Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 23 - Bullying


__ADS_3

Sinar mentari pagi menusuk kedua netra Fay membuatnya segera terjaga dari tidur malamnya yang bisa di katakan pulas sepulas-pulasnya.


Setiap kali suaminya meminta haknya tubuh Fay seperti kejatuhan batu asteroid besar yang membuat seluruh tubuhnya remuk redam rasanya.


Cup~


"Moning Cutie..."


Deg!


Fay tersentak, satu kecupan hangat mendarat di pipinya. Harvey masih berada di ranjang besar mereka yang porak-poranda.


'OMG!!' jerit Fay terkejut dalam hatinya.


"Aku sungguh merasa seperti tengah bermimpi kamu masih ada disini bersamaku!" tutur Fay mencium balik pipi suaminya.


Harv menaikan sudut bibirnya, "Apa kamu tidak ingin mandi sekarang?! Ini sudah jam 7.30 loh..." sahut Harv mengoda.


"APAAAAA?!" jerit Fay memegak kepala dengan kedua tangannya. Secepatnya dia memeriksa ponselnya dan benar saja, waktu sudah menunjukan pukul 07.31 saat ini.


"AAAARRGHHH HARVEEEEY SIALAAAAN AKU TERLAMBAAAT BEKEERJAAA!!" maki Fay lompat dari kasurnya menuju kamar mandi.


Satu kali dia sudah hampir membuat rapot merah dengan keterlambatannya. Kemungkinan kali ini dia benar-benar terlambat.


Harvey terkekeh dengan tingkah menggemaskan istrinya. Dia bangkit dan berencana mandi bersama. Harv bahkan berharap dia bisa mengusili istrinya di kamar mandi sekarang.


"Aaaarghh mobilku di kantoooorrr!! Huhu" Fay masih merutuk dan bertingkah mengenaskan saat ini.


Harv menyesap kopi kesukaannya dengan tenang sesekali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fay yang semerawut saat ini.


"Ayo, aku antar!" Harv bangkit merangkul pinggang istrinya yang tengah memakai high heelsnya.


"Apa jadinya nanti jika ada reporter yang menangkap foto kita!" Wajah Fay merengut sebal.


"Ya udah, kamu cari taksi aja biar semakin terlambat." goda Harv.


"HARVEEEEY!!" pekik Fay memukul tubuh kekar suaminya dan berlalu keluar mansion.


"Aaahh syebaal... Syebaaal!!"


Bug... Bug...

__ADS_1


Fay terus memukuli tubuh suaminya, Harv justru senang dia semakin terkekeh dengan tingkah kekanak-kanakan istrinya.


"Eh tunggu!!" Fay mengingat sesuatu. Dia bergegas masuk kembali menuju kamar utama dan mencari sesuatu di dalam laci nakas di sebelah ranjangnya.


"Dimanaa?! Seingatku masih banyaak kemarin!!" rutuk Fay mencari obat kontrasepsi miliknya yang tidak pernah dia lewatkan jika sudah berhubungan dengan suaminya.


"Haaiishh... Mereka pasti membuangnya!!" sungut Fay sebal berlalu dengan wajah di tekuknya.


Harv mengerutkan keningnya melihat raut wajah istrinya yang di tekuk lemas. "Kamu kenapa?!"


"Tidak ada apa-apa..." sahut Fay cepat menggelayut manja di lengan suaminya.


Harv mengembangkan senyuman lebar, rasanya semakin lama dia tidak ingin berpisah dengan istrinya.


'Kamu benar-benar mengalihkan duniaku Faye Yvonna...' batin Harv menarik wajah Fay dan menyesap bibirnya segera.


Sepanjang perjalanan dari mansion Fay menuju kantornya. Harv dan istrinya terus melakukan kemesraan dengan bertautan bahkan sesekali Harv mere mas dua squishy hidupnya membuat Fay tak kuasa mengeluarkan suara lenguhannya.


Will yang menjadi supir mereka saat ini harus bersikap profesional, dia berpura-pura tengah berada di dimensi lainnya dan berbentuk transparan di hadapan kedua sejoli yang sudah beberapa pekan semakin lengket bak plester luka yang menempel erat.


"Berhenti disini!" pinta Fay seperti biasa meminta turun lebih jauh dari pelataran lobby perusahaannya.


"Ini masih 10 meter lagi... Kamu bisa terlambat!" cegah Harv. Sejujurnya Harv tidak ingin berpamitan dengan istrinya. Dia ingin membawa Fay kemanapun dia pergi mulai saat ini. Sayangnya tidak ada yang bisa menandingi keras kepala Fay.


"Apa aku terlihat seperti simpanan dan membuatmu malu?!" berang Harv.


'Astagaaaa!! Udah telat makin telat ajaaaa...' rutuk Fay dalam hatinya.


"Bukan kamu sayang, tapi aku... Aku akan membuatmu malu karena terlihat seperti simpanan!" bujuk Fay menggunakan jurus rayuan gombalnya.


Harv menyeringai senang, pria itu memang paling bisa di bujuk saat Fay patuh dia akan mengampuni apapun kesalahan istrinya.


"Bye Honeeey... Cup~" pamit Fay mencium pipi Harv mesra.


Secepatnya Fay menutup pintu Maybach suaminya dan berlarian kecil menuju kantornya. Tak disangka seperti merasa dejavu Fay kembali bertubrukan dengan si tukang buat onar!


"Ck, kamu tuh seneng banget ya punya mata tapi gak di pake!!" rutuk Hailey mengejek Fay dan menghentikan langkah kaki Fay yang tengah terburu-buru.


"Aku tidak punya waktu buat ladenin kamu!" hardik Fay mencoba mendorong tubuh Hailey yang memblokir langkah kakinya.


"Oh ya?!" sahut Hailey bersiap melakukan serangan bullyan seperti pada targetnya yang lain. "Jadi, semisal aku ini ternyata Pak Devan terus kamu ladenin gitu?!" goda Hailey cukup membuat Fay tersentak.

__ADS_1


Akan sangat gawat jika hubungan gelapnya terekspos saat ini. Di saat suaminya masih berada di negaranya.


"Ups," Hailey memekik membuat beberapa pasang mata tertarik pada pertikaian keduanya. Fat masih berdiri terpaku disana. Dia bingung harus seperti apa terlepas dari Ratu Ular Berbisa satu ini.


"Aku yakin jika saat ini Pak Devan yang kamu tabrak bukan hanya meladeni omongannya. Tapi juga meladeni hasratnya!" ejek Hailey cukup jelas di telinga semua orang.


PLAAAAAK!!


Tanpa pikir panjang Fay segera menampar wajah bermuka dua Hailey. "Punya mulut satu tuh juga harus di jaga! Jangan cuma bisanya dipake ngomongin sampah gak bermutu kayak gitu." sungut Fay balik menyerang.


"Hah!! Kau sungguh berani menyulutkan peperangan!" maki Hailey tidak terima dan bersiap membalas menampar wanita di depannya.


Greeep!!


Semua orang terbelalak, gerakan tangan Hailey di hentikan oleh sebuah tangan besar dan kekar. Fay seperti dejavu dengan keadaannya saat ini.


'Harveey...'


Benar saja, suaminya tengah kembali menghentikan tangan usil yang bisa melukai wajah istrinya. Tubuh Hailey kaku sejenak, dia terpesona dengan ketampanan Harvey. Mendadak otaknya mereset ulang dan kini tengah dalam mode ja lang.


"Aku tidak menyangka sepagi ini harusnya orang produktif dalam bekerja, ternyata ada sebagian yang produktif mengganggu pekerjaan orang lain!" tukas Harv dingin dan melempar tangan Hailey dengan kasar.


Tak lama Will datang memberikannya sapu tangan. Seperti kejadian yang di ingat Fay semalam, suaminya akan membersihkan tangannya.


"A-anda sia-paa?!" tanya Hailey gagap. Antara takut karena tekanan yang dia rasakan, dia juga merasa terpesona dengan sosok Harv.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tingkahmu sungguh tidak pantas mengetahui siapa aku!"


Fay memutar bola matanya jengah, seolah sudah bisa menebak isi percakapan kaku suaminya itu.


"Heh, harusnya anda bisa melihat sendiri sebelumnya bukan?! Wanita ja lang ini yang menamparku duluan setelah dengan sengaja menabrakku!" cerca Hailey menunjuk ke arah Fay dengan raut wajah seperti korban pelecehan.


"Hah?!" Fay membuka mulutnya takjub. Ingin rasanya Harv mendekat dan memagut bibir menggoda istrinya.


"Semua orang juga tahu, kamu yang cari gara-gara sama aku!! Entah apa salahku padamu..." cicit Fay tidak ingin kalah. Bersidekap tangan dan membuang wajahnya geram.


'Jika bukan karena urusan bisnis kita, aku mungkin tidak akan pernah tahu kamu sepertinya selalu mendapat masalah di kantor! Seperti ini saja kamu tidak pernah mengadu padaku...' batin Harv merasa tidak nyaman.


Harusnya dia sebagai suami bisa menjaga istrinya dari ancaman luar dan melindunginya. Hanya saja Fay benar-benar sosok wanita yang mandiri dan tidak pernah banyak drama. Selama satu tahun bersama, sekalipun Fay tidak pernah mengeluh pada hidupnya yang keras di depan Harv untuk sekedar meminta perlindungan.


Selalu saja ada hal dari diri Fay yang kembali membuat hati Harv bergetar dan semakin meyakinkan pria itu bahwa dia telah jatuh cinta pada istrinya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2