
"Harv, mungkin Fay memiliki alasan tersendiri. Bisa jadi dia ingin mengejutkanmu nanti..." bujuk sang ibu pada putranya yang terlihat seperti tengah kecewa.
"Jika Fay sudah bangun cepatlah ke bawah makanannya akan dingin."
Nyonya Jane bangkit dan meninggalkan keduanya, ada rasa sesal di benak nyonya Jane saat mengutarakan pasal obat-obatan yang di resepkan oleh dokter Yun. Nyonya Jane sendiri begitu antusias dan ingin tahu obat apa gerangan. Dia tidak menyangka harapannya menjadi omma tahun ini terlaksanan.
Harv menatap sendu istrinya yang masih tertidur dalam dekapannya. Harv tidak menyangka saat ini juga ia menjatuhkan air matanya. Perasaannya sungguh membuncah saat mendengar penuturan ibunya pasal vitamin dan obat penguat janin. Apa mungkin Harv tengah bahagia? Tentu saja...
Tapi, ada rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata mengapa wanitanya tidak memberitahukan pasal kehamilannya? Terlebih, Harv begitu memahami sisi Fay yang sedari dulu ngotot tidak menginginkan seorang penerus.
"Lalu sekarang? Apa yang sedang kamu rencanakan Cutie?" gumam Harv lirih mencium pucuk kepala istrinya.
Dia merasakan kebas di tangannya, sudah hampir satu jam Harv menggendong istrinya layaknya menggendong seorang anak.
Harv mencoba menaruh istrinya di atas ranjang, anehnya dengan cepat Fay menggeliat dan menolak. Wanitanya tengah bersikap seperti bayi yang rewel tidak mau lepas dari gendongan ibunya.
"Jangaaaan... Jangan tinggalkan aku HARV!! Maafkan aku..."
Deg!
Harv terpaku, istrinya tengah mengigau. Fay memeluk erat Harv benar-benar tidak ingin terlepas.
"Cutie..." Harv menampar lemah pipi istrinya agar terbangun. Pasalnya tubuh Fay bergetar hebat saat ini.
Fay sontak terjaga dengan mata terbelalak menatap suaminya yang sudah bercucuran peluh sebesar biji jagung. Bahkan tangan pria itu seolah mati rasa saat ini.
"Honeey..." seru Fay merasa bersalah. "Apa aku ketiduran? Mengapa kamu tidak bangunkan aku?!" cerca Fay tidak ingin disalahkan.
"Aku mana berani mengganggu tidur nyenyakmu..." sahut Harv lembut menggosokkan hidung keduanya.
Fay tersipu malu, menundukkan wajahnya. Fia kembali tersentak. "Mommy!!" pekiknya.
"Hehe, Mommy bahkan sudah bolak balik datang memastikan apa kamu sudah bangun atau belum." tukas Harv dengan sedikit kekehan.
"Aarghh... Kalau begitu mari kita ke bawah!" tutur Fay mencoba bangkit dan bergegas menuju meja makan.
Grep!
Harv menarik salah satu tangan Fay, dengan wajah seriusnya pria itu menatap Fay dengan perasaan gusar. Inginnya dia langsung mencerca istrinya pasal obat yang di resepkan sahabatnya.
Kruuuukkk~
Hanya saja perut Fay berbunyi sangat nyaring membuat keduanya tertawa bersama.
__ADS_1
"Ada apa Honey?" tanya Fay mendongak memastikan. 'Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan.' batin Fay menyelidik dan gelisah.
Harv tiba-tiba terpaku, kata yang ingin terlontar tertahan di esofagusnya. Untuk pertama kalinya Harv tidak memiliki keberanian dalam berkata. Hanya Fay yang bisa membuat si penguasa negara bungkam dan takut padanya.
"Ah tidak, apa kamu sudah baikan?!" tanya Harv mengalihkan pembicaraan. "Aku mendengar kamu mengigau. Aku khawatir... Kesehatanmu belum pulih betul. Aku ambilkan makananmu kemari?" tawar Harv menatap sendu.
Fay terdiam sejenak, dia tidak tahu dia mengigau. Hal apa yang dia ucapkan saja dia tidak ingat.
"Tapi aku ingin di bawah!! Aku bukan pasien Harv!!" tolak Fay dengan sedikit merengek.
Harv terkekeh. 'Kamu menang Fay!! Aku sepenuhnya takluk di bawah kakimu... Hehe'
Tanpa basa-basi Harv menggendong Fay ala bridal dan bersiap turun ke lantai bawah bergabung bersama ibunya.
Fay begitu tersentuh dengan sikap Harv yang selalu memanjakannya. Dia mencium pipi Harv lekat, berbisik lirih menghentikan jutaan sistem syarafnya.
"Aku sangat mencintaimu suamiku tersayang..."
Dengan cepat Harv menyesap bibir mungil istrinya yang semakin hari semakin manis dengan kata-kata yang memabukan, menjatuhkan hatinya lagi dan lagi.
---
"Aaarrrghhh... Aaarrrghhh... Ya teruuss sayaaang... Give me more pleasure!!"
Tuan Jie kembali pulang menuju rumah wanita simpanannya. Sudah hampir sepekan lamanya pria paruh baya itu tidak berniat pulang ke kediaman besarnya bahkan untuk sekedar memastikan keadaan putri semata wayang yang biasanya dia manjakan.
Dddrrrtttt... Dddrrrtttt...
Di tengah pergumulan panas keduanya, ponsel tuan Jie berdering dan tentu saja menghentikan aksi panas mereka dengan saling bertatapan.
Ponsel tuan Jie tergeletak begitu saja di atas nakas samping ranjang. Bukannya langsung menyambar dan menekan tombol panggilan tuan Jie malah terkesan abai dan kembali menusukkan senjata tumpul yang ia banggakan di hole ternikmat yang ia punya saat ini.
Dalam benak Angella dia menerka siapa yang menghubungi prianya tengah malam begini. Tentu saja siapa lagi jika bukan nyonya Li, istri pria ranjangnya.
Dddrrrtttt... Dddrrrtttt...
"Ponselmu menyala lagi honeeey?!" ucap Angella mengingatkan namun sejujurnya dia tidak rela. Bagaimanapun bunyinya mengganggu aktifitas panas mereka.
"Heh," dengus tuan Jie kesal ada yang menginterupsi aktivitas ranjangnya. "Aku jawab sebentar ya sayang."
Tuan Jie terpaksa melepas miliknya yang tengah nyaman di dalam milik Angella yang memiliki berjuta rasa saat memasukinya.
"Lili..." lirihnya menatap nama di layar ponsel pintarnya.
__ADS_1
"Halo ma..." sahut tuan Jie segera.
"Pap!! Sudah seminggu kamu tidak pulang!!" rutuk seorang wanita di sebrang sana. "Apa masih tugas di luar kota?!"
"Iya ma, aku masih ada meeting dengan klien mencari lokasi untuk projek berikutnya!" bual tuan Jie.
"Huh, ingat besok Sheena ultah pap... Kamu sudah persiapkan hadiah untuknya kan?!" tanya nyonya Li cemas.
Dalam benaknya dia merindukan pria itu, habya saja gengsi yang besar selalu membuatnya terlihat angkuh.
"Oh astagaaa!!" pekik tuan Jie menepuk jidatnya. "Papa akan mencarinya disini. Apa yang ia inginkan ma? Kamu tanya dia ya nanti papa carikan..." ujar tuan Jie lembut
Angella sungguh teramat kesal mendengar percakapan keduanya yang terkesan memiliki hubungan yang harmonis. Wanita itu mendekati kekasihnya yang masih tersambung dengan panggilan istrinya.
Angella memeluk tuan Jie dari belakang tanpa sehelai benang di tubuhnya. Refleks tuan Jie seperti di berikan kejutan arus pendek listrik saat dua ujung bukit wanitanya menempel di punggungnya.
Dengan cepat tuan Jie membalikan wajahnya memagut bibir seksi kekasihnya. Dalam hati Angella bersorak riang.
'Aku kasihan padamu Nyonya Li, priamu tidak akan pernah mau melepaskanku!'
"Paaap?! Papa lagi apa?! Lagi makan kah?!" cerca istrinya saat terdengar lirih suara decit peraduan yang dia yakini bibir suaminya.
"Mmm iya ma... Nanti aku telpon lagi ya papa baru dapat makan malam!" sahut tuan Jie segera. "Aku lelah rasanya, selamat malam ma..."
Angella semakin bertingkah dengan langsung bersimpuh bersiap melakukan blow j ob yang akan membuyarkan konsentrasi tuan Jie sepenuhnya.
'Angella kau benar-benar seperti jalaaaang saat ini!! Hahaha'
"Sssshhh!!"
Tuan Jie segera menekan tombol merah dan melempar ponselnya di atas sofa menekan kepala Angella semakin dalam agar miliknya menembus tenggorokan sempit wanita ranjangnya.
"You're freaking bit*ch!!" umpat tuan Jie saat menerima layanan blow j ob terenak yang pernah dia rasakan selama dia bermain dengan para wanita. Apalagi istrinya yang sangat jelas tidak menyukai or al se ks itu. Dia mendaparkan apa yang dia inginkan dari seorang artis terbaik di negaranya!
Tuan Jie telah melakukan beberapa gaya selama semalaman mereka bercinta. Berkali-kali juga ia membenamkan benihnya di dalam rahim Angella. Gadis itu tidak menolak sama sekali, dia justru sangat menyukainya.
"Sayaaang, apa setelah ini kamu pergi lagi?!" rengek Angella melingkarkan tangan di pinggang tuan Jie yang beranjak dari ranjang.
"Heh, apa kamu takut aku tinggalkan emm?!" ejek tuan Jie. "Apa kamu jatuh cinta padaku Angella?!"
DEEG!!
To be continued...
__ADS_1