS_3

Seperginya Angella, nyonya Jie mengepalkan tangannya erat. Dia mencoba untuk menenangkan emosinya, dia tidak menyangka kembali berurusan dengan wanita penghibur suaminya. "Jinchen, aku harus menyelesaikannya segera!"


Nyonya Li sudah tidak bisa menahan lebih lama, selama ini dia terlihat berjuang sendiri mempertahankan biduk rumah tangganya. Tanpa Jinchen ketahui, setiap wanita yang mencoba mengikan Jinchen, maka nyonya Li akan menyingkirkan demi citra suaminya tetap seperti yang publik ketahui.


Beberapa saat sebelum jam kepulangan tuan Jie merasa dia merindukan Angella. Dia terkekeh sejenak. "Hanya kamu yang membuat aku kasmaran di usia yang menginjak kepala empat!"


Tuan Jie terkekeh berencana membuka pintu namun wajahnya terkejut saat melihat istrinya telah berdiri di hadapannya.


"Mau kemana?" tanya nyonya Li datar seolah tidak terjadi perang batin dalam dirinya.


"Ehm, aku ada urusan." Tuan Jie menjawab dengan gelisah, dia tidak mungkin mengatakan ingin menemui selingkuhannya. "Ada apa kamu kemari?" Tuan Jie kembali memasuki ruangan mempersilahkan istrinya masuk.


Dada nyonya Li mendadak nyeri, selama dua puluh tahun dia membina rumah tangga, dia berjuang mempertahankannya, dan ini yang dia dapat.


"Apa maksudmu urusan dengan wanita simpananmu?" Nyonya Li langsung mencerca suaminya.


Tuan Jie terkejut sejenak, dia menatap nanar kearah istrinya yang sudah menatapnya tajam bersedekap tangan.


'Mengapa aku bisa bertahan sekian lama dengannya?' Tuan Jie memindai istrinya yang mulai terlihat mengintimidasinya.


Pada kenyataannya, mereka tengah menyiksa diri masing-masing selama menjalani biduk rumah tangga yang dipaksakan itu.


"Jawab!" pekik nyonya Li kembali menyadarkan tuan Jie.


"Heh, kamu datang mengunjungiku untuk berselisih seperti ini?"


Nyonya Li membuang wajahnya, jelas dia sedang menahan gejolak emosinya. Wajar bukan jika dia cemburu? Angella mencoba merebut suami yang jelas bukan miliknya.


"Jadi, benar selama ini kamu memiliki wanita simpanan? Kamu sampai melupakan dimana rumahmu, dimana putrimu!"


"Heh, rumah?" Tuan Jie mendekat pada istrinya. Sepertinya, hari ini adalah batas terakhir kesabarannya.


"Wanitamu menemuiku, dia mengatakan tengah hamil!"


DEG!


Tuan Jie terpaku, mungkinkah yang di maksud istrinya adalah Angella? Angella tengah hamil?


"Jadi benar?" Nyonya Li merasa begitu sesak melihat respon suaminya. Dia yakin, Jinchen tidak sedang berpura-pura.


"Ya, Angella adalah wanitaku, dan kelak, dia akan menggantikan posisimu menjadi Nyonya Jie!"


Runtuh sudah pertahanan nyonya Li saat mendengar penuturan suaminya. "Haha, maksudmu kamu akan menceraikanku? Apa kamu berani, hah?"


Tuan Jie mengepalkan kedua tangannya, dia merasa terhina dengan apa yang dilakukan istrinya saat ini. Selama ini nyonya Li yang paling dominan di rumah. Tuan Jie tidak menyukai sifat angkuh dan juga sikap dingin istrinya.


"Heh, apa kamu pikir aku tidak berani melakukannya?" Tuan Jie melemparkan senyum mengejeknya. "Aku bertahan selama ini hanya untuk Sheena."


"Setelah apa yang kamu lakukan padaku?!" Nyonya Li menyela dengan melempar kekecewaan pada suaminya.


"Apa yang sudah kamu lakukan untukku? Apa?"


Nyonya Li tidak percaya dia menjatuhkan air matanya di hadapan suaminya. Selama ini dia berupaya kuat, tidak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya. Dengan begitu dia berpikir suaminya akan senang memiliki istri yang mandiri.


"Selama ini aku mencoba menghadirkan cinta diantara kita, lalu? Kamu masih saja bersikap dingin padaku. Bahkan saat aku meminta penerus pria untuk aku banggakan, kamu menolak dengan lantang!" Tuan Jie mulai menguak apa yang terjadi diantara mereka.

__ADS_1


"Aku bertahan karena Sheena, apa kamu tidak pernah merasa? Kamu tidak pernah bisa menjadi pasangan dan ibu yang baik untuk kami. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu, dengan bisnismu, dengan keangkuhanmu!"


"Kamu menyerahkan seluruh pendidikan dan perhatian Sheena pada pengasuhnya, bagi Sheena, kamu ibu yang tidak tergapai olehnya."


"Tahu apa kamu hubunganku dengan putriku!" hardik nyonya Li tidak terima. "Kamu tidak pernah ada dirumah, kamu menghabiskan waktumu dengan wanita murahan itu!"


Plaaak!


Nyonya Li terperanjat saat tamparan keras di layangkan suaminya.


"Aku yang membuatnya terlihat ja lang! Dia jauh lebih baik darimu, padahal dia masih muda, masih berambisi dengan karirnya. Tapi saat bersamaku, aku mengerti apa arti sebuah rumah!"


"Dia akan membuatku nyaman, merasa hangat, merasa dibutuhkan dan diandalkan."


"Kamu juga harusnya tahu, dia berasal dari keluarga besar Liem. Tapi lihat dia? Dia tidak sekalipun berani melawan keinginanku. Walau jelas, secara derajat dia lebih tinggi dariku!"


"Jika diantara kami tidak sejalan dia akan melakukan negosiasi dengan caranya yang lembut. Bahkan saat aku memaksanya untuk melayani hasrat bejatku, dia menerimanya. Membuat aku merasa bahagia, walau aku tahu dia tidak sudi berhubungan denganku. Aku benar-benar tidak bisa berpaling darinya."


Sudah cukup bagi nyonya Li menerima pengkhianatan dan penghinaan ini. "Oke, jika inginmu berpisah. Maka kita akan berpisah. Tapi ingat, JiE ini di bangun dari kerja kerasku!"


"Ambillah!"


Mata nyonya Li terbelalak sempurna saat apa yang jadi kebanggaan bahkan yang di perjuangkan Jinchen mati-matian, pria itu sedang menyerahkannya begitu saja.


"Haha, kamu menukarnya hanya demi bersanding dengan wanita yang jauh lebih kaya dariku, hah?"


"Heh, Lili... Apa kamu tidak bisa melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda? Apa kamu tidak pernah menilai sesuatu dengan hatimu?"


DEG!


Tuan Jie menjeda sejenak dia menatap nanar wanita yang akan menjadi mantan istrinya mulai sekarang. "Kita tidak seharusnya memaksakan kehendak, kita bisa bertanya dia ingin tinggal bersama dengan siapa!"


Tuan Jie segera berlalu dari ruangannya, kedepannya dia tidak akan lagi berada disana. 'Heh, selamat tinggal...'


***


Mansion Angella.


"Sayang?" Angella terkejut dengan kedatangan tuan Jie. Dia segera menyambut dengan penuh suka cita.


Tuan Jie segera memeluk erat wanitanya, rasanya dia tengah dilucuti saat ini juga.


"Ada apa?" Angella merasa ada yang salah, dia bertanya dengan hati-hati pada prianya.


Tuan Jie melonggarkan pelukan dan menarik kedua tangan Angella. "Kapan aku diijinkan bertemu keluargamu untuk melamar?"


DEG!


Angella tidak pernah menyangka hal baik ini begitu cepat terjadi. "Apa ada udang di balik bakwan?"


"Hahaha!"


Tuan Jie mengangkat tubuh mungil Angella dan memutarnya perlahan.


"Aaarghh! Haha, turunkan aku..." pekik Angel tertawa.

__ADS_1


"Bukankah ini yang kamu inginkan, Sayang?" Perlahan tuan Jie menurunkan wanitanya.


Tuan Jie menatap Angella lekat, ada rasa haru dan kebahagian yang membuncah penuh mengisi relung hatinya.


"Pasti Nyonya Li mengadu?" kekeh Angella mengejek.


"Ya begitulah, aku sudah menceraikannya. Akan di proses besok oleh pengacaraku."


"Benarkah?"


Wajah Angella begitu berbinar, ini adalah kebahagian yang ditunggu olehnya. Kemenangan setelah kemalangan yang mendera dirinya.


"Aku akan di anggap menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain," ucap Angella tiba-tiba berubah sendu.


"Sayang, hal yang tidak kamu ketahui dan orang luar ketahui. Pernikahanku dan dia, sudah rusak lebih awal sebelum kamu hadir. Kamu hanya puncak dari masalah kami." Tuan Jie mengusap lembut wajah tambatan hatinya.


"Bir?" Angella menyela menawarkan untuk berbincang hangat seperti biasanya.


Inilah yang di harapkan Jinchen saat memiliki pasangan hidup, seseorang yang mengerti dan menghargainya. Seseorang yang memberikan ruang dan mendengar lebih atas semua masalah dan rasa lelahnya setelah mengejar dunia yang tidak ada habisnya.


Keduanya tengah berada di meja makan kecil hanya ada mereka berdua dan makanan yang disuguhkan Angella.


"Hari ini aku belajar memasak, jika dirasa tidak enak kamu tidak perlu memakannya."


Angella mengambil daging asap yang selesai dia panggang setengah jam yang lalu. "Rasanya tidak buruk sih, hanya gosok dikitlah!"


Tuan Jie terkekeh, dia terus menatap lekat pada wanitanya. "Mengapa aku baru bertemu denganmu sekarang?"


Angella terpaku sejenak. "Karena, kita sedang belajar... Bahwa hidup tidak selalunya berada di atas. Hidup juga bukan perkara memaksakan. Walau aku terlihat memaksa kali ini, tapi aku..."


"Kamu berhak mendapatkannya..." Tuan Jie menyela kalimat wanitanya. "Kamu benar, kita hidup di dunia tak lebih untuk belajar dan menerima, setelahnya berbenah. Pada akhirnya, jodoh kita tidak akan salah alamat bukan? Walau jalannya mampir sana sini dulu!"


Angella terkekeh, dia mengangguk menyetujui. "Cheers!"


Angella terpaku, prianya menarik wine dan menggantinya dengan jus. "Ibu hamil tidak baik meminum banyak miuman beralkohol!"


"Aaah, harusnya kamu pura-pura tidak tahu!"


"Aaa, sebal! Ulaaang..."


"Hahaha!!"


Keduanya kembali didera perasaan sukacita yang begitu dirindukan dan dimimpikan selama mereka hidup selama ini.


"Apa kamu akan menerima putriku?" Pertanyaan tuan Jie sedikit serius kali ini.


"Aku bisa menerimanya, tapi aku tidak yakin dia menerimaku... Terlebih, aku adalah orang yang menghancurkan keluarganya."


"Jangan menilai seseorang dari sampulnya, Sayang!" Tuan Jie merogoh saku celana dan mendial nomor seseorang. Angella melengkungkan senyuman membuat tuan Jie semakin yakin, wanita di hadapannya adalah wanita terakhir yang akan menemani sisa usianya.


"Sheena sayaaang!"


"Papaaa! Sheena rinduuu!!"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2