
Sepeninggal Aarin dan Ihsan, aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengerjakan pekerjaanku yang belum beres. Dengan segera aku membilas dan menjemur cucianku, plus mencuci piring yang tadi terpaksa kutinggalkan karena buru-buru pergi menyusul Reza. Untung saja aku sudah menyapu lantai dan beberes kamar sebelum Reza berpamitan, sehingga aku tinggal memasak nasi dan segera bersih-bersih diri. Dengan terseok-seok aku naik ke lantai atas, aku harus mandi karena tubuhku bau keringat, belum lagi debu jalanan Jakarta yang menyerbu kulitku. Itu bisa membuat Reza curiga kalau aku tidak segera mandi.
Tapi tetap saja, aku tidak punya cukup waktu. Suara Reza sudah menggema dari lantai bawah sewaktu aku selesai mandi. "Sayang...," panggilnya. "Kamu di mana?"
"Aku di kamar...," seruku.
Hanya berselang beberapa detik kemudian, Reza sudah muncul di pintu kamar dengan wajahnya yang girang, sebabnya dia yang beberapa jam lalu berpisah denganku -- begitu melihatku lagi -- aku dalam keadaan hanya terbungkus handuk.
"Waw! Penyambutan yang menyenangkan," ujarnya.
Aku menggelengkan kepala melihat cengirannya yang edan. "Jangan macam-macam, aku baru selesai wudu."
Dia merengut. "Ya sudah. Aku tunggu di bawah, ya."
Fiuuuh... selamat. Kakiku pegal, tahu!
"Eh, sebentar. Motormu ke mana, ya? Kok tidak ada di garasi?"
Aku harus jawab apa? Aku mana boleh berbohong. "Ada di bengkel, Mas. Ihsan yang bawa."
"Oh, Ihsan tadi ke sini?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Aku tidak berbohong. Jawabanku jujur. Motorku memang ada di bengkel. Ihsan yang menelepon tukang bengkel. Ihsan memang ke sini untuk mengantarku. Aku hanya tidak bisa menceritakan yang selengkapnya. Maafkan aku, Mas....
"Ya sudah, salatlah dulu. Aku tunggu di bawah, ya."
Aku mengangguk, lalu cepat-cepat berpakaian, salat, dan menyusulnya ke bawah untuk makan siang.
"So sweet... manisnya suami Nara. Terima kasih, Mas."
Dia tersenyum senang. "Cuma menyiapkan makan begini saja dapat pujian. Ini tidak sebanding, tahu, dengan yang kamu lakukan setiap hari. Terima kasih, ya. Kamu bersedia mengurusku selama ini."
"Sama-sama, Mas. Itu kan sudah kewajibanku."
Reza mengangguk, dan matanya berkaca. Aku tidak tahu apa yang ada di hati dan pikirannya saat ini.
Kenapa dia pulang-pulang jadi melankolis begini? Aku heran. "Kamu kenapa? Hmm? Tolong, jangan sebut dirimu sebatang kara lagi. Kamu punya aku, istrimu."
"Iya, iya. Tidak usah dibahas. Ayo, mari kita makan. Dede-nya Papa sudah lapar."
Praktis, wajah Reza kembali ceria.
Setelah kenyang sehabis makan siang, kupaksakan kakiku berdiri dan mencuci piring di wastafel. Setelah itu, aku terseok-seok ke sofabed, mengistirahatkan kakiku dan melemaskan otot-ototku. Kendati demikian, aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan Reza.
__ADS_1
"Sudah santai, kan?" tanyanya seraya duduk di depanku. Dia mengangkat dan menaruh kakiku di atas pangkuannya.
Aku mengangguk. "Iya. Makanya sekarang aku selonjoran."
Dia tersenyum. Kusadari -- meski matanya menatapku, tapi tangannya menyusuri kakiku, menyelinap masuk ke balik dress-ku dan menggosok-gosok pahaku. Aku tahu persis maksud dan tujuannya, aku tahu dia menginginkanku sedari tadi. Tapi aku harus menghentikannya sebelum dia keterusan.
"Mas, aku kepingin es krim rasa mangga."
Seperti dugaanku, dia akan sangat senang setiap kali aku meminta sesuatu, baginya itu ngidam. Reza pun langsung mengelus-elus perutku. "Anak Papa mau es krim? Iya? Oke, langsung Papa belikan sekarang," katanya bicara dengan anak-anaknya di dalam perutku. Kemudian dia langsung berdiri dengan semangat empat lima. "Tunggu, ya, Sayang."
"Lo? Aku mau ikut, Mas."
Dia menggeleng. "Di luar itu berbahaya, Sayang."
"Tapi aku mau ikut...."
Well, akhirnya Reza mengangguk. Tapi kamu nanti diam di mobil, jangan ikut keluar. Deal?"
"Iya. Aku janji."
"Ayo."
__ADS_1
"Gendong...," aku merengek. Tapi toh berhasil, dia bersedia menggendongku yang sekarang sedikit lebih gemuk.
Ah, senangnya.