Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 87 : Baby Peanut


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, Fay dan Harv sudah berada di salah satu rumah sakit besar yang dimiliki oleh SG Company. Semua orang jelas menundukan tubuhnya saat Harv dan Fay turun dan menuju salah satu ruangan khusus obgyn atau bagian dokter kandungan.


Harv tengah begitu cemas, untuk pertama kalinya dia berada di ruangan yang mayoritas berisi ibu hamil. Fay terus mencoba menahan tawanya. Dia juga menahan tidak mengusili suaminya, Harv terus menyeka keringat di dahinya dengan berpura-pura memperlihatkan senyuman tampan pada istrinya.


Hal yang menyebalkan bagi Fay adalah seluruh tatapan mata para wanita disana lapar akan melihat ketampanan Harv. Mereka begitu iri pada Fay yang bisa memenangkan hati Harvey Smith. Pria paling berkuasa, paling tampan, paling kaya dan si paling-paling lainnya. Fay mengerucutkan bibirnya, dia juga dalam mode singa betina yang menjaga singa jantannya. Fay dengan sengaja menggelayut erat di tangan Harv, pria itu sedikit melunak. Kegelisahannya menguap melihat tingkah kekanak-kanakan wanitanya.


"Aduuuh, mimpi apa aku semalam bisa melihat langsung Tuan Muda Harvey..." lirih salah satu wanita muda yang terus mengelus perut buncitnya.


Fay mencibik dengan tatapan sinisnya, Harv kembali terkekeh tampan membuat semua wanita disana menjerit tidak tahan. "Sepertinya bayiku perempuan, Ibunya sungguh cemburuan! Hahaha"


"Syebal! Lain kali kamu datang kosongkan seluruh rumah sakit ini!" Fay mendengus sebal, emosinya memang diluar Nurul dan tak habis Fikri.


"Hahaha, sepertinya semenjak kamu hamil, kepribadian kita tertukar Cutie..." Harv terus terbahak menggoda istrinya.


Tak lama wajah seriusnya kembali mencuat ke permukaan, dengan satu kali gerakan tangan Will mengerti apa titah tuannya. Beberapa anak buah Harv sudah berdatangan dan menyuruh beberapa wanita hamil itu keluar ruangan untuk sementara waktu.


"Nyonya Harvey!" seru salah satu perawat memanggil Fay.


Fay segera bangkit di ikuti Harv yang tidak lepas menggenggam tangan istrinya. Keduanya telah berada di ruangan dokter kandungan. Dokter dan perawat bangkit menunduk menyambut keduanya. Harv menundukan kepala sebagai respon. Fay memutar matanya malas, suaminya kembali dalam mode raja yang harus dihormati dan disegani siapapun di negara XY.


"Selamat sore Tuan dan Nyonya!" Dokter menyapa dan menjulurkan tangan.


Fay menyambut dan melemparkan senyuman lebarnya. "Sore, Dok!"


Harv membantu menarik kursi untuk diduduki istrinya, dia benar-benar dalam sikap suami yang menyayangi dan menjaga sang istri dan bayinya. Dokter dan perawat pun dilanda rasa haru sekaligus iri pada pasangan yang begitu serasi dan sempurna seperti keduanya.


"Mari Nyonya, kita akan langsung memeriksa kondisi janin anda?" ajak sang doktor bangkit menuju ranjang pemeriksaan.


Fay bangkit di ikuti Harv yang mengekor di belakang memastikan semua berjalan aman. Walau sebenarnya, kehadiran Harv membuat keadaan mereka sungguh canggung. Perawat tengah membantu Fay untuk melakukan tindakan USG. Fay tengah berbaring dan siap melihat bayi yang sudah beberapa bulan berada di dalam perutnya. Perawat tengah menaruh gel di atas perut bagian bawah Fay. Dokter Obgyn kini menghampirinya dan bersiap dengan alat transducer yang akan memperlihatkan kondisi janin dan merefleksikannya di dalam monitor besar di hadapan mereka.


Harv berdir di samping Fay, debaran jantungnya bertalu-talu. Dia tidak pernah setegang ini sebelumnya, bahkan saat dia berhadapan dengan ribuan musuh bersenjata lengkap sekalipun tidak pernah membuatnya merasa setakut ini. 'Sebentar lagi aku akan melihat generasiku!'

__ADS_1


Fay mendongak menatap suaminya, dia melengkungkan senyuman tipis. Salah satu tangannya menggenggam tangan Harv yang tengah memegang bahu Fay perlahan. Harv tersadar, dia ikut menunjukan kembali senyuman sayangnya. "Kita akan melihat Baby Peanut sebentar lagi!" ucap Harv berbisik di telinga Fay.


"Peanut?" Fay terkekeh membuat perutnya berguncang perlahan.


"Ya, bukankah dia masih sebesar biji kacang?" Jawab Harv dengan wajah yang terlihat polos.


Fay tidak tahan untuk tidak tertawa, kedua orang lain ikut memeriahkan suasana.


"Baiklah, mari kita lihat Baby Peanut kalian ya..." seru sang dokter menggerakan alat di perut bagian bawah Fay. "Ini dia, sangat bagus... Kalian bisa melihat bentuknya bukan?" Dokter menatap kedua kliennya yang sudah menunjukan wajah harap-harap cemas mereka. "Janinnya sehat dan terlihat kuat!" sambungnya antusias.


Harv menelan ludah, dia terpaku takjub melihat keajaiban di hadapannya. Dia melihat benda kecil bergerak-gerak dalam perut istrinya. Walau masih berwarna hitam putih, bahkan rupanya pun masih samar tak begitu jelas. Tak terasa Harv meneteskan air matanya. Perawat dan dokter sungguh tersentuh dengan apa yang mereka lihat sekarang. Seorang penguasa negeri mereka tengah melupakan harga diri dan menangis saat melihat bayinya.


"It's Baby Peanut?" lirih Harv memastikan.


"Benar Tuan, Baby Peanut kalian bahkan ada dua!"


Harv dan Fay menutup mulut mereka bersamaan. Fay sudah mau hamil saja Harv sangat bersyukur, sekarang dia langsung diberi dua sekaligus! Rasanya dia ingin berteriak kencang seperti saat menonton bola dan tim jagoannya menang.


"Benar Nyonya, kebetulan kalian memeriksa kandungan di usia kehamilan yang sudah memasuki usia tiga belas minggu." Terang Dokter kembali memperlihatkan perut Fay. "Anda bisa melihat, ada dua kantung ketuban dan juga dua kantung plasenta. Ini artinya anda mengandung kembar non-identik yang memungkinkan ketidaksamaan jenis kelamin, sifat, hingga kemiripan wajah."


Harv mengusap air matanya cepat, dia langsung mencium kening istrinya. "Terima kasih Sayang..."


"Kenapa terima kasihnya sekarang? Aku kan belum melahirkan?" jawab Fay membuat suasana syahdu berubah menjadi kelakar.


"Apa sudah bisa diketahui jenis kelaminnya?" Fay kembali bertanya sebelum dokter mengakhiri pemeriksaan.


"Untuk jenis kelamin pastinya akan terlihat di usia delapan belas minggu ya. Tapi, seperti yang saya ucapkan sebelumnya. Karena ini kembar non-identik, kemungkinan besarnya akan terlahir sepasang."


Deg... Deg... Deg... Deg...


"Nah ini suara detak jantung Baby Peanut, terdengar sangat kuat. Sudah dipastikan keduanya dalam kondisi yang baik."

__ADS_1


Harv mengatupkan erat bibirnya, dia menunduk menutup matanya perlahan dan mengontrol hembusan nafasnya. Dia begitu emosional sekarang. Fay sendiri sudah merasa takjub dia menyeka air mata bahagianya, akhirnya dia memutuskan hal yang benar. Mempertahankan bayinya dan akan berusaha sekuat tenaga menjaga kedua penerus Smith yang sangat ditunggu oleh keluarga besar. 'Baik-baik di perut Mama ya, Sayang!'


Dokter dan perawat begitu terharu melihat sikap keduanya yang terlihat saling menyayangi satu sama lain. Mereka sempat menyangka bahwa mereka hanya tengah berakting semata. Ternyata, aura kebahagian mereka terlalu kuat sampai keduanya bisa merasakan bahwa hubungan Harv dan Fay bukan kepalsuan. Perawat membantu membersihkan sisa gel yang masih menempel, sedangkan dokter sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan penguat janin."


Harv membantu Fay turun dari ranjang periksa. "Berikan yang terbaik untuk Istri dan kedua anakku!"


"Tentu saja Tuan, tapi yang terpenting adalah kondisi fisik dan kejiwaan Nyonya harus diperhatikan." Dokter menatap serius ke arah kedua pasangan.


"Nyonya akan mudah lelah, keadaannya akan jauh lebih berat dibandingkan dengan kondisi kehamilan normal."


"Saya akan menjaga mereka!" Harv menatap Fay dengan sungguh-sungguh, namun dibalas juluran sedikit lidah Fay membuat Harv ingin memagutnya segera.


"Oh iya, apa aku boleh menggaulinya?" Harv bertanya hal yang sangat penting sebelum mereka keluar. Fay menutup wajah malu dengan pertanyaan polos suaminya.


"Hahaha, tentu saja boleh... Tapi mohon diperhatikan saja kondisi Nyonya, jangan memaksakan jika Nyonya dalam kondisi tidak fit."


"Dengar tuh Tuan Harvey Smith!" Fay memprovokasi suaminya dengan menepuk keras bahu bidang pria tampan di sampingnya. Harv menggelengkan kepala malu, tak lama keduanya sudah keluar dari rumah sakit dan kembali menuju kediaman mereka berdua.


To be continued...


Cuplikan bab berikutnya...


"Aku ingin kamu selidiki lebih detail tentang Faye Yvonna!" pekik Alex pada asisten khususnya.


"Mohon maaf Tuan, bukankah kita sudah mendapatkan sebelumnya?" selidik asistennya mengingatkan tuannya.


Alex begitu gusar setelah pertemuannya di restoran itu Alex justru diselimuti perasaan lain yang lebih kuat. "Bagaimana bisa matanya begitu mirip dengan Mama!"


----- Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan\, apa kalian semakin penasaran? Ini sudah part-part terakhir ya :)

__ADS_1


__ADS_2