Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Sepenuhnya Bahagia


__ADS_3

"Apa tadi? Ada yang gerak-gerak."


Reza langsung berjongkok di hadapanku, ia bahkan meraba-rabai perutku dan hendak menyelingkapkan gaunku. Dikiranya ada tikus kali, ya?


"Kamu bisa merasakannya? Itu anak-anakmu. Mereka sudah lincah."


Terperangah, pupil mata Reza pun seketika melebar. "Serius?" tanyanya, suaranya kaya akan rasa takjub.


"Iya. Mungkin mereka mau ikut berdansa."


"Mereka sudah bergerak?"


"Sudah lama, sih. Tapi memang belum pernah selincah ini. Pertama kali aku merasakannya sewaktu terakhir kali kita di rumah sakit. Mereka seolah memintaku untuk memaafkanmu dan memikirkan masa depan mereka. Mereka yang membuatku tenang dan berhenti menangis waktu itu."


Reza mengelus perutku, mengecupnya dengan sayang lalu berkata, "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjadi pengikat cinta Mama dan Papa."


"Kamu mau merasakannya lagi? Coba kamu panggil, dan ajak mereka bicara," kataku.


Dengan sigap dan sangat antusias, Reza hendak menyurukkan kepalanya ke dalam gaunku. Tapi aku tak kalah sigap mencegahnya.


Reza pun berlutut, menempelkan tangan dan kepalanya di perutku. "Hai, Sayang. Angga, Anggi, ini Papa. Kalian sehat, kan? Jawab Papa, Nak?"

__ADS_1


Si jabang bayi dengan lincahnya bergerak -- merespons ayahnya. Tak pelak, senyuman bahagia hadir dengan binar dan mata berkaca di wajah suamiku.


"Mas?"


Reza mendongak. "Kenapa, Sayang?"


"Apa ini pertama kali untukmu? Maksudku... aku tahu kamu pernah menyentuh perut Salsya. Tapi...."


Dahinya menyeringai, lalu ia menggelengkan kepala dan langsung berdiri -- memegangi kedua bahuku. "Please... jangan dimulai."


"Jadi?"


"Dengarkan baik-baik, oke? Bisa, kan?"


Reza berdeham, dia menggenggam kedua tanganku dengan erat dan memfokuskan tatapannya ke mataku. "Dengar," katanya, "aku memang pernah menuruti kemauan Salsya untuk menyentuh perutnya. Tapi hanya sebatas itu, tidak dengan perasaan. Aku tidak melakukannya dengan hati. Dan, itu sama sekali bukan karena keinginanku. Jadi rasanya biasa saja. Tidak seperti ini. Maksudku...."


"Itu bukan anakmu, kan?"


"Bukan."


"Apa anaknya merespons saat kamu--"

__ADS_1


"Tidak sama sekali, dan aku juga tidak mengharapkan itu terjadi. Oke?"


Aku mengangguk.


"Tolong percaya padaku, ini yang pertama, hanya denganmu. Untuk pertama kalinya aku merasakan kehidupan di dalam rahim. Pertama kali aku merasakan pergerakan janin dan itu anak-anakku. Sumpah demi apa pun, jangankan menanamkan benih, aku bahkan tidak pernah menyentuh perempuan lain."


Lagi. Aku mengangguk tanpa kata.


"Aku jujur," katanya dengan sedikit meremas -- lembut -- bahuku, nyaris putus aja.


Sekali lagi, aku mengangguk, kali dengan seulas senyum mengembang di wajahku. "Aku percaya.," kataku. "Terima kasih, Mas. Aku senang mendengarnya."


Obrolan berakhir dan kami mulai berciuman. Entah kenapa rasanya ciumannya malam itu terasa sangat istimewa, seolah itu benar-benar di momen malam pengantin, dan dia menciumku dengan penuh perasaan. Tapi memang begitu, selain morning kiss, Reza tidak pernah menciumku dengan asal-asalan. Karena baginya lebih baik dia tidak usah melakukannya daripada mencium tapi tanpa perasaan. Begitu pula setiap kali kami bercinta, aku tidak pernah merasa kalau dia asal pakai terhadap tubuhku. Aku tidak pernah merasa kalau tubuhku hanya sebatas pemuas nafs* bagi hasrat liarnya sebagai lelaki. Intinya, semua perlakuan Reza terhadapku membuatku merasa bahwa -- aku -- adalah sosok yang sangat berharga. Dan hati kecilku mengatakan aku sudah tidak lagi merasakan sakitnya tamparan Reza waktu itu. Saat ini -- aku -- sepenuhnya -- bahagia.


"Potong kue, yuk? Kita make a wish dan tiup lilinnya sama-sama."


Kami mengakhiri dansa dan langsung menyalakan lilin. Dan kemudian...


Make a wish. Permintaan yang sama: kebahagiaan, dan cinta yang tak pernah pudar terhadap satu sama lain.


"Aku bahagia melewati satu tahun ini bersamamu. Happy anniversary yang pertama, Sayang. Mas sayang kamu."

__ADS_1


Perasaan melankolis merasuk, mataku mulai berkaca-kaca. "Happy anniversary juga, Mas. Nara juga sayang kamu."


__ADS_2