
Pada keesokan paginya, pada jam yang sama -- menjelang subuh, Reza mengajakku berjalan-jalan sedikit. "On va a la plage. Ini malam terakhir kita di sini."
"Ke pantai? Jam segini?"
Dia mengangguk. "Satu jam saja. Malam ini sayang untuk dilewatkan," katanya sambil bangkit berdiri dan memakai mantelnya.
"Oke. Aku ganti baju dulu."
"Tidak usah. Aku suka gaun tidurmu, cantik."
"Hah?"
Wah, apa maksudnya? Tapi dipikirnya itu sudah cukup untuk meyakinkan aku.
Sambil berjalan menyusuri pantai, aku teringat waktu pertama kali dia mengajakku ke pantai pada jam-jam seperti ini -- sewaktu kami di Bali. Aku teringat saat pertama kali dia menciumku dengan bebas. "Kenapa kamu mengajakku ke sini? Mau menciumku di tepi laut?"
"Lebih dari itu," ujarnya. "Aku ingin berdansa di tengah keheningan. Hanya ada aku, kamu, dan musik. Bisa buka mantelmu?"
Aku mengernyit. "Dingin, Mas...."
"Kan ada aku."
__ADS_1
Aneh. Tapi aku tidak keberatan untuk itu. Kulepaskan mantelku dan kujatuhkan ke atas pasir. Aku mengambil tangannya yang terulur dan mengikutinya masuk ke garis lingkaran yang ia ukir sendiri -- seolah itu adalah lantai dansa. Reza melingkarkan tangan di pinggangku, dan aku memeluk lehernya. Intro lambat sudah mulai mengalun, kurebahkan kepala di bahunya lalu kupejamkan mata.
Aku mengangkat kepala setelah beberapa detik berayun-ayun mengikuti irama, dan menatapnya. "Tahu tidak, kamu benar-benar orang yang luar biasa," kataku. "Aku tidak tahu apakah aku pernah menyampaikannya, tetapi itu benar. Kamu memang luar biasa. Suami luar biasa."
Dia melihat ke bawah. "Terima kasih. Kamu juga istri yang luar biasa," katanya.
Lagu yang mengiringi dansa kami hampir berakhir ketika perasaan melankolis menguasaiku. Kesedihan, tampak jelas dan mencolok, melandaku, dan itu bukan hanya karena musik yang ringan atau lirik yang lembut.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Empat belas April, di tanggal yang sama dengan hari pernikahan kita, kedua orang tuaku dulu juga menikah di tanggal itu, juga di tempat yang sama. Aku tidak--"
Aku menganggukkan kepala. "Aku tahu kalau kamu tidak tahu tentang itu. Aku tahu itu hanya kebetulan. Itulah kenapa... yah, aku takut, Mas."
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Aku percaya padamu. Tapi...."
"Aku akan setia dan menua bersamamu."
__ADS_1
"Ba--"
"Percaya padaku."
"Ya. Tapi...."
Tidak. Aku tidak mau menyinggung-nyinggung soal traumanya.
"Sayang...."
Kuhela napas dalam-dalam untuk mengusir rasa sesak. "Sudahlah. Lupakan saja," kataku. Aku memperlambat gerakanku, lalu berhenti, menurunkan tanganku dari leher ke lengannya. "Cium aku."
Alih-alih menciumku, Reza justru menggendongku dan membawaku masuk ke air. Dia tidak peduli kendati aku meronta-ronta melarangnya.
"Aku takut dingin...," teriakku.
Tidak berguna. Saat itulah ekspresi wajahnya langsung berubah dari serius menjadi nakal. Sambil menggendongku -- dia berputar-putar hingga kami ambruk jatuh ke dalam air.
Sekujur tubuhku seperti kena serangan sakit kepala akibat makan es krim. Aku menggigil kedinginan.
Ketika kami muncul kembali ke permukaan, Reza menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong kegirangan.
__ADS_1
"Sinting!" kataku sambil lari ke pantai dengan gemetaran. Dia langsung mengejarku dan memintaku tetap menemaninya di dalam air. Hah! Gokil. Itu namanya cari mati.
Ketika dia berhasil menangkapku, kami justru tumbang bergulingan di pasir. Dengan secepat kilat dia berhasil membalikkan tubuhku, secepat itu pula dia membuka kaus dan memperlihatkan otot-ototnya yang kekar. Kemudian....