Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Hasrat Yang Tak Pernah Padam


__ADS_3

Seperti kebiasaan kami semenjak menikah, persisnya setelah bulan madu pada Mei tahun lalu, aku dan Reza berkomitmen bahwa kami akan menyambut setiap bulan dengan kehangatan. Jadilah pada setiap tanggal 1 awal bulan, kami selalu mengisinya dengan agenda khusus, dan ritual bercinta adalah suatu kewajiban. Tanggal 1 -- kami satu sama lain harus bersedia, harus mau dan tanpa penolakan. Bukan bercinta kilat yang menghabiskan waktu hanya beberapa menit, tapi secara khusus, dilakukan dalam tempo yang memuaskan. Karena kami percaya, itu bagus untuk menjaga hubungan kami tetap hangat selayaknya pasangan baru menikah. Reza berjanji, dia tidak akan menjadi suami yang kehangatannya memudar seiring menuanya usia pernikahan kami. Seperti janjinya dulu, dia akan selalu membahagiakan aku dan menjaga keharmonisan hubungan kami. Meski sebenarnya hubungan kami sudah pernah retak, dan momen tanggal 1 ini pernah terlewat pada Desember tahun lalu, tapi Reza berusaha semaksimal mungkin untuk menebus semua kesalahan-kesalahannya yang pernah ia lakukan. Aku hanya perlu menata dan menjaga hatiku supaya tidak selalu teringat akan kesalahan-kesalahannya yang sudah berlalu.


Hari itu tanggal 1 Maret, jam satu siang -- jam santai kami berdua -- kami pun memulai ritual bercinta di agenda khusus bulan itu. Dikarenakan usia kehamilanku yang hampir memasuki usia enam bulan dan perutku mulai membuncit, aku dan Reza sudah tidak bisa saling menempel dari depan -- anak-anak sudah menciptakan ruangnya tersendiri di antara kami, jadi, saat bercinta si Papa harus menempel dari belakang. Demi bercinta yang tetap nikmat saat aku dalam keadaan hamil dan perutku yang besar, kami sepakat melakukannya di depan cermin, dan dengan bantuan sandaran sofa tantra itu -- aku bisa menopang tubuhku.


Yap, seusai bercinta di hari valentine waktu itu, Reza sengaja memesan cermin baru. Besarnya seukuran pintu dengan lebar dan tinggi yang sama. Dia sengaja menaruhnya di sisi tempat tidur, tepatnya di sisi tempat aku tidur, jadi meskipun aku tidur memunggunginya -- dia tetap bisa melihatku melalui cermin itu. Itu salah satu fungsinya selain untuk bercermin. Fungsi lainnya kau juga tahu, kan?


"Jangan buka bra-ku, ya. Dan jangan kamu rema*," kataku saat kami hendak -- memulai proses pemanasan.


Dahi Reza langsung mengernyit -- heran sekaligus tak rela. "Kenapa?" tanyanya. "Jangan begitu dong, Sayang. Aku suka, tahu."

__ADS_1


"Ehm, ASI-ku mulai isi, Mas," bisikku.


"Lo, kamu kan lahirannya masih lama? Kok sudah isi?"


"Mau bagaimana lagi? Bagus malah sudah ada ASI-nya. Pokoknya mulai sekarang sampai dua setengah tahun ke depan, ini milik anak-anak. Kamu hanya boleh pegang."


Pasrah. "Baiklah," katanya.


Tetapi tetap saja, begitu kami mulai pemanasan, dia begitu ingin... melakukannya.

__ADS_1


"Aku suka melakukan ini. Apalagi melihat reaksimu sewaktu kujama* seperti ini. Kamu begitu seksi. Boleh, ya, Sayang, ya? Mumpung ASI-nya belum banyak."


Aku mendesa*. Ampun deh suamiku ini. Terpaksa aku mengalah, membiarkannya, sekaligus memperingatkannya supaya ia jangan sampai kepingin mencobanya. Meski tidak diharamkan, ASI ibu itu haknya anak-anak, bukan hak suami. Tidak haram bukan berarti wajib. Boleh tertelan, tapi bukan berarti dianjurkan. Aku tidak akan pernah memberikannya izin untuk mencicipi ASI-ku, dan menghindari ketidaksengajaan itu.


Dan, akhirnya pemanasan ini tetap seperti biasanya. Perlakuan ekstra di setiap titik sensitifku, dari atas sampai bawah. Setempel kepemilikan pun tak pernah lupa ia jejakkan di sekujur leher dan dadaku.


"Sayang, kamu tahu, aku suka melihatmu menggelia* nikmat. Tubuhmu... *esahanmu... itu membuat aura keseksianmu terpancar," dia berkata pelan di telinga.


Aku mengerti seksi yang ia maksud. Bukan seksi yang sama seperti saat seorang perempuan dengan pakaian berbahan minim atau pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh ketika perempuan itu memakainya. Sebab, Reza tidak akan suka bila aku memakai pakaian yang mengumbar lekuk tubuhku, apalagi sampai dilihat oleh pria lain.

__ADS_1


Setelah puas menikmati tubuhku dengan mulut, bibir, dan tangannya, Reza pun mulai masuk. Aku yang sudah tidak malu melakukan itu di depan cermin, sudah bisa menatap matanya saat dia menjamahk*. Meski dia di belakangku, aku bisa menikmati pemandangan indah dari tubuhnya, lengan-lengannya yang kekar dan berotot, dadanya yang bidang, dan perutnya yang sixpack seperti roti sobek. Dia, suamiku yang kekar, gagah, dan perkasa. Lelaki yang membuat hasrat dan gairah cintaku padanya tak pernah padam.


__ADS_2