Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kebohongan


__ADS_3

Tetapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. November datang membawa angin badai kencang yang mencambuk dan memorakporandakan rumah tanggaku. Dan ini bermula saat aku secara tidak sengaja menemukan ponsel Reza. Maksudku -- satu ponsel yang ia rahasiakan dariku.


Waktu itu aku kepingin mengganti seprai abu-abu gelap yang biasa kami pakai dengan seprai warna biru dengan motif bunga warna pink yang baru kubeli. Aku tidak sengaja menemukan satu ponsel yang sama persis dengan yang dipakai Reza. Secara kasat mata tidak ada perbedaan sedikit pun antara ponsel itu dengan ponsel miliknya yang ia pakai sehari-hari. Padahal, ponsel Reza ada di tangannya. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, saat keluar dari kamar, Reza membawa ponselnya dalam genggaman tangannya.


Lalu, untuk apa merahasiakan satu ponsel lain di belakangku?


Kucoba untuk mengotak-atik ponsel yang kutemukan. Tidak bisa. Aku tidak tahu password untuk membukanya. Di saat yang bersamaan, Reza kembali ke kamar dengan tangan kosong. Dari ekspresinya, dia agak terkejut melihat ponsel yang ada di tanganku itu.


"Ini ponselmu, Mas? Kok kamu selipkan di situ?"


Dia mengangguk. "Tidak apa-apa," sahutnya -- mencoba sesantai mungkin. Dia menghampiriku dan mengambil ponsel itu dari tanganku.


"Kamu ganti password, ya?"


"Oh, iya."


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa ganti password?"


Reza mulai salah tingkah. "Kenapa? Tidak apa-apa. Waktu itu ponselku nge-hang, terus aku servis. Jadi kuganti password baru."


"Apa?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Password baru kamu, apa?"


"Kepo."


"Aku tidak boleh tahu? Aku tidak berhak?"


"Bukan. Kamu berhak tahu, kok."


"Jadi?"


"Sebentar. Biar kuganti dengan password lama."


Kamu bohong, Mas. Kamu kira aku bodoh?


"Ini," katanya. Dia menyodorkan ponsel itu kepadaku.


"Mas."


"Emm?"


"Ada yang kamu tutupi dariku, ya?"


"Apa? Tidak ada."


Oke, baik. "Lihat ini." Kutunjukkan ponselku, aku sedang melakukan panggilan telepon ke nomornya. "Telepon ini terhubung. Tapi ponsel ini tidak berdering."


Reza semakin salah tingkah. "Aku sudah beli ponsel baru waktu ponsel ini diservis," alibinya. "Ponselku sepertinya ketinggalan di bawah. Sebentar." Dia langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


Aku menggeleng. Ini tidak wajar. Seandainya dia jujur, dia tidak akan memberikan jawaban berbelit-belit. Harusnya dia langsung mengatakan apa adanya tanpa aku harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menjebaknya. Dan sayangnya, dia cukup pintar, tidak ada jejak sedikit pun di ponsel rahasia itu. Bahkan semua sosial media dalam keadaan log out plus dengan password yang baru. Semua password akunnya sudah ia ganti.


Sabarlah, Nara! Jangan ribut-ribut di depan Bunda. Kamu pasti akan tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Kamu bukan perempuan bodoh yang akan mati ketika kenyataan pahit meruntuhkan duniamu.


Begitulah. Hingga pada hari-hari berikutnya aku berusaha menganggapnya hanya sekadar kejadian aneh saja dan hampir berhasil meyakinkan diri hingga kali berikutnya aku menemukan bukti kebohongan Reza yang lainnya. Sebuah screenshot kiriman dari Aarin membuatku membeku seketika. Aku langsung mencari-cari akun facebook Salsya dan mendapati banyak postingan yang membuatku tercengang.


Jakarta, 12 November.


Selamat Hari Ayah. Anak kita merindukanmu. Love you, Ayah RD.


Oh Tuhan... kuhela napas panjang. Berani sekali dia mengingkari janjinya kepadaku.


Masih menahan sabar, ku-scroll wall facebook-nya ke bawah untuk melihat postingan lainnya. Dan ada banyak. Tapi hanya tiga hal yang ingin kuamukkan pada Reza. Tiga hal yang membuat darahku menggelegak.


Bogor, 23 Agustus.


Ngidamku keturutan. Nasi goreng kaki lima. Nasi gorengnya memang biasa, tapi suapan dari tanganmu menjadikan nasi goreng itu terasa spesial daripada nasi goreng bintang lima.


Bogor, 11 Oktober.


Maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi demam.


Jakarta, 05 November.


Selamat datang ke dunia, Dinata kecil. Dan untukmu, terima kasih, sudah menjadi seorang ayah yang baik untuk jagoan kecil kita. Kamu ayah yang terbaik.


Ya Tuhan, aku sesak. Seketika duniaku terasa runtuh di atas kepala.

__ADS_1


__ADS_2