
⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅
Satu tahun kemudian...
Di salah satu perusahaan ternama XCorp seorang wanita cantik rupawan tengah berbincang dengan temannya sebelum keduanya mengakhiri jam kerja mereka.
"Fay, hang out yuk!" ajak satu-satunya teman Fay yang ada di kantornya.
"Yok!" sahut Fay cepat mengiyakan dengan suka cita.
Keduanya berwajah sumringah dan meninggalkan kantor segera. Vanesha adalah rekan kerja Fay selama satu tahun ini di XCorp. Fay tidak memiliki banyak teman di kantornya, Vanesha lah yang senantiasa menjadi teman terbaiknya disana. Mereka memiliki kegemaran atau hobby yang sama yaitu mengunjungi club untuk bersenang-senang. Keduanya berjanjian bertemu di salah satu resto terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka sebelum benar-benar bersenang-senang seperti biasanya.
"Denger-denger lu deket sama Si Devan ya?" ucap Vanesha membuka obrolan di tengah suapan makananya.
"Ya deket lah, orang dia bos gue! Hahaha" sahut Fay dengan candaan seperti biasanya.
"Ishh! Maksud gue katanya lu punya hubungan khusus ama doi. Bener?" selidik Vanesha memicingkan matanya.
"Ehmm..." Fay seolah tengah berpikir. "Ya biasalah, deket tanpa status!" ujar Fay dengan seringai menggodanya.
"Ah sialaaan... Beruntung banget lu... Awas loh tar cinta beneran." cibir Vanesha.
"Gak lah, gue gak mau sampe libatin perasaan. Lumayan dia bisa mengusir kesepian dan menghalau kegabutan! Haha"
"Paraaah lu ah... Hahaha"
Keduanya terbahak bersama, memang sudah tidak bisa di tutupi rumor yang beredar antara kedekatan Fay dengan bosnya yaitu Manager Project bernama Devan William.
Triing!
Bunyi pesan notifikasi masuk di ponsel Fay membuyarkan sesi perbincangannya. Dengan sigap dia merogoh sling bagnya dan membuka pesan tersebut.
[ Malam ini aku pulang ke Condo! ]
Sudut bibir Fay terangkat, dengan lincah juga dia segera membalas pesan tersebut.
[ Oke sayang... See you... ]
Dengan cepat Fay menaruh kembali ponsel bobanya dan berbaur berbincang kembali masalah random lainnya kemudian dia pamit dan meminta maaf karena tidak bisa meneruskan sesi kesenangan mereka. Vanesha sedikit kesal, namun apa mau di kata Fay berkata dia ada urusan keluarga.
__ADS_1
Fay merahasiakan status pernikahannya pada siapapun, terlebih di tempat kerjanya. Bahkan sesekali saat dia mampir atau di butuhkan di kediaman Luke dia tidak mengucapkan apapun. Dia sungguh sakit hati oleh kelakuan mantan kekasih dan adik angkatnya itu. Sampai selama ini Fay belum juga melakukan tindakan pembalasan dendam. Dia belum cukup kuat untuk membalaskan semuanya, dia berpikir untuk melambungkan angan keduanya seolah semua karma mereka tidak berlaku. Fay hanya tengah menunggu waktu yang tepat!
Fay keluar dari kediaman, dengan alasan sudah bisa mencari biaya hidupnya sendiri. Mama Jo dan juga adiknya Greic tentu saja begitu senang namun terkadang tuan Luke merasa kasihan dan berharap Fay selalu mengunjungi mereka. Fay sendiri masih merasa berhutang budi atas apa yang sudah di berikan keluarga Luke padanya. Hanya saja Greic sungguh di luar batasan membuatnya muak dan pergi segera dari kediaman.
Di tengah pejalanannya dari resto ke pelataran parkir Fay dikejutkan dengan pelukan seseorang.
"Aarghh... Dev!" pekik Fay langsung berbalik badan.
Harum parfume pria itu begitu di hafal Fay, membuatnya tidak perlu waktu lama untuk mengenali siapa yang memeluknya.
"Bagus ya, kamu pergi gak kasih kabar!" rutuk Dev di ceruk leher Fay dan menciuminya liar.
"Arrghh... Dev ini di luar!!" Fay segera mendorong tubuh Devan yang merupakan atasan sekaligus patner FWB-nya (friends with benefit).
"Emang kenapa? Kamu kayaknya gak mau banget hubungan kita terekspos!"
Devan merutuki sikap Fay, dia mulai serakah tidak lagi menginginkan status FWB melainkan kekasih betulan.
"Dev... Kita sudah sepakat... Kita hanya teman saling membutuhkan!!" Fay menghindari Devan dan memasuki mobilnya.
Dengan menegaskan rahangnya Devan merasa marah atas perlakuan semena-mena kekasih gelapnya itu. Devan mendekat dan berbincang di pintu mobil pujaan hatinya.
"Sorry tidak hari ini ya, aku ada urusan mendadak... Bye honey!"
Fay segera menekan pedal gas mobilnya dan meninggalkan Dev disana sendirian. "Aarghh! Faye Yvonnaa... Mengapa sangat sulit mendapatkanmu..."
Devan memukul angin merasa emosi baru kali ini dia dipermainkan oleh seorang wanita.
"Kita lihat saja sayang, aku yakin aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Senyum Devan mengembang memikirkan wanita pujaannya.
Sedangkan Fay tengah melajukan mobilnya dengan cepat sebelum suami dinginnya itu lebih dulu sampai di kediaman mereka.
Ceklek...
Fay telah sampai dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok pria tengah duduk di tengah ruangan penthouse mewah miliknya.
"Sayaaang... Kamu kok udah sampe duluan! Katanya pulang malam?" Fay segera menunjukan sikap manjanya seketika menyambut suami dinginnya.
"Bukankah ini sudah malam?" Suara berat dan dingin khas suaminya begitu menusuk seolah Fay sudah tahu maksud dari suaminya adalah Ayo bujuk aku cepat, aku tengah marah!
Fay segera megecup pipi suaminya lembut namun pria itu tidak menginginkan sekedar kecupan di pipi saja. Dengan cepat Harv menarik tengkuk leher Fay dan menyesapnya perlahan. Fay menutup mata perlahan dan menautkan kedua tangannya di belakang tubuh suaminya.
__ADS_1
Ciuman itu semakin liar dan menuntut membuat Fay kewalahan dan mengerti prianya sudah mulai turn on.
"Sayaaang... Aku mandi dulu ya..." rengek Fay menyudahi dengan mendorong sekuat tenaga tubuh suaminya.
"Kalau begitu kita mandi sama-sama!" tukasnya dingin seperti biasa.
Fay membuka mulutnya takjub, setiap kali pria itu datang saat itu juga dia selalu saja bertingkah mesum sedari awal.
"T-tapii..." hardik Fay hati-hati.
Wajah memerah Harv terbit saat ini juga, Fay menelan salivanya. Ternyata dia salah strategi karena terlalu terburu-buru.
"Sayaaang... Apa kamu gak lapar ya?! Aku masakin makanan kesukaan kamu ya..." bujuk Fay manja mengusap rahang tegas suaminya yang bersih.
Wangi menggoda Harv sesungguhnya meruntuhkan pertahanan Fay. Hanya saja saat ini Fay begitu lelah, pria itu selalu datang tak berkabar pulang tanpa pamit!
Sudah satu tahun lamanya mereka bertahan dalam pernikahan kontrak. Dalam perjanjian itu tidak ada batasan waktu. Hal yang paling memberatkan Fay adalah hanya Harvey atau suaminya lah yang berhak memutuskan apakah hubungan mereka lanjut atau berhenti alias cerai. Fay tidak berhak memutuskan masalah itu.
Selama ini Harvey tidak menuntut sesuatu berlebihan pada Fay. Hal utama yang harus di penuhi Fay sebagai istri kontraknya tentu saja prihal hubungan fisiologis keduanya. Harv hanya akan datang untuk menuntaskan hasratnya, setelahnya pria itu pergi entah kemana.
Sudah satu tahun Harvey tidak tinggal setiap saat dengan istrinya. Bahkan Fay harus menerima kenyataan pahit lainnya saat suaminya terus digosipkan memiliki hubungan khusus dengan para artis kenamaan di negrinya.
Fay tidak ambil pusing, toh dia hanya istri kontrak. Dia mendapatkan apa yang diinginkannya, sumber daya yang tersedia serta di ijinkannya bekerja sesuai keinginan dan cita-cita Fay.
"Aaarghhh!!" lenguhan dari mulut Fay menggema di ruang tengah penthousnya.
Suaminya memang senang sekali menggagahinya dimanapun kapanpun sesukanya dia. Fay tidak berhak menolak, bahkan sering kalinya Fay kedapatan pingsan atas kebrutalan permainan panas suaminya itu.
"Arrghh... Aku sungguh seperti bermimpi kamu akhirnya menemuiku lagi..." ujar Fay di sela pelepasannya menyatakan kerinduan yang tiba-tiba menyeruak hatinya.
"Oh ya?! Apa kamu tengah merindukanku selama ini?!" goda Harv di depan wajah sayu istrinya.
"Iya... Aku sangat merindukanmu... Apa kamu akan pergi lagi begitu saja setelah ini?!" rengek Fay manja menautkan kembali kedua tangan di leher Harvey.
Cup~
Harv mencium kening istrinya, mengusap wajah cantik Fay dengan lembut. "Aku sudah bilang, kamu tidak perlu bekerja. Berhentilah, dan ikuti kemanapun aku pergi..."
Wajah Fay kembali berubah menjadi suram, suaminya selalu saja menyuruhnya berhenti bekerja.
To be continued...
__ADS_1