
"Aku tidak suka."
"Ya ampun, aku hanya bercanda, Mas."
"Tapi kamu bercandanya keterlaluan."
"Kamu ngambek? Kan aku sekalian ngetes."
"Tidak lucu, tahu!"
"Latihan, Mas... supaya kalau aku kontraksi, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, biar kamu gerak cepat. Jangan panik, ya kan? Senyum dong...."
Alih-alih tersenyum. Reza malah merebahkan tubuhnya dan menutup matanya dengan lengannya yang kokoh. "Jangan lagi pakai gaun terawang. Ribet," katanya.
Haha! Aku terkekeh. "Iya... tapi kamu jangan ngambek lagi. Mending kita main suntik-suntikan, yuk?"
"Malas. Aku ngantuk."
"Masa?"
__ADS_1
"Hmm."
"Yakin?"
Bagaimana, sih, membujuk suami yang ngambek? Masa aku harus pura-pura sedih lagi?
"Mas... jangan ngambek, dong... please? Hari sudah mulai larut, lo. Nanti tidur kita malah tidak nyenyak kalau diem-dieman kayak gini. *eloni aku dulu, ya. Please...?" rengekku, kucoba mengelus pahanya, lalu ke tengah, dan dia langsung bereaksi hingga menegang sempurna. Tapi tetap saja, dia pura-pura tidur dan terus saja jual mahal. "Ya sudahlah kalau tidak mau. Aku yang ngambek."
Aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Aku sedang tidak ingin menikmatinya dengan mulutku dan juga tidak ingin bermain woman on top, terlebih aku memang tidak suka di atas dan tidak suka memimpin permainan, belum lagi perutku yang besar dan itu akan membuat pinggangku pegal. Lagipula aku berani taruhan, Reza pasti akan menyusulku.
Dan, benar saja. Aku sedang duduk di meja dapur dan mengoleskan cokelat ke selembar roti, tiba-tiba Reza muncul dan duduk di sebelahku.
Aku pura-pura ngambek dan mengabaikan keberadaannya. Makan tanpa menolehnya sedikit pun.
"Aku lo yang ngambek. Kok kamu balas ngambek?"
Auto semakin cemberut. "Aku kan suduh minta maaf, aku juga sudah berusaha membujukmu. Kamunya saja yang terus-terusan cuek."
"Harusnya kamu berusaha lebih ekstra."
__ADS_1
Eh? Ekstra yang bagaimana coba?
"Ogah! Kamu kan laki-laki. Kamu yang mestinya mengalah dan membujuk aku."
Euwww... aku paling jago kalau urusan ngambek-ngambekan.
Reza pun langsung berdiri dan meraihku hingga kami berdiri saling berhadapan. Dengan segera ia melepaskan tali pengikat di kedua pundakku hingga gaunku meluncur dan terlepas dari tubuhku. Pun semua pakaian dalamku dengan cepat terlucut saat dia mulai menghujaniku cumbuan mesra. Dan tanpa kutahu tiba-tiba dia mengoleskan cokelat cair itu ke tubuhku. Aku terkikik, mana yang sebenarnya lebih ia nikmati, cokelat atau tubuhku?
Ups!
Yang pasti kombinasi dari keduanya. Dan, yeah. Ini keinginanku yang belum pernah ia realisasikan: menikmati cokelat cair di tubuh satu sama lain. Aku suka, mulut dan bibirnya lincah menjilati setiap inci leher dan dadaku hingga bersih dari cokelat yang manis. Pun leherku, bagian yang tidak akan pernah luput dari *sapannya yang ekstra hingga meninggalkan jejak-jejak cintanya yang merah. Yeah, cintanya -- yang sangat merah.
"Aku tidak perlu membujukmu dengan kata-kata manis. Iya, kan, Sayang?" tanyanya dalam bisikan.
Aku mengangguk, tersipu malu. Padahal... apa sih, macam pengantin baru saja pakai tersipu segala. Tapi aku suka dia mewujudkan momen manis seperti ini, seperti dalam angan dan mimpiku. Cinta semanis cokelat.
"Terima kasih untuk momen semanis ini," ucapku. "Kamu yang terbaik."
Reza tersenyum, dia meluma* bibirku sekali lagi dengan sepenuh gairah, lalu ia berbisik, "Siap disuntik, Sayang?"
__ADS_1
Uuuh... manis sekali, dokter cintaku yang handal.