Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Hari Kemenangan


__ADS_3

Kumandang takbir sudah menggema sejak semalam. Hari ini, pagi-pagi sekali aku dan Reza sudah tiba di rumah bibiku, sengaja -- karena sesuai rencana, semua orang akan salat ied di rumah saja. Aku suka sekali nuansa putih yang pagi ini menyenangkan hati, semua orang kompak.


Setelah selesai salat ied, agenda selanjutnya adalah sungkeman. Ibuku sebagai orang yang paling tua di antara kami -- adalah yang pertama mendapat penghormatan untuk duduk di kursi di mana semua orang akan sungkem kepadanya. Kemudian disusul pamanku, lalu bibiku, dan seterusnya sesuai usia: Reza, aku, Ihsan, Aarin, Rafasya, Randika, Raline, dan terakhir Raheel.


Yang menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam sungkeman ini tentu saja saat Ihsan yang mendapat giliran sungkem. Pertama ke ibuku, lalu bergeser ke pamanku, lalu ke bibiku. Dan setelah itu...


"Maaf," katanya ketika ia duduk berlutut di depan Reza. Dia ingin langsung bergeser ke depanku tapi aku melarangnya.


Tidak semudah itu, Ferguso....


"Minta maaf yang benar," kataku. "Dengan setulus hati."

__ADS_1


Ihsan melotot, tapi akhirnya dia menyerah. "Iya, iya," sahutnya dengan enggan. "Maaf untuk semua hal yang sudah terjadi selama ini. Maaf atas semua sikap dan tindakanku yang mungkin melewati batas, walaupun menurutku tidak sama sekali, dan aku tidak merasa bersalah."


"Ihsan...," tegurku.


Dasar!


"Intinya aku minta maaf, semua yang kulakukan selama ini hanya untuk melindungi saudariku. Kita kembali ke awal lagi, nol-nol, oke? Itu pun kalau kamu tidak melakukan kesalahan lagi."


"Mas memaafkanmu, dan memaklumi semuanya. Mas juga minta maaf, ya? Maafkan Mas karena selama ini sudah membuatmu marah dan kecewa."


Ihsan mengangguk tanpa mengiyakan dan langsung bergeser ke depanku. "Aku minta maaf, ya. Maafkan atas semua kesalahanku. Yang kulakukan selama ini -- semuanya hanya karena aku sangat sayang padamu."

__ADS_1


Aku mengangguk. "Iya, aku mengerti. Aku memaafkanmu. Maafkan aku juga, aku sering merepotkanmu selama ini. Terima kasih karena kamu sebegitu sayang padaku. Peluk dulu, sini."


Uuuh... senang dan lega sekali rasanya. Perasaan sungkeman tahun ini berbeda, kali ini terasa satu sama lain saling meminta maaf benar-benar dari hati ke hati. Pun saat aku meminta maaf pada Reza, aku sudah sungkem secara pribadi tadi pagi setelah salat subuh. Aku sudah mencium tangannya dengan khidmat, mengutarakan permintaan maafku atas sikap-sikap egoisku setiap kali kami bertengkar yang -- aku selalu ingin berada di posisi paling benar dan tidak mau mengalah. Saat mengakui kesalahan pun aku tetap egois ingin berada di posisi yang dibenarkan, dimaafkan, dan tidak boleh dimarahi. Dia juga meminta maaf padaku, tapi aku enggan mendengarkan penjabarannya yang panjang.


"Ssst... Nara memaafkan semuanya. Semua kesalahan Mas Reza. Tidak perlu dijabarkan, dan sebaiknya jangan bahas semua kesalahan-kesalahan yang sudah lewat itu. Hanya tolong, teruslah membuatku bahagia. Jika kita bahagia, kita tidak punya waktu untuk mengingat-ingat masa lalu. Apa aku benar? Hmm?"


Reza tersenyum. "Benar. Dan itu kata-kataku. Aku senang kamu memiliki memori yang tajam sehingga kamu mengingat apa yang pernah kukatakan. Sini, Mas peluk."


Terima kasih. Kamu mengajarkan aku banyak hal tentang cinta dan kehangatan.


Saat itulah: makna kemenangan itu terasa di hati.

__ADS_1


__ADS_2