Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Deg!


__ADS_3

"Tolong semuanya keluar dulu, ya," kata dokter yang merawatku. Ia meminta semua orang keluar dari ruang rawatku saat aku kesakitan, tak terkecuali Reza.


Tapi tidak. Aku tidak mau dia pergi. Kugelengkan kepalaku sambil menahan sakit. "Mas jangan pergi," kataku memohon. "Temani aku."


Yeah, karena aku takut. Aku tidak mau lagi jauh darinya walau sedetik, meski sejengkal. Aku ingin suamiku selalu berada di sisiku, dalam jarak pandang yang terdekat.


Lucu, memang. Ke mana Inara yang dulu pemberani? Inara yang dulu mengembara dan selalu sendiri? Kehidupanku saat ini sungguh berbanding terbalik dengan masa laluku. Bahkan saat ini aku memiliki sosok lelaki -- kekasih hati -- dan -- ayah -- yang ada dan berjuang keras untukku. Semuanya berubah begitu saja.


Yeah, memang, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa dipercayai seratus persen, bahkan suamiku sendiri. Tapi, nyatanya, dia tempat teraman dan ternyaman bagiku saat ini -- di sisinya, hangat dalam pelukannya.


Aku lega, dokter mengizinkan Reza berada di sisiku dan ia tidak merasa terganggu saat ia harus mengecek keadaanku, lalu menyuntikkan obat ke tubuhku hingga rasa sakitku pun mulai berkurang.


"Untuk sementara istri Anda harus bedrest total, Pak," jelas dokter. "Rasa sakit yang berulang-ulang ini berbahaya untuk kandungan istri Anda. Saya akan memberikan keterangan kepada pihak kepolisian untuk membiarkan pasien bedrest total, dan penyelidikan bisa dilanjutkan lagi nanti apabila keadaan pasien sudah memungkinkan."


Reza mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dokter dan suster yang mendampinginya pun keluar dari ruang rawatku.


"Masih sakit?" Reza bertanya sambil mengelus perutku.


Momen ini -- adalah hal sepele yang membahagiakan untuk ibu hamil -- ketika sang suami menunjukkan cinta dan sayangnya terhadap keluarga kecilnya dengan mengelus-elus perut istrinya. Dan di saat yang bersamaan, anak-anakku bergerak lincah menelusuri kulit perutku dari dalam. Reza sangat antusias memerhatikan dan mengikuti pergerakan anak-anaknya. Kendati rasa geli menggelitik perutku karena kekompakan anak dan ayahnya ini, tapi aku tetap membiarkan Reza dengan kebahagiaannya. Ini -- sedikit melebur ketakutanku.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Aku refleks menutup kembali perutku dengan baju pasien yang kupakai. Pun Reza yang menarik tangannya yang sempat tertutup bajuku. Sesaat kemudian Alfi dan Mayra tersenyum memamerkan barisan gigi mereka yang putih.


"Apa kami mengganggu? Kami ingin berpamitan, tapi rasanya ada sesuatu yang kurang kalau tidak menemui kalian dulu."


Reza dan aku hanya merespons dengan senyuman.


"Bagaimana? Bocah-bocah jagoan itu baik-baik saja, kan?" tanya Alfi.


"Puji syukur mereka baik," sahut Reza. "Mereka setangguh ayahnya."


"Yap, tentu. Percaya atau tidak, mereka akan terlahir sebagai jagoan."

__ADS_1


Deg!


Kata-kata itu. Saat mendengarnya aku merasa de javu, perasaanku saat itu mengatakan bahwa aku pernah mendengarnya. Tapi di mana? Kupaksakan otakku untuk mengingatnya, tapi itu justru membuat kepalaku sakit.


"Kenapa, Sayang?"


Aku menggeleng. "Kepalaku, sedikit pusing."


"Mau rebahan? Sini, aku bantu."


Aku menggeleng lagi. "Minta pijit saja, boleh?"


"Siap, Nyonya. Apa pun untukmu."


Aku tersenyum. Tapi langsung meredup tatkala Mayra berdeham. "Duh... manjanya ibu hamil ini," katanya.


Itu bukan ledekan, aku tahu. Tapi aku tetap merasa sangat tidak enak terhadapnya dan merasa canggung dengan situasi ini.


"Boleh aku menyentuh perutmu?"


"Please?"


"Oh, ya. Tentu boleh, May. Sini," kataku -- berusaha bersikap sewajar dan senormal mungkin di depan Mayra.


Dia tersenyum. Nampak senang sekali. "Ya ampun, lincah sekali mereka," ujarnya.


Ya Tuhan... rasakanlah, May. Aku tidak keberatan berbagi perasaan menyenangkan ini denganmu.


"Selincah papanya, ya?" kata Alfi -- dengan nada yang merubah makna lincah yang sebenarnya.


"Memangnya papanya lincah, ya?" si istri ikut-ikutan bertanya dengan agak berbisik.


"Uuuh... May. Luar biasa," sahutku. "Mungkin lebih lincah dari suamimu."


Haha! Kami semua tertawa.

__ADS_1


"Dasar rumpi!" sang korban menyahut dan semua orang semakin tergelak.


Dan akhirnya, Alfi dan Mayra pun berpamitan. Tetapi...


Mayra mengelus perutku sekali lagi, lalu tersenyum. "Sabarlah, semua ini akan berlalu. Dan seperti yang kukatakan: kamu yang akan menjadi pemenangnya."


Deg!


Ya Tuhan... apa mereka ada hubungannya dengan sosok misterius itu? "Auw! Ukh!"


"Kenapa? Sakit lagi?"


"Emm, ya. Sakit, Mas."


"Panggilkan dokter, Za," Mayra berkata dengan mimik khawatir.


"Tidak usah," kataku. "Aku mau rebahan saja. Mau istirahat."


Dengan sigap Reza membantuku.


"Jaga Nara, ya, Za. Jangan ditinggal-tinggal lagi," pesan Mayra.


Reza mengangguk, dan kedua suami istri itu pun berpamitan.


Mayra sempat mengelus tanganku, dan Alfi merangkul Reza, lalu keduanya melenggang keluar dari ruang rawatku diiringi Reza yang mengantar mereka hingga ke pintu.


Di saat itu juga, Erik mengatakan sesuatu pada Reza dengan berbisik.


"Aku menemui polisi dulu. Kamu ditemani Bunda dulu, ya. Sebentar saja. Tidak akan lama," kata Reza kemudian.


Sebenarnya aku tidak ingin dia meninggalkanku. Tapi...


"Bundanya mana? Suruh masuk dulu, baru kamu boleh pergi."


Repot? Iya. Tapi aku benar-benar parno kalau harus benar-benar sendirian.

__ADS_1


__ADS_2