Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Canda Dan Tawa Bersamamu


__ADS_3

Harus kuakui, setelah lama tak tersentuh olehnya -- rasanya senikmat dan sehangat seperti malam pertama -- apalagi aku tiba-tiba serasa menjelma seperti pengantin baru: seorang mempelai wanita yang masih malu-malu.


"Trims, Kesayangannya Mas Reza," dia berbisik dengan senyuman dan tatapan mata yang membuatku salah tingkah.


Bibirku pun langsung merekah karena sikap manisnya kepadaku, dan senyuman bahagia tak hentinya mengembang menghiasi wajahku malam ini.


Sejenak kemudian, Reza beringsut, duduk bersandar bantal di tempat tidur seusai kami melepas kangen malam itu. "Aku ingin mengobrol denganmu," katanya. "Kita belum pernah benar-benar mengobrol sejak kamu pulang."


"Dengan senang hati," kataku pelan. Aku merapatkan diri ke pelukannya sambil menahan selimut supaya tetap menutupi tubuhku yang sudah tak terbungkus apa pun. Lalu kusandarkan kepalaku di bahunya. "Mau membicarakan apa?"


Dia mengedikkan bahu. "Apa saja," katanya. "Aku hanya tidak ingin cepat-cepat tidur. Terlalu banyak waktu terbuang tanpamu." Dia menatapku tanpa kedip, seperti mata lensa yang ingin merekamku dan mengabadikan aku ke dalam ingatannya. Aku mendapat kesan bahwasanya ia takut kalau kehangatan keluarga kecil kami ini hanya untuk sesaat. Seolah ini hanyalah mimpi, dan saat ia terbangun dari tidur -- kenyataan akan segera menyeretnya kembali ke dalam kesendirian yang menyiksa.


Aku yang merasa bersalah kepadanya langsung meraih dan menciumi punggung tangannya dengan sepenuh hati. "Aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu terlalu lama. Aku salah karena sudah mengabaikan kewajibanku sebagai istri. Maafkan aku, Mas."


Dia menegakkan bahu dan sedikit bergeser menghadapku. "Bukan salahmu. Aku yang salah. Aku terlalu pengecut. Tapi aku janji--"


"Ssst... berhentilah berjanji. Kamu tidak perlu mengucapkan janji apa pun." Aku takut janji itu membuatku menaruh harapan besar, dan ketika kamu mengingkarinya lagi, hatiku yang sedang kutata akan kembali hancur -- untuk ke sekian kali.


Reza menggeleng, lalu mengangkat tangannya dan menaruhnya di atas kepalaku. "Baiklah, kali ini aku bersumpah, dan aku tidak akan mengingkari sumpahku. Aku tidak akan memedulikan Salsya lagi, sekalipun ia ingin mati, aku tidak akan lagi menghiraukannya. Aku tidak akan lagi mempertaruhkan kebahagiaan keluarga kita."


"Sungguh?"


Dia mengangguk. "Demi Tuhan. Biar aku mati kalau aku mengingkarinya lagi. Biar aku mati."


Kuhela napas panjang yang menyesakkan dada setelah menurunkan tangan Reza dari kepalaku. "Jujur, aku sulit untuk percaya. Tapi aku mau kita mencoba untuk memperbaiki segalanya. Tepat di momen tahun baru, kita mulai menata hidup kita yang baru. Kamu mau, kan, berjuang bersamaku?"


Reza mengangguk. "Tentu." Tanpa ragu ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


"Oh ya, omong-omong soal tahun baru...."


"Mmm-hmm...."


"Kita barbekyuan, yuk?"


"Baiklah. Apa pun untukmu, Sayang."

__ADS_1


"Uuuh... Nara sayang Mas Reza."


Dia tersipu malu. Cute sekali. "Mas juga sayang kamu. Sangat sayang."


Tapi sejenak kemudian, dengan tampang ragu-ragu dan sambil menatap mataku, dia menelusupkan tangannya ke bawah selimut, menempelkannya di atas perutku. Aku bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya. Sepertinya denyut nadinya seirama dengan denyut nadiku sendiri. Kami kompak.


"Mas boleh pegang perutmu?"


Ya Tuhan... aku tertegun, dan menelan ludah getir. Perlakuanku kemarin-kemarin itu sangat membekas dan melukai hatinya.


Aku mengangguk. Sekarang giliran aku yang menegakkan bahu dan menatapnya. "Apa pun boleh. Mulai malam ini, Nara sudah seutuhnya milik Mas Reza lagi. Mas boleh minta apa pun, dan Mas bebas menyentuh Nara. Nara masih istrinya Mas Reza, kan?"


Dia mengangguk. "Selamanya."


Untuk situasi seperti ini rasanya tidak aneh bicara tanpa aku-kamu dengannya. Aku tidak risih untuk bermanis-manis terhadapnya. Masa-masa yang sangat kurindukan. Kami saling menatap beberapa saat, cukup lama sampai akhirnya Reza tidak segan lagi menangkup wajahku dan mencium bibirku dengan bebas. "I love you," bisiknya ke telingaku hingga membuatku meremang.


"I love you more."


"Terima kasih sudah mau pulang."


"Kamu tahu, kan, tanpamu kehidupanku terasa hampa?"


"Aku juga merasakannya. Aku pun merasa hampa tanpa kamu, Mas."


Sekarang matanya kembali berkaca. "Aku bahagia, Sayang," katanya. "Sekarang kamu ada di sisiku lagi. Kamu penyemangatku, sosok yang membuat hidupku berwarna."


"Mmm-hmm...."


"Kamu penyempurna hidupku."


"Sudah, Mas. Kamu membuatku malu."


"Tapi aku suka. Aku suka melihatmu salah tingkah. Pipimu yang memerah. Terus... senyumanmu yang malu-malu ini, lucu sekali. Menggemaskan," Reza berkata sambil mengusapkan jemarinya di pipiku.


Uuuh... bagaimana tidak salah tingkah kalau seperti ini? Jelas aku merasakan pipiku memerah.

__ADS_1


"Aku merindukanmu. Rindu pada semua tentangmu, rindu dengan kebersamaan kita." Reza menarik napas dengan berat. "Aku merindukan kehangatanmu, kehadiranmu di rumah ini, semua cinta dan kasih sayangmu yang membuatku selalu nyaman, aku merindukan semuanya. Sekali lagi terima kasih karena kamu bersedia pulang."


Aku tersenyum karena kata-kata manisnya yang melambungkan. "Kamu mau sekali lagi, ya? Hmm?"


Haha! Dia terkikik. "Kamu kali yang mau lagi. Iya, kan?"


Seulas senyum manis mengembang sempurna. "Aku mah ikut saja," kataku. "Kalau kamu masih mau, aku siap meladeni. Mau seberapa lama, mau seberapa kali. I am ready...."


"Sanggup?"


Kukecup pipi suamiku dengan sayang. "Sanggup. Apa pun untukmu."


"Well, kalau begitu...." Reza menyunggingkan senyuman manis. Sambil mencium bibirku dengan lembut, dia merebahkanku perlahan dan mulai bermain di telingaku. Aku mulai menikmati sentuhannya ketika kaki kanannya berusaha merenggangkan kakiku dan menyelip di antara kedua pahaku, sementara tangannya mulai menyelinap ke dalam selimut lalu turun membelai perutku. "Selamat tidur. Mimpi yang indah."


Hmm....


"Kamu mempermainkan aku? Dasar kamp--"


Ups! Untung mulutku sempat mengerem.


"Capek, Sayang." Ia tertawa geli.


"Jangan iseng juga, Mas!"


"Siapa yang iseng? Aku mengelus anak-anakku, tahu!"


Menyebalkan!


Aku manyun, tapi dia selalu punya cara sendiri untuk membujukku. "Besok lagi, ya. Sebelum subuh, shower time. Sekalian kita mandi bareng. Hmm?"


"Baiklah. Berarti besok harus bangun lebih cepat. Setelah subuh temani aku ke pasar. Banyak yang mau kubeli. Aku mau beli jagung, mau beli daging, ayam, ikan, terus... sosis, dan lain-lain. Huh, tidak sabar rasanya."


Reza mendekat ke wajahku dengan senyuman dan tatapan mata yang nakal. "Ingatkan aku mampir ke apotek," katanya. "Aku harus punya suplemen yang kamu butuhkan."


"Monyet!" kataku nyaris tanpa suara di antara bingar tawanya yang terbahak. Dia terlihat sangat bahagia. Dan aku bersyukur, kami tidak melewatkan akhir tahun yang indah ini dalam kesendirian, dan aku juga bersyukur karena kami bisa menyambut awal tahun baru pertama kami ini berdua -- bersama. Yeah, meski suasana tahun baru di tahun ini tanpa kemeriahan dan letusan kembang api. Barbekyuan berdua dengan suamiku itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Aku sangat merindukan kehangatan dan kebersamaan di antara kami. Cintaku kembali bersemi, bersamanya....


__ADS_2