
Dua hari kemudian...
Fay merasa lega setelah mencurahkan sebagian kegelisahan hatinya pada satu-satunya sahabat yang ia punya. Vanesh juga berusaha untuk selalu mensupport yang terbaik untuk temannya, dia juga berjanji untuk tidak memberitahukan siapa pun pasal status istri seorang Tuan Smith.
Beruntungnya pekerjaan Fay tengah begitu padat, dia tidak begitu memikirkan bagaimana hatinya masih terasa nyeri karena dia mulai mencintai suami di atas kertasnya. Fay juga merasa tidak bebas akhir-akhir ini, dua maid dirumahnya membatasi pergerakan dia dan Devan.
"Fay, gimana progress berkas pengajuan kita?" tanya Devan keluar ruangan dan mendekati meja kerja Fay.
"Bagian design sudah menyerahkan hasil final prototype yang akan kita ajukan. Saya baru menerimanya, sepertinya siang ini sudah bisa anda verifikasi." terang Fay lugas.
Dalam hal pekerjaan mereka memang terlihat profesional, tidak akan ada yang mengira jika keduanya memiliki hubungan terlarang selama ini.
"Bagus, ini kartu nama asisten khusus Tuan Smith, kamu coba hubungi dia... Syukur-syukur kamu bisa langsung submit penawaran proposal kita lewat beliau."
Fay menerima kartu nama yang di tunjukan Devan untuknya, Fay mengulas senyum dan menganggukan kepalanya mengerti. Dia menerima kartu nama William yang tak lain asisten khusus suaminya. Fay merasa konyol saat ini, biasanya Will yang melayani apapun permintaannya.
"Aku ada meeting dengan manajemen siang ini, kamu gak masalah makan siang sendiri?" tanya Devan mengubah intonasi suara lebih santai seperti biasa mereka bercengkrama.
"Sure, kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku Sayang..." goda Fay berbisik di depan wajah bosnya.
"Kamu sungguh senang menggodaku!" sahut Devan tak kalah lirih dan menggoda Fay. "Nanti malam aku antar kamu pulang ya... Syukur-syukur kita bisa menghabiskan waktu bersama sejenak. Bagaimana?" ajak Devan merasa rindu bermesraan dengan kekasihnya.
"Kita lihat nanti ya..." jawab Fay mengulas senyum manisnya.
Devan mendengus kesal, terlihat Vanesha yang biasanya melontarkan kalimat cibiran atau sekedar mengejek kedekatan keduanya kini memilih diam dan pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Devan segera berbalik badan dan melakukan jadwal pekerjaan yang sudah di siapkan Fay sebelumnya.
"Kenapa gak lu akhiri segera hubungan gelap lu itu?!" tanya Vanesh akhirnya.
Meja kerja keduanya bersebrangan, hanya terpaut tiga langkah. Mereka juga biasa mengobrol sahut menyahut tanpa perlu bangkit dari meja kerja masing-masing.
"Aku juga mikir gitu kemarin... Sayangnay Devan memaksaku untuk tidak meninggalkannya." ucap Fay sendu.
"Heh, Si Bos beneran jatuh cinta ama lu ya?" cibir Vanesh dengan kekehan lirihnya.
"Huh, aku malah berharap dia membenciku dan membuangku sekarang juga..." dengus Fay frustasi.
"Ya udah kamu minta cerai aja sama Tuan Smith, kamu bilang tersiksa menjadi istrinya. Aku pikir kamu sama Devan cocok banget. Kalian juga gak mungkin kekurangan, Devan Bos elu..." saran Vanesh yang sangat masuk akal.
"Seandainya bisa Van, gue udah cerai sedari lama!" umpat Fay kesal.
"Lah?" Vanesh sungguh tidak tahan atas rasa keingintahuan lebihnya. Dia kini bangkit dan mendekati sahabatnya berharap bisa melakukan ghibah part dua. Fay yang melihat tingkah Vanesh menggelengkan kepala dengan kekehan lirihnya.
__ADS_1
"Kan tinggal minta cerai aja sih, beres..." sambung Vanesh sedikit menurunkan intonasi suaranya.
"Harv tidak mau, dalam perjanjiannya hanya boleh dia yang menceraikanku. Selama dia masih ingin aku menjadi Nyonya Muda Smith selama itu juga dia tidak akan menceraikanku." jawab Fay sendu.
Vanesh tiba-tiba berseri, "Berarti Tuan Smith jatuh cinta ama lu begooo!" umpat Vanesh seperti menyadari perasaan Harv.
"Mana mungkin, yang ada dia tengah gencar menyuruh aku melahirkan anak." hardik Fay tidak ingin terbawa suasana.
"Serius? Ya udah lu hamil, anak lu kasih ke dia terus say goodbye beres!" cicit Vanesh dengan sumbu pendeknya membuat Fay terpaku sejenak ingin rasanya memukul kepala temannya dengan tumpukan berkas yang ada di depannya.
Plaaak!
"Aarghh FAYE!" pekik Vanesh tidak terima menerima pukulan dari istri pria terkaya di negaranya.
"Aku tidak mau hamil!" sungut Fay menggebu.
"Bagi mereka aku hanyalah mesin untuk mencetak generasi penerus saja. Sayangnya, aku tidak ingin..." Fay memainkan kartu nama Will dengan tatapan kosongnya.
"Aaahh... Aku hanya ingin memberi saran saja, semakin lama kamu membohongi perasaanmu dan terus berpura-pura seperti itu aku yakin kamu tidak akan pernah bahagia kedepannya. Baik itu di samping Tuan Smith, maupun dengan Devan... Kamu akan terus di dera perasaan khawatir dan hidupmu tentu tidak akan pernah nyaman seperti sebelumnya." Vanesha menggenggam erat tangan Fay, dia juga mengatakan bahwa Fay tidak sendiri. Dirinya akan terus mensupport apapun yang di butuhkan Fay.
Tak lama keduanya bangkit meninggalkan ruangan menuju salah satu resto yang sedikit jauh dari area kantor. Mereka akan menghabiskan waktu makan siang yang cukup lama sepertinya, obrolan yang meraka bahas seolah tidak pernah habis untuk di bicarakan.
---
[ Honey, apa mungkin perusahan kecil XCorp bisa memenangkan tender bersama SGCompany? ]
Tring!
[ Berikan pada Will, dia akan mengurusnya. ]
Kedua netra Felly membulat, tidak butuh waktu lama suaminya membalas pesannya. Sungguh di luar nalar!
[ Apa kamu tidak ingin berniat meloloskannya saja? Mengingat istri Tuan Smith bekerja disana. ]
Fay merasa geli mengirim pesan seperti itu, tapi apa bolh buat. Demi pekerjaannya dia harus sedikit tidak tahu diri.
Tring!
[ Keluar dari sana, aku berikan kamu perusahan kamu pemiliknya! ]
"OMG!" pekik Fay lirih agar tidak membuat Vanesha menyadari tingkahnya saat ini.
__ADS_1
"Selalu saja seperti itu... Apa tidak ada lagi jawaban lain di kepalanya!" cicit Fay lirih merutuki suaminya.
[ Syebaaaal!! Besok kamu tidak usah naik keranjangku! ]
Fay semakin menjadi dengan ide gilanya mengirimkan pesan yang terdengar sarkas. Di lain tempat dimana suaminya yaitu tuan Smith tengah melakukan rapat koordinasi dengan beberapa staff perusahaannya mengulas senyum tipis di wajahnya setelah membaca pesan terakhir dari istrinya. Dia berharap pekerjaannya selesai sampai disini, dia ingin segera pulang menemui istrinya. Dia sungguh rindu...
Semua yang melihat ekspresi tuan dingin itu tersenyum saat menatap layar ponsel di tengah penjelasan rapat mereka saling tatap dengan wajah kebingungan yang jelas terpetakan disana.
"Jadi apa kesimpulannya?"
Harv kembali menaruh ponselnya tanpa membalas pesan terakhir istrinya, berharap rapat ini selesai dan dia bisa segera pulang. Seluruh staff kembali berkeringat dingin, tuannya sudah dalam mode awal dingin dan angkuh setelah sebelumnya terlihat melunak. Mereka sendiri tidak tahu hal baik apa yang bisa membuat senyuman seorang Harv terbit di wajahnya yang tampan namun kejam itu.
"B-Begini Tu-an," sahut salah satu kepala divisi mencoba menjelaskan segera. "Mengenai kerusakan sistem kami akan berusaha untuk memperbaikinya dalam waktu 24 jam." sambungnya gelisah.
"Dua puluh empat jam?" Harv mendelik tajam pada staffnya yang sudah terlihat pucat.
"Ehm... Du-a, Dua belas jam Tuan!" pekik si kepala divisi kembali menjawab segera.
Harv menaikan sudut bibirnya, "Good... Bubar!"
Semua orang mulai merapikan barang bawaan mereka dan bersiap keluar ruangan. Terdengar bisikan dari beberapa staff yang mempersoalkan perubahan sikap tuannya.
"Padahal dia tadi senyum gak jelas kan? Eh tahunya tetep aja badaaas..." cibir salah satu staff menggunjing tuannya.
"Huuss... Tutup mulut kamu, jika Tuan dengar kamu akan di tembak di tempat!" sahut rekan kerjanya yang langsung mengingatkan.
Harv menegaskan rahangnya dengan tingkah karyawannya barusan. Beruntungnya hatinya sedang dalam kondisi yang baik. Kedua orang yang membicarakannya lolos dari hukuman.
"Will, Fay mengatakan XCorp akan mengajukan kerja sama project dengan kita... Coba kamu cek!" titah Harv segera pada asisten pribadinya.
"Ehm... Maaf Tuan, saya belum memeriksanya... Karena masalah disini, saya belum tahu project mana yang anda maksudkan..." sahut Will dengan hati-hati.
BRAAAAAK!
"Apa kamu tengah menyatakan keteledoranmu sekarang?" berang Harv menggebrak meja dengan keras.
"Ma-af Tu-an... Ini murni salah saya, setelah ini saya akan memprioritaskannya." tutur Will menundukan wajahnya dengan gelisah.
"Bagus, siapkan jet kita akan pulang sekarang... Aku ingin menemui istriku..."
"Baik Tuan, silahkan..."
__ADS_1
To be continued...