Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Anniversary Pertama


__ADS_3

Seperti di saat kami mengenang atau merayakan acara-acara sebelumnya yang hanya berdua, seperti itu juga pada perayaan ulang tahun pernikahan kami yang pertama, kami berniat hanya merayakannya berdua. Reza bahkan sudah menyiapkan gaun pengantin putih untukku, yang cocok untuk perutku yang sudah terlihat membesar. Kehamilanku sudah berusia tujuh bulan. Tapi berhubung momen itu bertepatan dengan Ramadhan pertama, tahu-tahu sore itu ibuku dan Aarin, beserta Ihsan yang bermuka masam -- datang tanpa pemberitahuan. Mereka tidak mengatakan kalau mereka berencana berkunjung ke rumah kami untuk buka bersama dengan kami.


"Surprise...," kata Aarin dengan suara level sepuluh saat aku membukakan pintu.


Waktu itu sudah jam lima lewat, dan itu benar-benar surprise -- kejutan yang benar-benar mengejutkan. Terlebih ketika melihat tiga buah tas dengan volume penuh yang kami yakin itu berisi pakaian ganti yang berarti mereka akan menginap, aku dan Reza jadi kikuk. Jujur saja kami senang atas kedatangan mereka, buka puasa pertama kami jadi lebih terasa nikmat dan hangat karena ada banyak orang. Soal makanan, Reza tinggal pesan dan minta karyawan untuk mengantarkannya ke rumah. Tapi, bagaimana dengan rencana perayaan ulang tahun pernikahan kami nanti malam? Karena yang datang itu ibuku, mungkin aku -- akan bisa -- bersikap senormal mungkin ketika ibuku melihat kami merayakan ulang tahun kami dengan cara berdandan ala sepasang pengantin, tetapi Reza -- dia malu, katanya.


Jadi malam itu, selepas tarawih dan selepas kami bercengkerama di ruang keluarga, ketika orang-orang sudah kembali ke kamar masing-masing, barulah aku dan Reza memulai acara kami dengan cara ala kadarnya, berduaan di dalam kamar.

__ADS_1


Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, ditambah beberapa menit waktu untukku berdandan dan mengenakan gaun pengantinku. Dan kusadari itu memang sedikit konyol, malam itu kami berdandan ala sepasang pengantin baru dengan gaun dan jas pernikahan. Dan rasanya pun sama, kebahagiaannya, kehangatannya, dan semua perasaan yang ada di hati -- semuanya sama. Bahkan tatapan penuh cinta di mata suamiku -- masih seperti dulu, hangat dan tidak berubah sama sekali.


"Kamu sama cantiknya seperti pengantinku di malam pertama," katanya sambil memelukku di depan cermin.


Aku tersenyum. "Kamu juga, mempelai priaku yang tampan dan gagah. Jadi, kita mulai dansanya?"


Reza pun mematikan lampu, dan sebagai gantinya ia menyalakan lampu-lampu hias yang menghiasi kamar pengantin kami. Cahaya lampu-lampu hias itu memberikan kesan romantis yang menghidupkan suasana malam anniversary kami. Dalam cahaya temaram, Reza dan aku memulai dansa kami malam itu. Meski tidak menyetel musik melalui speaker karena tidak mau mengundang perhatian seisi rumah, mendengarkan lagu menggunakan handset sama sekali tidak mengurangi keromantisan di antara kami. Juga alas kakiku yang lebih rendah -- yang membuat jarak antara aku dan Reza cukup kentara, tidak masalah jika aku harus mendongakkan kepalaku dan Reza harus menundukkan kepalanya untuk kami bisa saling menatap.

__ADS_1


Malam itu kami berdansa seperti malam 14 Mei tahun lalu, dengan lagu Beautiful In White, sambil mengingat-ingat kebersamaan kami di malam pengantin 14 April -- yang sudah halal tapi tidak bisa melangsungkan penyatuan fisik dua insan di malam pengantin.


"Terima kasih karena kamu sudah bersedia menikah denganku, meskipun saat itu keadaanku... seperti itu. Terima kasih karena kamu bersedia menungguku dengan waktu yang cukup lama. Terima kasih untuk satu tahun yang kamu habiskan untuk menemani dan mengurusiku. Kamu yang tidak pernah lalai menjalankan kewajiban sebagai istri, yang selalu setia dan tidak pernah menyakiti hatiku. Dan yang terpenting, terima kasih karena kamu selalu bersedia memaafkan aku -- juga mau bertahan di sisiku dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaanku sebagai suami. Kamu teman hidup terbaik, istri terbaik yang diberikan Tuhan kepadaku. Terima kasih, Sayang."


Aku menatapnya sambil tersenyum setelah ia memberikan satu ciuman hangat di keningku. Hatiku dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran mendengar cuap-cuapnya dan celotehan-celotehannya yang menyenangkan hati. Aku suka ucapan-ucapan terima kasihnya. Meski terdengar dan terkesan sepele, tapi -- dengan itu -- aku merasa sangat dihargai.


"Sama-sama. Aku ikhlas untuk semuanya. Meski kamu tidak seratus persen sempurna, meski kadangkala ada cerita pahit di antara kita, tapi aku mencintaimu: alasan bagiku untuk selalu bertahan di sini, untuk menemanimu. Tetap setia, ya, Mas? Karena aku ingin selalu bersamamu."

__ADS_1


Reza mengangguk. "Pasti. Selamanya," dia berjanji. Lalu, kami sama-sama tersenyum dan lanjut berdansa. Dan tiba-tiba...


__ADS_2