
Belum ada sepuluh menit Fay di dalam kastil dia sudah ingin melarikan diri saat ini juga. Seperti inilah yang tidak diinginkan Fay dari kediaman besar. Fay di tuntut untuk segera menghasilkan generasi penerus Smith. Wajah Fay yang pucat membuat Harv menaikkan sudut bibirnya.
"Mom, tidak perlu terburu-buru, selama ini Fay sangat memuaskanku. Dia juga sudah menjadi istri yang baik." bela Harv di depan ibunya.
"Haiishh... Buat apa kepuasan jika tidak menghasilkan!" ejek nyonya Jane. "Lihat sepupumu, bulan depan mereka bahkan akan melahirkan putranya! Sedangkan kalian sudah satu tahun bersama tapi entah kapan aku bisa menggendong cucuku sendiri!" rutuk nyonya Jane mendadak moodnya anjlok.
Sedangkan Fay sudah begitu sesak dengan keadaannya, Harv menatap istrinya iba. Dia mengeratkan kembali genggaman tangannya menatap lembut istrinya sejurus kemudian menatap sepupunya dingin.
"Congratulation..." ujar Harv dingin.
Jiems yang mendapat tatapan dingin serta ucapan yang justru terdengar seperti ancaman itu hanya mampu tersenyum canggung bersama istrinya. Fay mengatupkan bibirnya menahan senyuman yang mungkin tidak pada waktunya.
"Jangan paksa Fay untuk segera menghasilkan keturunan. Dia akan hamil pada waktunya! Aku juga tidak sedang terburu-buru. Aku masih bisa berkuasa di SG Company hingga sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun ke depan!"
"Ehm..." Fay mendongak merasakan atmosfer yang kurang bersahabat. "Jangan salahkan aku Mom, terlebih Harv selalu meninggalkanku demi bisnisnya. Mungkin jika dia berusaha lebih keras membuahiku aku akan hamil." canda Fay justru seperti tengah menusuk Harv dari belakang.
'Bagusss kau ya!!' batin Harv ingin rasanya memberi pelajaran pada istrinya.
"HARVEEEEY!" pekik nyonya Jane berkacak pinggang siap mencerca putra sulungnya.
Fay mengerling senang kearah suaminya.
"Awas kau ya..." gumam Harv lirih yang di balas juluran lidah dari istrinya semakin mengejek dirinya.
"Apa kita akan menonton perselisihan membosankan ini? Aku lapaar!" rutuk Jade membuyarkan segalanya.
Nyonya Jane mendengus sebal, dia akhirnya menghentikan semuaya dan menyuruh Harv beserta istrinya duduk di tempat yang sudah di persiapkan. Tak berapa lama seluruh pelayan menyiapkan jamuan dan mereka memulai aktifitas makan malam di selingi dengan percakapan ringan namun tetap terasa berat bagi Fay.
"Harv, sampai kapan kalian menyuruh Mama menunggu cucu Mama hm?" Nyonya Jane menatap lekat putra sulungnya. "Mama belum tentu di beri umur panjang─"
"MAM!" hardik Harv dengan suara lantang dan menggelegarnya membuat kesemua orang terdiam berusaha tidak bersuara bahkan tidak berkedip jika bisa.
"Selama dia tidak siap, jangan membebaninya!"
"Tugasku hanya sekedar menanamkan benih di rahimnya. Tapi tugas dia?" Harv berbalik menatap Fay sendu. "Tugasnya lebih dari sekedar membawa benihku selama sembilan bulan di dalam perutnya!" imbuhnya lembut menatap Fay penuh sayang.
__ADS_1
Fay terpaku dengan apa yang tengah di lakukan suaminya kali ini di hadapan seluruh keluarga besar Smith.
"Kelak saat dia hamil, bisa di pastikan 100% hidupnya berubah. Bentuk tubuh yang berubah, selera makan yang berubah, perasaan yang juga akan berubah-ubah sesuai mood dan hormonnya." Harv mengusap wajah cantik Fay yang sudah memucat dengan air mata yang sudah tidak bisa wanitanya tahan dari sarangnya.
"Dia harus melewati masa penyesuaian dengan bayi yang bersatu dengan tubuhnya. Dia harus menerima dengan morning sickness-nya, dia akan mudah lelah, dia akan mudah emosional. Di saat dia merasa bentuk tubuh yang tidak secantik biasanya karena perut yang menonjol di tambah dengan perasaan yang sensitif bukan hanya dari ujaran jahat di luar dirinya. Dia sendiri mungkin tidak menerimanya, dia akan mudah merasa depresi atas apa yang belum pernah dia alami sebelumnya."
Fay masih terpaku di tempatnya, hanya air mata yang terus deras turun dari kedua netranya atas pernyataan Harv yang tidak pernah dia duga sama sekali. Tidak ada pembahasan hal ini sebelumnya, Fay tidak bisa percaya bahwa Harv akan mengatakan hal ini di hadapan ibunya sendiri.
Semua orang juga jelas tidak menyangka apa yang sudah di ucapkan Harv secara panjang lebar itu. Jade yang biasanya mengoceh kini ikut terdiam. Dia sepertinya menyadari satu hal, bahwasanya kakaknya benar-benar jatuh cinta pada istrinya. Bukan sekedar menjadikannya alat memenangkan saham satu tahun sebelumnya.
"Aku menikahinya bukan sekedar bercocok tanam atau ahli waris saja. Bahkan bukan sekedar memenangkan sejumlah saham." Harv menggenggam kedua tangan Fay dan menciumnya lekat. "Aku menikahinya karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang aku sayang dan aku cintai di dunia ini!"
Bergetar sudah tubuh Fay, dia sepertinya berada di dimensi lain, dia juga lupa caranya bernafas dan jantungnya melakukan malfungsi dengan berhenti sejenak dari aktivitas memompakan darah keseluruh tubuhnya. Dia tidak tahu apa yang di rencanakan Harv saat ini. Fay tidak ingin percaya begitu saja dengan kata-kata manis prianya. Hanya saja sorotan mata Harv yang sama seperti sorot mata yang hanya akan dia layangkan saat tengah menuju puncak permainan ranjangnya. Seolah ini benar adanya!
Tak lama setelah semuanya selesai dengan jamuan makan malam yang terasa canggung itu keduanya di minta untuk bermalam disana.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu?" tanya Fay memulai percakapan saat keduanya telah selesai membersihkan tubuh mereka dan bersiap beristirahat di kamar milik Harv.
"Karena aku suamimu tentu saja." sahut Harv membalikkan tubuhnya menatap Fay yang tengah terlentang.
"Bukankah seharusnya kamu memberikanku kompensasi karena telah membantumu lolos dari tetua Smith?" ujar Harv memainkan rambut tergerai istrinya.
Fay terbelalak dan berbalik badan menyamping berhadapan dengan suaminya. "Hah! Aku pikir kamu─"
Fay terbelalak saat ucapannya yang belum sepenuhnya keluar tertahan oleh bibir besar Harv yang sudah menyesap bibirnya.
"Fay..." Ingin rasanya Harv menyatakan perasaannya saat ini juga, hanya saja dia terbentur oleh gengsi dan egonya yang besar.
"Hmm?" sahut Fay sendu.
"Bolehkah aku meminta kompensasiku?" bisik Harv di ceruk leher istrinya menghindari rona wajahnya yang memerah, terdengar Fay sudah melenguh atas gerakan sensualitas yang di lakukan Harv saat ini.
"Maksud Tuan Smith aku membayar dengan tubuhku?" kesal Fay merasa hanya tubuhnya lah yang bisa menjadi alat pembayaran di antara keduanya.
Harv terkekeh lirih, "Bagaimana jika aku meminta bayiku?!" canda Harv di cuping telinga Fay.
__ADS_1
'Hahahaha aku sudah menduga, omongan sebelumnya itu hanya menunjukan sisi Harvey Smith Si Raja Bisnis yang mudah melobi, bukan Harv yang mencintaimu FAYE!' Fay tengah merutuk mengejek dirinya sendiri yang sudah begitu dibuat baper oleh prianya saat di meja makan bersama.
"Mari kita lihat, apa Tuan Smith bisa menghamiliku atau tidak?" goda Fay di depan wajah Harv yang sudah berhasrat.
"Apa kamu tengah meragukan kemampuanku Nyonya?!" tutur Harv menekan seketika merobek baju tidur tipis istrinya.
"AAAARRGHHH!"
Jeritan Fay mulai terdengar, setelahnya bersahutan dengan lenguhan berat dari bibir Harv. Fay lagi-lagi dibuat tidak tidur semalaman dan bisa beristirahat saat dia sudah lebih dulu pingsan.
---
Keesokan harinya...
Seluruh keluarga besar kembali berkumpul melakukan sarapan pagi bersama, semua wajah sudah berseri tidak seperti sebelumnya yang begitu tegang saat semua perkataan Harv mengintimidasi mereka.
Setelah saling menyambut satu per satu anggota keluarga nyonya Jane membuka pertanyaan ringan untuk Fay. Tapi tidak di diri Fay sendiri.
"Setelah ini kamu tinggal di sini ya, siapa tahu dengan sering melihat sepupumu kamu bisa ketularan cepet hamil! Harv juga bakalan Mama suruh dia pulang kesini terus!!" cicit nyonya Jane tidak sabar.
Fay hanya mampu tersenyum culas dengan canggung, dia berbalik badan menatap Harv meminta bantuan.
"Mam, Fay bekerja... Tidak mungkin dia mondar mandir kantornya kesini butuh waktu sejam. Dia bisa kelelahan dan tidak jadi hamil nantinya!" tutur Harv datar.
"Lagi pula Mama tenang saja, semalam aku sudah membuahinya. Mama tenang saja disini dan tunggu kabar baiknya." imbuhnya jauh lebih datat dari sebelumnya.
Nyonya Jane berbinar riang tapi tidak dengan semua orang lainnya yang tengah terbelalak atas penyataan Harv yang tidak sepantasnya di ucapkan saat mereka tengah sarapan.
"Benarkaaaah??!! Aaarrrghh... Ini yang Mama tunggu-tunggu!!" pekik nyonya Jane girang.
"Faye, jika kamu mulai merasa mual, kamu bilang sama Mama. Kita akan bersiap belanja seluruh keperluan bayimu!!"
"Eh tunggu dia perempuan apa laki-laki?! Apa jangan-jangan kembar lagi!"
Belum apa-apa angan nyonya Jane sudah melayang kemana-mana. Fay membuka mulutnya lebar membuat Harv gemas ingin rasanya melu matnya sekarang juga.
__ADS_1
To be continued...