Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 90 : Happy Together!


__ADS_3

Fay tengah mondar dan mandir di kamarnya. Sudah hampir berapa puluh kali dia menghubungi Harv, tapi tidak ada satupun yang berhasil masuk. Fay juga begitu gelisah luar biasa, dia tidak tahu pasti apa yang membuat perasaannya tidak nyaman sekarang.


Braaak!


Fay tersentak sejenak, dia mengatupkan bibir erat dengan mata dan telinga semakin awas. Tidak ada bunyi apapun lagi setelahnya. Fay menelan ludah, dia menatap jam di dinding yang menunjukan pukul dua dini hari. Dengan waspada Fay berjalan perlahan dan berencana mencari tahu dengan keluar dari kamarnya.


"Ya Tuhan, lindungi aku..." gumam Fay berdebar tak karuan.


Cekrek!


"Aaaarrk!"


"Sayaaang! Kamu baik-baik saja?"


"Hantuuu!!"


Harv seperti dejavu dengan kejadian seperti ini, dia terkekeh dan tersenyum lepas menatap istrinya yang menjerit kesetanan setelah melihat kedatangannya.


"Harvey?" Fay mengernyit dan memberanikan diri membuka matanya. Dia menyelidik suaminya dari atas hingga bawah. "Menurut buku yang aku baca, biasanya setan juga bisa menyerupai orang yang sedang aku pikirkan sekarang!" gumam Fay awas.


"Huh," Harv mendengus. "Apa ada setan setampan aku?"


Fay langsung terbelalak, setelahnya menghambur memeluk suaminya dengan pelukan yang begitu erat menyamping karena terhalang bayi kacang mereka. "Oh ternyata kamu benar Suamiku!"


"Tentu saja aku Suamimu, tidak ada setan yang lebih tampan dari aku!" kekeh Harv turun menunduk mencium bayinya. "Papa pulaaang, Papa sungguh tidak tenang hidup rasanya jauh dari kalian!"


"Sebenarnya bukan perkara tampan, tapi setan mana yang angkuhnya melebihi suamiku!" Fay mengulumkan senyuman bahagianya. Dia langsung lupa jika sebelumnya dia begitu mengkhawatirkan keberadaan suaminya.


"Hahaha!" Harv mencubit lemah hidung mancung istrinya. "Baru berapa jam tidak bertemu rasanya sewindu!" Harv mengecup lembut kening istrinya.


"Kenapa kamu sulit dihubungi? Padahal harusnya kamu terus menghubungiku seperti biasanya!" Fay kembali mengoceh seperti ibu-ibu komplek.


Dia sendiri tidak mengerti, terkadang dia benci melihat dan dekat dengan suaminya. Namun, seketika dia begitu ingin dilayani dan ditemani suaminya setiap waktu. Dia begitu takjub, ternyata perasaan seorang wanita hamil bisa berubah seperti membalikan telapak tangan.


"Maafkan aku, karena ingin cepat pulang aku fokus dengan pekerjaanku. Aku sampai tidak terpikir untuk menghubungi lebih dulu. Aku takut hal itu justru akan membuang waktuku untuk cepat kembali menemuimu dan kedua buah hati tercintaku!" Harv kembali turun menggosokkan hidungnya dengan perut Fay.


Dug!


Harv tersentak. "Kamu merasakannya tidak?"


Fay menahan tawanya, dia mengerti apa yang dimaksud suaminya.


"Dia menendang!" pekik Harv lirih dengan wajah antusiasnya. "Aarrk! Kamu sakit? Apa itu melukaimu? Apa kita harus ke dokter? Apa tidak apa-apa?" Harv berubah histeris, dia sungguh tidak tahu apapun. Diantara kebahagiaan dia justru khawatir berlebihan.


"Hahaha!" Fay tak kuat lagi untuk tidak tertawa. "Itu artinya bayi kita sehat Papa!" Fay mencubit pipi Harv gemas.


"Oh ya? Ayo lagi-lagi!" Harv berbicara di depan perut istrinya dengan wajah annoyingnya.


"Sudahlah, aku lelah... Aku hampir begadang karena kamu!" Fay berbalik badan segera, dia berencana beristirahat. Punggung dan pinggangnya baru terasa pegal sekarang, sedari tadi berdiri mengkhawatirkan suaminya.


"Maafkan aku, aku pijat ya!" Harv membantu Fay merebahkan diri di ranjang.


"Kamu mandi dulu ya, aku tidak apa-apa..." Fay menangkup satu tangan di wajah lelah suaminya. "I love you Harvey Smith, Papa Duo Baby Peanut! Thank you for everything..."


Harvey menutup matanya, dia mencium lekat kening istrinya. "I love you too, my everything!"


***


"Maaf Tuan, di luar ada tamu..."


Salah satu pelayan kediaman tengah menghadap tuannya. Harvey dan Fay menatap dengan kening yang berkerut. Mereka sedang tidak mengundang siapapun ke kediaman mereka. Nyonya Jane atau ibu dan mertua keduanya sedang mengikuti fashion show di luar negara.


"Siapa?" tanya Harv dingin.


"Hello old friend!"


Semuanya tercengang, bahkan Harv langsung bangkit tidak senang dengan kedatangan tamu yang tidak sopan langsung masuk sebelum dipersilahkan oleh tuan rumah.


"Ada apa kamu kesini?" Harv segera memasang badan untuk melindungi istrinya.


"Hahaha, why you so serious?" Alex tertawa melihat sikap Harv yang di nilainya terlalu berlebihan.


"Aku tidak menerimamu disini, jika ingin berbincang mari kita keluar dari rumahku!" Harv segera mendekat dengan sorot mata tajamnya menghentikan apa yang mungkin akan dilakukan Alex berikutnya.


Alex mendelik mengacuhkan Harv dan menatap sendu Faye. Pria itu tidak menyangka bahwa gadis yang sempat mencuri perhatian hatinya ternyata adik kandungnya sendiri. 'Akhirnya aku mengerti, mengapa aku bisa begitu santai berbincang denganmu. Semua karena aliran darah kita sama Bella.'


Alex tak seperti Harv, dia memiliki ketakutan yang tidak masuk akal. Alex memiliki gangguan Mysophobia serta Philophobia. Dimana si penderita ini memiliki ketakutan berlebih dan tidak masuk akal terhadap kontaminasi kuman, virus, bakteri, debu, kotoran, atau infeksi penyakit, dan juga ketakutan akan jatuh cinta pada lawan jenis.


Saat melihat Fay, dia bisa dengan santai berkomunikasi bahkan berdekatan dengan gadis itu. Dia pikir mungkin dia mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Nyatanya, dia hanya sudah terbiasa dengan keluarganya. Sejauh ini, perasaan Alex memang tidak bisa dikatakan jatuh cinta. Bisa diyakini saat dia dengan enteng membocorkan rekaman asusila Fay tanpa ada perasaan cemburu atau marah berlebihan. Dia justru senang bisa memiliki alat untuk menghancurkan rivalnya secara mental.


Harv menyadari tatapan Alex terhadap istrinya. "Jangan macam-macam atau kamu mencoba batas kesabaranku!"


Alex menyeringai, dia sungguh heran dengan Harvey si paling-paling. Ternyata pria itu paling lemah dengan adiknya!

__ADS_1


Fay bangkit, dengan perasaan yang sama cemasnya dia harus membantu atau sekedar kabur untuk melindungi kedua bayi dalam perutnya. Rasanya semua orang mulai memiliki ketakutan yang sama, tapi tidak dengan Alex.


"Kalian sungguh berlebihan, aku datang kemari hanya ingin meluruskan satu hal dengan Faye." Alex mulai serius, dia menepis keberadaan Harv dan berjalan mendekati adiknya.


"Berhenti!" Harv menarik tangan Alex segera.


"Huh!" Alex mendengus emosi, kesabarannya juga hanya sehelai tissue. "Aku tidak akan melakukan apapun pada Istrimu, aku mana mungkin mencelakai adikku!"


Harv terdiam, Fay juga demikian. Namun, beberapa detik kemudian keduanya membuka mata dan mulut bersamaan.


"Apa?!" pekik keduanya kembali kompak bersama dengan raut wajah tidak percaya mereka.


"Hahaha, kamu sungguh lucu Alex! Tipuan macam apalagi ini, hm?" Harv terkekeh mengejek dihadapan Alex. "Apa kamu gila? Atau aku yang gila mau mempercayai hal bodoh barusan!" sambung Harv dingin dengan sorot mata tajam ke arah mantan sahabatnya.


"Heh, Hans!" pekik Alex segera memanggil asistennya yang memang datang bersama.


"Ini Tuan..." Asisten Alex menyerahkan dokumen yang disimpan dalam map coklat berukuran besar.


"Apa ini?!" Harv menarik kasar dan menarik isinya segera.


"Itu test DNA, apa kamu tidak bisa baca?" ejek Alex kesal.


DEG!


Fay hanya bisa mematung sulit menerima apa yang sedang jadi perbincangan dua orang pria di hadapannya. 'Apa-apaan ini?! Apa setelah kemampuan teleportasi sekarang aku juga adalah korban transmigrasi salah satu pemeran novel romansa yang salah sasaran? Bagaimana bisa aku menjadi adik pria tersohor kedua setelah suamiku?'


Jantung Harv seperti diremas kencang saat dia membaca satu lembar hasil tes laboratorium di tangannya. Dia bisa membaca bahwa 99% DNA istrinya cocok dengan DNA ibu dari rival abadinya. "How come?"


"Apa kamu lupa? Aku memiliki satu adik yang hilang dan dinyatakan meninggal saat libur akhir tahun beberapa puluh tahun silam. Siapa menyangka, Arrabella Pierce ditemukan dan diberi nama Faye Yvonna oleh orang yang menemukannya di hilir sungai." Alex berbalik badan menatap berkaca pada Faye.


"No way..." lirih Faye. "Ibu panti bilang aku ditemukan tanpa orang tua di dalam hutan!" ujar Fay meneteskan air matanya. Fay selalu merasa takdir begitu kejam padanya, dia pikir orang tuanya tidak pernah menginginkannya.


Alex mendekati Fay perlahan, kali ini Harv tidak mengganggu pria di depannya. "Kami minta maaf, kami langsung percaya saat tim penyelamat mengatakan kamu hilang dan hanyut ke lautan. Tapi, ini─"


DEG!


Alex menunjukan sebuah kalung dengan liontin bulat di depan netra Fay. Debar jantung Fay bertalu-talu tidak karuan. Alex kembali melanjutkan menyelesaikan kalimatnya. "Jika kamu tidak percaya, maka kamu bisa periksa liontin ini. Didalamnya ada foto kamu saat bayi, dan dalam liontin itu juga ada ukiran logo keluarga kita."


Alex menarik perlahan tangan Fay, membalikannya dan meletakan kalung tersebut di telapak tangan Fay yang tengah bergetar. Dengan sekuat tenaga Fay memeriksa apa yang baru saja di katakan oleh Alex. Fay tidak percaya, sulit percaya, secepatnya dia menutup mulutnya.


"Di dalam sana terukir jelas AP yang tak lain singkatan nama kita... Alexander Pierce dan Arrabella Pierce!"


'Sungguh kebetulan yang mencengangkan!' batin Harv merasa ini diluar prediksi BMKG dan tidak masuk Haikal.


"Kamu adikku yang sah, Faye Yvonna, kamu adikku yang hilang dua puluh tahun silam." Alex menjatuhkan air matanya. Dia mengepalkan erat kedua tangannya, inginnya dia memeluk Fay saat ini juga, tapi algojonya sedang mengawasi di belakang.


Harv membuang wajahnya, dia paling tahu apa yang terjadi dengan keluarga sahabatnya. Dia juga yang selama ini menguatkan Alex atas kepergian adik kesayangannya yang menghilang bak ditelan lautan.


"Hold on..." Fay merentangkan tangannya, dia mengatur pernafasannya. Karena, dia mengalami kontraksi saat terkejut barusan. "Harv, perutku sakiiit!"


Harv dan Alex terbelalak, Fay menunduk dan menekan perut bagian bawahnya.


"Faye!" Dengan cepat Harv mendorong Alex dan membawa tubuh istrinya ke kamar mereka. "Bertahan Sayang! Will hubungi Dokter Yun cepaaat!"


Harv begitu takut luar biasa, Alex sendiri sama terkejutnya. Dia segera memerintahkan asistennya untuk mempersiapkan rumah sakit untuk adiknya. "Harv, lebih baik kita bawa dia segera ke rumah sakit!"


"Ini ulahmu bangsat!" pekik Harv emosi.


"Aku minta maaf, tapi ini bukan waktu yang tepat... Cepat!"


Keduanya akhirnya bersinergi menolong wanita yang jadi prioritas mereka saat ini. Fay tidak ingin berpikir banyak, dia mengatur pernafasannya. 'Sayangnya Mama, maafkan Mama membuat kalian terkejut... Mama mohon tenang Sayang... Ini belum saatnya kalian lahiiir... Mama mohooon!'


Fay terus mengingat apa yang dikatakan instruktur yoga dan dokter kandungan jika dia mengalami kontraksi palsu, dia segera mempraktekannya sebagai salah satu pertolongan pertama agar bayinya aman. Wajah Harv pucat luar biasa, dia terus menggenggam erat tangan Faye. Dia tidak ingin berkata apapun, dia juga sama sibuknya berdoa dalam hati dan fokus mengendarai kuda besinya agar segera sampai di rumah sakit.


"Harv..." lirih Fay menatap suaminya.


"Sudah hampir sampai Sayang, bertahan!" Harv menatap Fay gusar, sejurus kemudian dia tidak sengaja melihat cairan pekat merah khas darah mengalir dari balik dress istrinya.


"Oh Shiiit!"


Harv semakin gelap mata, dia langsung melajukan kendaraannya tanpa memikirkan lagi apapun.


Braaak!


Fay sudah di bawa ke ruang tindakan langsung, Alex sudah mengkoordinasikan pihak rumah sakit untuk langsung memberikan tindakan saat mereka sampai. Memang uang itu memudahkan jalannya kepentingan kita.


Harv mondar dan mandir di depan ruangan, inginnya dia menemani istrinya. Namun, pihak medis tidak mengijinkannya.


"Aku minta maaf!" Alex mendekati sahabatnya.


Terlihat Harv menatap tidak suka pada awalnya, tak lama dia menghembuskan nafas berat. "Aku tahu kesedihanmu selama ini, aku juga ikut merasakan bagaimana keadaanmu sekarang setelah mengetahui siapa Faye." Harv menelan salivanya menghentikan ucapannya, dia sudah tidak bisa berkonsentrasi selain pada istrinya.


Brak!

__ADS_1


Keduanya terperanjat dan segera menemui dokter yang keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana istri dan anak saya Dok?!" cerca Harv segera.


"Tenang, Nyonya hanya mengalami kontraksi. Beruntungnya, bayi kalian tidak meminta keluar saat ini juga." Dokter tersenyum menggoda ke arah Harv. "Nyonya akan segera di bawa ke ruang inap untuk beristirahat."


Harv bernafas lega, dia mengusap wajahnya segera. "Terima kasih, boleh aku menemuinya?"


***


Beberapa hari kemudian...


Fay sudah dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit yang sebelumnya menjalani bed rest total. Hari ini dia dibawa oleh Alex kesebuah kediaman besar. Fay begitu gugup, dia terus menenangkan dirinya. Ini adalah pertemuan pertama dia dengan keluarga besarnya. Harv menggenggam tangan Fay lembut memberikan kekuatan dan semangat.


"Tenang saja, aku sangat tahu keluarga Pierce." bisik Harv menenangkan istrinya.


"Kalian sama-sama saling mengetahui satu sama lain, tapi berselisih? Sungguh diluar Nurul!" oceh Fay membuyarkan kegelisahannya.


Harv mengernyit, dia bingung dengan kalimat terakhir. "Siapa Nurul?"


Fay sudah di bawa ke sebuah halaman yang luas di belakang. Terlihat wanita paruh baya yang sedang terduduk di kursi roda tengah memandangi kolam besar. Fay menelan salivanya, di samping wanita berkursi roda, ada pria paruh baya yang setia seperti tengah berbincang tanpa melepaskan senyumannya. Entah bagaimana mulanya, air mata Fay jatuh begitu saja.


"Ma, Pah, aku membawakan seseorang..." Alex berujar setelah sampai dengan kedua orang tuanya.


Si pria yang lebih dulu menyadari keberadaan putranya tersenyum menyambut Alex. "Kamu sudah kembali pulang, Nak?" tanyanya parau, manik mata teduhnya langsung menatap lekat pada sosok wanita yang tengah hamil tak jauh dari posisi putranya. "Siapa dia? Oh Harvey... Long time no see..."


"Uncle!" Harv mendekat dan merangkul pria yang selama ini sudah dianggap ayah keduanya.


"Ma..." Alex bersimpuh di bawah kaki ibunya. "Aku membawakan seseorang yang selalu Mama tangisi selama ini..."


Wanita itu tersentak dan terbelalak tanpa kata menatap tajam putranya. Ibunya memang mengalami gangguan kejiwaan. Dia tidak banyak berbicara bahkan tidak pernah mau. Dia bak mayat hidup, semua serba dilayani tidak bisa melakukan sendiri. Wanita itu juga terkadang selalu mengamuk secara tiba-tiba tidak bisa diprediksikan.


"Apa maksudmu Alex?" tanya tuan Alex menyelidik.


"Pah!" Alex bangkit dan menarik kursi roda ibunya berbalik menghadap pada sosok yang selama ini mereka rindukan. "Ma, Bella akhirnya tahu jalan pulang..."


DEG!


Fay mengatupkan bibirnya erat, seluruh air matanya tumpah keroyokan. Tubuhnya bergetar menahan suara yang tidak mungkin Fay keluarkan sekarang.


"Bella?" lirih nyonya Vivian mengeluarkan suara membuat semua orang tersentak.


Fay bingung, dia tidak tahu harus seperti apa.


"Apa benar kamu Bella putri Mama? Kamu sudah besar? Kamu hamil? Siapa pria brengsek itu?! Katakan pada Mama, Nak!"


Antara sedih, terharu dan sekaligus menahan tawa saat nyonya Vivian dengan segera bangkit mengamati Fay yang berbadan dua. Tuan Pierce ikut tercengang, dia dan istrinya memeluk erta putri mereka yang hilang.


"Bellaaa... Huhu!"


Di sisi lain, Herv menatap kesal pada temannya. "Apa kamu yang mencuci otak mereka agar menilai aku sebagai pria brengsek itu?"


"Haha, mungkin Mama paling tahu cara membalaskan dendamku padamu! Ingat, istrimu adikku... Kamu adalah adik iparku.... Patuh padaku atau kami tidak akan membiarkan kamu bertemu adikku lagi! Hahaha..."


"You a selfish bastard!!" pekik Harv menarik tubuh Alex dan menjitak kepalanya tak berbelas kasih.


Fay memperhatikan keduanya ditengah rentetan pertanyaan dari kedua orang tuanya yang seolah seperti wartawan saat melihat artis papan atas yang tengah terciduk skandal.


'Ya Tuhan, doaku padahal tidak pernah meminta lebih... Tapi ini berlebihan... Aku sungguh tidak bisa menyangkanya... Tapi─'


Fay menyeringai mengulas senyuman cantik dan bahagianya. 'Tentu saja aku akan menerimanya dengan hormat, dibanding menolak dengan sopan. Hohoho...'


Fay berpikir kisahnya tak ubahnya buku dongeng dengan prolog once upon a time-nya... Dia terlihat seperti Cinderella yang bertemu pangeran kuda putihnya. Namun ternyata, dia salah... Dia bukan Cinderella, dia adalah Arrabella Pierce, putri yang hilang...


The End...


--------------


Finally...


Buku ini tamat, mohon maaf jika endingnya membagongkan. Tapi emang sengaja wekaweka...


Faye emang anak orkay yang tersesat...


Gak keliataaaan kan... Hohoho...


Harusnya satu chapter ini jadi dua, tapi othor bikin langsung satuin gini... Tujuannya biar gak kelamaan lagian review bab juga lama sekarang gaes... Kalian pasti udah siap2 nimpuk othor pake bata haha


Sekali lagi...


Terima kasih banyak, hatur nuhun, arigatou gozaimasu, xie xie, kamsahamnida, thank you...


Kalian yang masih setia di karya ini dan selalu beri dukungan othor doakan bahagia selalu, sehat selalu,murah rezekinya, dilapangkan hatinya, dimudahkan urusannya....

__ADS_1


Mohon maaf lebih dan kurangnya...


Ikan hiu nabrak kaca, ai lop yu pembaca :*


__ADS_2