Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 42 : Into New World...


__ADS_3

Fay terbangun dari tidur pulasnya, seketika ingatannya mengatakan bahwa dirinya tengah dalam penculikan di gudang tua.


“Aaarrhhh!” Fay terlonjak dari ranjang empuknya berteriak nyaring dengan memegang kepalanya.


Sedetik kemudian dia tersadar sepertinya dia mengenal tempatnya sekarang. “Ini di kamarku? Oh iya Harv menyelamatkanku dan dia─”


Ingatan Fay kembali di bawa mengingat bahwa suaminya begitu brutal dalam menyiksa para bandit itu.


“Aku tahu dia Si Raja Bisnis, orang paling berpengaruh di Negara ini. Tapi pistol itu─”


Kegelisahan Fay menguap saat ia melihat catatan kecil berdiri di atas nakas samping ranjangnya. Tak hanya itu, disana sudah tersedia sarapan pagi lengkap dengan susu hangat yang mulai dingin. Jantung Fay berdebar


dengan sangat cepat, dia menarik secarik kertas dan mulai membaca isi pesannya.


𝐌𝐨𝐫𝐧𝐢𝐧𝐠 𝐂𝐮𝐭𝐢𝐞,


𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧𝐦𝐮 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐚𝐦𝐢𝐭𝐚𝐧. 𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐝𝐚 𝐮𝐫𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫, 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐫𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐥𝐚𝐡. 𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐦𝐲 𝐰𝐢𝐟𝐞 ♡


Fay mengatupkan bibirnya dengan perasaan yang membuncah hatinya. Harv semakin hari semakin membuat Fay terjatuh dalam pesonanya. Fay mendekap memo kecil yang dia anggap seperti surat cinta dari suaminya.


“Kamu sungguh tahu menjerat hatiku Mr. Smith!” gumam Fay dengan wajah yang sudah merona sepenuhnya.


Fay berencana membersihkan diri namun dering ponselnya membuyarkan niatnya. Dia beranjak menuju meja riasnya. Ponselnya tergeletak disana, Fay sempat merasa tidak nyaman. “Berarti semalam Harv yang membereskan barangku? Apa dia memeriksa ponselku?” gumam Fay khawatir.


“Devaan?” lirih Fay bergetar saat melihat nama orang yang menelponnya.


Dengan melakukan pernafasan berulang akhirnya Fay menerima panggilan kekasih gelapnya dengan debar jantung yang sudah tidak bisa dia kendalikan lajunya.


“Halo,” sapa Fay sebiasa mungkin.


“Sayaaang... Bagaimana keadaanmu? Kamu tidak mengabariku!” sungut Devan segera setelah mendengar sapaan kekasih gelapnya.


“Apa kamu masih di rumah sakit? Kamu masih cuti ya Honey?” tanya Devan terus tanpa jeda.


Fay masih terpaku di depan meja riasnya, satu bulir air matanya jatuh begitu saja. Semua ini harus segera di akhiri sebelum terlambat.


Melihat bagaimana semalam Harv menggila menyiksa penjahat yang berencana menodainya, membuat Fay berpikir bagaimana jika Harv tahu apa yang sudah dia dan Devan lakukan selama setengah tahun ini.


“Dev, Maafkan aku,” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Fay.


Tidak ada lagi sahutan dari sebrang sana seperti sebelumnya Devan terus mencerca Fay akan beberapa pertanyaan.


Devan sendiri sudah mengetahui kenyataannya, hanya saja dia berpikir selama Fay menginginkan terus berada disisanya dan belum juga mengakui statusnya selama itu juga Devan akan selalu berada di sisi wanita pujaannya. Cinta itu buta bukan?


“Aku mengerti... Istirahatlah, aku hanya merindukanmu.” ujar Dev sendu semakin membuat Fay merasakan perasaan bersalahnya.

__ADS_1


“Dev... Aku─”


“Cutie…”


DEG!


Secepatnya Fay menutup sambungan sepihak saat mendengar seruan dari suaminya. Degub jantung Fay semakin tidak karuan, tanpa waktu lama Harv sudah berada di kamarnya.


“Kamu sudah bangun Sayang?” Harv menyapa Fay dengan lembut, hanya saja setelahnya Harv segera mendekati istrinya yang terlihat tengah menangis.


“Kamu kenapa menangis? Kamu baik-baik saja?”


“Huhuhu!”


Fay memeluk Harv dengan eratnya, dia sudah tidak sanggup memainkan permainan ini. Harv dilanda kecemasan berlebihannya. Dia mendorong tubuh Fay lembut menanyakan mengapa Fay demikian.


“Sayaang, tenanglah... Kamu baik-baik saja, bukankah kamu ingat semalam aku menyelamatkanmu? Mereka tidak akan lagi melukai bahkan menyentuhmu!”


Bukannya menenangkan perasaan Fay, wanita itu justru semakin takut dan menangis kencang mendengar ucapan suaminya.


“HUUUAAAAA!!”


Harv membulatkan matanya, dia semakin bingung harus berbuat apa. Harv memiliki pemikiran bahwa istrinya kembali mengalami trauma yang dalam. Dengan segera Harv menghubungi Will dan asistennya itu memasuki kamar mereka segera.


“Panggilkan kembali Dokter Yun cepat!” titah Harv tanpa menoleh.


Will bergegas keluar ruangan dan menghubungi dokter pribadi keluarga Smith. Harv mendekap erat tubuh istrinya yang bergetar hebat dengan


tangis pilu yang menyayat hatinya. Ini pertama kalinya Harv mendengar dan melihat Fay terisak pilu seperti ini.


“Maafkan aku sayang...” lirih Harv mencoba terus menenangkan istrinya.


Tangan besarnya mengusap lembut punggung Fay yang hanya berbalutkan pakaian tidur berbahan satin lembut. Saat ini sisa isak tangis yang bisa Harv dengar, Harv juga memainkan rambut panjang istrinya.


“Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu atau membuatmu dalam keadaan sulit dan berbahaya seperti semalam!” sendu Harv mencium pucuk kepala istrinya.


Fay mendorong tubuh suaminya perlahan. “Aku yang minta maaf, aku tidak mendengarkanmu untuk berdiam diri saja di rumah.”


“Aku menemui Angella begitu saja tanpa mengabarimu, aku pikir aku bisa mengatasi masalahku sendiri tanpa melibatkanmu.” Ada keuntungan ganda yang di lakukan Fay dengan mengatakan sejujurnya apa yang sebenernya


terjadi semalam. “Aku sungguh terlalu lemah menjadi wanita Tuan Smith, aku tidak pantas... Hiks!” Fay kembali terisak.


“Ssssttt! Cutie...” Dengan lembut Harv mengangkat dagu wanitanya. “Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Tugasku sebagai suami lah yang seharusnya memastikan keselamatanmu.” tutur Harv menguatkan Fay dengan senyuman tampannya. “Sudah aku bilang, aku sangat senang jika kamu


mengandalkanku. Aku suamimu, aku memiliki kewajiban untuk itu!”

__ADS_1


Fay semakin terharu dia memeluk kembali tubuh suaminya dengan terisak. Harv melengkungkan senyuman kebahagiannya. Selama ini setahun sudah mereka hidup dalam kepura-puraan. Dia berharap mulai sekarang semuanya jelas dan apa adanya.


Tok... Tok...


Keduanya menghentikan kemesraan mereka dan Harv sudah mengijinkan orangnya masuk.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya dokter Yun kembali mengunjungi kediaman Tuan Muda Smith.


“Harv, aku baik-baik saja,” rengek Fay menolak melakukan pemeriksaan.


“Sstt, kamu harus melakukan pemeriksaan sebentar. Aku tidak mau istriku mengalami trauma yang mendalam yang berakibat fatal bagi kesehatanmu kelak sayang!” Harv mengusap lembut wajah istrinya. Menyapu bersih air mata yang tersisa di wajah cantik wanitanya.


Dokter Yun dan juga Will tertegun, melihat tuan yang biasanya dingin dan arogan kini terlihat begitu hangat dan lemah lembut.


‘Sudah sangat terlihat kelemahanmu Harvey.’ batin Yun tersenyum ikut merasakan kebahagian yang di alami sahabatnya.


Tak lama Harv dan Will keluar ruangan, memberikan waktu dokter memeriksa tubuh dan kejiwaan Fay saat ini.


“Mari Nona...” sapa Yun hangat seperti biasanya, ini bukan pertemuan pertama. Dokter Yun juga hadir saat pernikahan Fay dan Harv di gelar.


“Aku sungguh tidak apa-apa aku hanya─”


“Tertekan?” terka sang dokter.


Fay terkekeh menundukan wajahnya malu, tak berapa lama Fay kembali menuju ranjangnya dan melakukan serangkaian test fisik dari si dokter.


“OK, kamu memang baik-baik saja. Istirahatlah yang cukup.” tutur Yun ramah.


“Terima kasih Dok,” ucap Felly dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


“With pleasure... Selamat ya, kamu mendapatakan seluruh perhatian Harv bahkan baginya kamu adalah dunia barunya saat ini!” goda dokter Yun sebelum dia keluar ruangan.


DEG!


Degub jantung Fay lagi-lagi berdetak bertalu-talu, dia tidak percaya apa yang dia dengar dari seorang dokter pribadi kediaman besar dan juga sahabat suaminya itu. Sedangkan di luar Harv sudah menunggu dengan tidak sabar segera mendekat.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Harv segera.


“Tubuh fisiknya baik-baik saja, hanya saja seperti yang kamu ketahui sebelumnya. Kejiwaan Fay sedikit bermasalah. Hindarilah hal yang bisa memicu emosinya. Apalagi kamu sangat senang membuat keributan dengan rumor konyolmu itu!” ejek dokter Yun melucuti Harv saat ini.


“Heh, terima kasih!” sahut Harv tenang.


“Whats? Tuan Muda Smith berterima kasih padaku? Apa mungkin saat ini akan turun hujan beserta badai?” ejek Yun pada sahabat dari semasa mereka kecil itu. Harv hanya menggelengkan kepalanya atas respon berlebihan Yun atas ucapan terima kasihnya yang memang terdengar sederhana namun begitu tulus.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2