Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

"Keputusanku sudah bulat."


"Tapi, Mas--"


"Menurut, nikmati, dan jangan membantah."


"Well, kamu imamnya dan aku akan menurut."


"Istri yang baik," pujinya sambil mengelus kepalaku seperti seorang bocah.


"Sebentar lagi aku menjadi seorang ibu, kenapa kamu masih memperlakukan aku seperti anak kecil?"


"Karena kamu seperti anak kecil. Ambekan dan selalu minta diemong. Manja sekali. Iya, kan?"


Yap. Kuakui itu benar. Aku jadi tersenyum saat menangkap sorot matanya yang menatapku dengan cinta. "Yah, terserah. Dibilang seperti anak kecil tidak apa-apa. Tapi kamu harus berjanji kalau keadaan kita akan baik-baik saja selama di mes, ya?"


Dia mengangguk dan meraih tanganku. "Pasti. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku akan selalu ada, selalu di sampingmu, dan selalu menemanimu."


"Uuuh... manis sekali suamiku ini."

__ADS_1


"Tentu saja manis. Tapi... ada, lo, sesuatu yang lebih manis lagi."


"Ya ampun... haruskah aku pura-pura tidak tahu dan bertanya apa itu?"


Haha!


Tapi nyatanya rasa manis itu seketika luruh saat aku mesti menghadapi kekhawatiran itu.


Hari itu, hujan lebat sudah turun sejak pagi, membasahi jalanan dan membasuh semuanya dalam kabut kelabu yang murung, warna-warni berani lampu di sisi-sisi jalan dan rumah-rumah serta bangunan menjadi satu-satunya pengecualian dari keredupan itu. Setelah perjalanan lambat yang membuat frustasi karena terjebak dalam antrean lalu lintas yang tidak berujung, akhirnya kami tiba juga di resto, tempat yang satu setengah bulan lalu -- hampir dua bulan lalu -- memberikan kenangan terburuk dalam ingatanku. "Aku takut," kataku saat pintu mobil terbuka dan beberapa pasang mata melihat ke arah kami.


"Rileks. Terserah dengan orang lain. Tapi di sini, tidak akan ada seorang karyawan pun yang berani mengatakan hal buruk tentangmu. Tidak satu pun. Oke?"


"Lihat aku," pinta Reza, dia berkata sesaat setelah menutup pintu ruang mes di belakangku. Dengan lembut, kedua tangannya menyentuh pundakku. "Aku janji, semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha sebisa mungkin membuatmu melupakan kejadian itu."


Oh, seandainya bisa.


"Apa itu alasanmu membawaku ke sini?"


"Yap. Salah satunya."

__ADS_1


"Maksudnya? Ada alasan lain?"


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sayang. Aku hanya ingin kamu bedrest total. Karena apa? Kalau di rumah kamu pasti petakilan, pecicilan, atau... apa yang sering kamu bilang itu...?"


Ya Tuhan... aku terkekeh. "Nyerekel," kataku.


"Iya, itu. Nyerekel. Mau masaklah, cuci ini, cuci itu, menyapu, mengepel, dan lain-lain."


"Berlebihan kamu, Mas. Itu kan pekerjaan ringan. Masa aku nggak gerak sama sekali?"


"Iya. Kamu boleh mengerjakan itu, tapi nanti kalau kamu sudah benar-benar sehat."


Aku baru hendak menyahut ketika bibir manis itu mengulu* bibirku dengan lembut.


"Mau lagi?"


Aku mengangguk seraya tersenyum malu. Tanpa ragu, ciuman kedua memaut sempurna dan jauh lebih lama. "Hati-hati. Ciumanmu bisa membuatku bergairah di saat cuaca dingin seperti ini. Itu pekerjaan yang berat, bukan?"


"Baiklah. Tidak lagi. Sekarang kamu istirahat." Reza langsung mengangkat dan menggendongku ke tempat tidur. "Mas sayang kamu. Jadilah istri yang penurut."

__ADS_1


Ya ampuuuuun... selama sisa hari itu, kata-kata manis Reza itu terus terngiang di benakku.


__ADS_2