
Hari ini, Reza dan aku sepakat pergi ke Bogor. Banyak tempat yang ingin kami kunjungi. Sementara Erik diminta mengurus perihal renovasi rumah.
Pertama-tama, kami berziarah ke makam Ibu mertuaku. Itu pertama kali aku datang ke sana sebagai menantu keluarga Dinata, dan pertama kali aku melihat Reza datang dengan senyuman, bukan lagi dengan kesedihan yang bernaung di wajahnya seperti beberapa bulan yang lalu. Kurasa itu karena ia sudah memenuhi keinginan ibunya yang selama ini menginginkan dia segera menikah dan berumah tangga.
Setelah itu, kami langsung ke rumah sakit tempat Alfi dan Dinda program hamil. Reza tidak ingin repot-repot mencari informasi di tempat lain. Dia ingin ke dokter yang sama yang membantu sahabatnya itu. Dan aku lega, hasil pemeriksaan kesehatan menyatakan bahwa kami berdua dalam keadaan sehat, kami tidak memiliki masalah kesuburan. Meskipun begitu, aku bersedia melakukan program hamil. Ikhtiar -- menempuh usaha ekstra untuk mendapatkan momongan -- penerus darah seorang Reza Dinata dan penyempurna keluarga kecil kami. Pun kesehatan Reza pasca penusukannya dulu, hasil pemeriksaan menyatakan keadaannya sudah baik-baik saja. Semua itu patut disyukuri.
Tempat ketiga yang kami datangi adalah panti asuhan. Sudah empat bulan lebih sejak terakhir kali kami ke sana, kendati selama di kampung kami hanya memantau keadaan panti via telepon, kami bersyukur semuanya baik-baik saja. Anak-anak sehat dan terlihat bahagia.
Setelah dari panti, kami pergi ke bukit gantole untuk memenuhi keinginan Reza. Dia kepingin terbang katanya.
Tentu saja boleh. "Silakan. Lakukan apa pun yang membuatmu senang."
"Trims. Kamu tunggu di sini," katanya.
Tanpa membuang-buang waktu, dia langsung bergegas dan bersiap-siap mengepakkan sayap. Setelah sekian bulan, Reza nampak senang bisa kembali menjajali hobinya itu.
Tujuan terakhir kami sebelum pulang ialah berkunjung ke rumah Alfi dan Mayra. Setelah meminta karyawan resto mengantarkan beberapa menu untuk makan malam, kami pun langsung meluncur ke sana. Tentu saja, sebelumnya Reza sudah menelepon Alfi lebih dulu, dan kebetulan hari itu jadwal Alfi pulang ke sana, rumah istri pertamanya. Kalau tidak, kami tidak akan mampir. Aku tidak ingin menyaksikan luka di mata Mayra jika dia melihat kebersamaan kami tanpa Alfi berada di sisinya.
"Omong-omong," kata Mayra sewaktu kami melangkah masuk ke rumahnya, "terima kasih untuk semua menunya. Semuanya sudah terhidang dan kita bisa langsung mengeksekusinya. Kami sudah sangat lapar." Dia dan Alfi bertukar pandang dengan cengiran yang super lebar.
Penyambutan yang menyenangkan. Reza dan aku langsung mengikuti mereka dan ikut duduk menikmati makan malam.
"Jadi, bagaimana dengan rencana renovasi rumah kalian?" tanya Alfi.
"Sudah mulai dikerjakan tadi pagi. Makanya kami mengungsi dulu ke Bogor."
"Lebay! Memangnya rumah kalian cuma sepetak, pakai acara mengungsi segala?" canda Alfi, membuat Reza tergelak. "Sesuai idemu kemarin?"
Reza mengangguk. "Yeah," katanya. "Plus ada penambahan detail sedikit. Nara ingin pintu belakang itu disingkirkan, dan kami akan menaruh tirai-tirai kerang di sana. Lalu pintu paling belakang, Nara ingin pintu kaca -- pintu geser dengan terali minimalis. Sama seperti pintu ke arah kolam."
Mayra menyikutku. "Kedengarannya keren," katanya.
Kuanggukkan kepala. "Yeah," kataku. "Jadi kalau nanti kalian menginap, kalian bisa mencicipi meja makan kami, dua set meja panjang dengan dua belas kursi di masing-masing meja. Kalian keluarga kami, dan wajib datang kalau kita mengadakan acara keluarga. Oke?"
"Pasti." Mata Mayra berkaca. "Aku bahkan tidak sabar untuk itu."
Bak teletubbies -- aku dan Mayra yang duduk berdekatan langsung berpelukan, sampai Tirta yang duduk di antara kami terhimpit.
"Aduh... aku kejepit, tahu!" protes si bocah kriwil yang usianya hampir enam tahun itu.
"Maaf, Sayang." Kuacak-acak rambut kriwilnya dan dia semakin kesal.
__ADS_1
"Ih, Tante... jangan begitu... nggak boleh. Nanti Oom cemburu, tahu!"
What? Aduh, ini anak. "Hei, siapa yang mengajarimu kata-kata itu?" tanyaku, sementara Mayra dan Alfi kaget dan saling menoleh.
"Aku sering dengar Mama bilang begitu ke Papa sebelum Papa pergi ke rumah Mama Dinda."
Hening. Anak itu menciptakan suasana kurang kondusif di antara semua orang.
"Memangnya Tirta tahu apa itu cemburu?" tanya sang ayah.
Tirta mengangguk. "Tahu, aku kan pintar. Cemburu itu iri. Misalnya Papa beli kalung untuk Mama. Mama bilang tidak usah, takut Mama Dinda cemburu, atau Mama minta Papa beli kalung juga untuk Mama Dinda. Mama tidak mau Mama Dinda iri, kan?"
Melongo. Itu reaksi kami berempat. "Benar. Kamu benar-benar pintar. Kalau begitu, lanjutkan makannya. Oke, Anak Ganteng?"
"Oke, Tante. Ayo semuanya, lanjut makan."
Teng! Teng! Teng!
Tirta mengetukkan sendok tiga kali ke piring. "Obrolan ditutup!"
Kami semua jadi tergelak dan suasana kembali mencair. Makanan di piring kami masing-masing ludes dalam waktu singkat, dan perut pun kenyang. Tapi efek makanan dengan ekstra cabe membuatku megap-megap kepedasan dan memaksa perutku agar memberikan ruang lebih untuk beberapa teguk air putih.
"Minum lagi," kata Reza sambil menyodorkan gelas miliknya yang baru saja ia teguk setengah gelas.
Aku mulai merasa ada yang aneh. "May, ada kipas?" tanyaku. "Atau apa pun yang bisa berfungsi sebagai kipas."
"Iya," kata Reza. "Tumben, Bogor segerah ini." Dia sampai membuka dua kancing teratas di kemejanya.
Sepasang suami istri itu cengengesan sambil menggelengkan kepala. Sementara aku mulai merasakan sesuatu yang lebih aneh.
Sementara kami kebingungan, Mayra malah melontarkan senyuman jahil. "Butuh kamar?" tanyanya. "Silakan. Kami sudah menyiapkan kamar tamu untuk kalian berdua."
"Sialan! Jangan bilang kalau kalian--"
Alfi mengangkat tangan. "Sori, lu sendiri, ya, yang ngasih minuman itu ke Nara. Bukan kami." Tawa mereka meledak saking senangnya. Seolah mereka sedang menonton komedi terlucu seantero jagad raya.
Ya Tuhan, aku tidak tahan. "Mas...," rengekku.
"Awas kalian berdua!" Reza bangkit dan langsung menarikku ke kamar.
Sewaktu kami berada di kamar, aku dalam keadaan sadar sepenuhnya, aku tahu apa yang kami lakukan. Hanya saja, aku tidak bisa melawan hasrat dalam diriku sendiri. Sampai-sampai, aku sama *anas dan sama *eringasnya dengan Reza. Kulampiaskan *asratku seperti kesetanan dan kucumbui setiap inci tubuhnya yang kekar. Pun Reza, kegilaanku membuatnya sangat bergairah, dia lebih menggila dari kegilaannya yang sebelumnya.
__ADS_1
"Sayang?"
"Mmm-hmm?"
"Dokter bilang lukaku sudah sembuh."
"Lalu?"
"Boleh, ya, kita melakukannya dengan sangat ekstra?"
Aku ternganga. "Sangat ekstra? Maksudnya?"
Ouh! Dia menyentakku dengan kuat. Aku hampir melotot saat pertama kali merasakan kekuatan tenaganya yang ekstra.
"Seekstra itu.,Sanggup?"
Sanggup, aku tahu aku sanggup, dan itu rasanya sangat nikmat. Tapi... tidak. "Mas... nanti lukamu kambuh."
"Malam ini saja. Mau, ya?"
Hmm, sudahlah. Aku mengangguk. "Tapi kalau nanti bekas lukamu terasa sakit -- jangan dipaksakan. Bisa dengar aku?"
"Siap, Sayang."
Dan...
Ouh!
"Suka?"
Aku mengangguk malu. "Mmm-hmm. Lanjutkan," bisikku.
Cengiran yang lebar langsung mengembang -- itu -- personifikasi semangatnya dalam sesi bercinta malam ini. Dan...
"Eummmmm...!"
Baku hantam pun terjadi. Hentakan demi hentakan ia serangkan padaku dengan sempurna. Semakin aku mengeran* dan menyerukan namanya, Reza semakin menggila dan semakin *enjamahku dengan bebas, liar, buas, dan ekstra *anas. Sungguh, tenaganya yang ekstra itu membuatku merasakan kepuasan yang teramat sampai akhirnya aku lunglai dan tak berdaya. Aku benar-benar kelelahan.
"Ya ampun, Sayang. Lihat ini, kamu bikin sekujur tubuhku jadi merah semua."
Eh?
__ADS_1
"Jangan protes padaku, ya, Mas Sayang. Salahkan saja dua sahabatmu yang gila itu."