
1 April itu pun tiba. Kami berangkat ke Bogor sehari sebelum acara syukuran. Dan seperti biasa, pada hari itu, ada banyak tempat yang kami singgahi. Tapi kali ini kecuali bukit gantole, kami tidak ke sana. Reza mulai mau menghindari hal-hal yang menurutku berbahaya.
"Ingat masa depan. Sebentar lagi kamu punya anak," kataku.
Aku senang dia menurut, tanpa bantah sedikit pun. "Iya, Mama yang cerewet...," sahutnya.
Bodoh amat! Yang penting dia menurut padaku. Bucin? Memang.
Hari itu, tempat pertama yang sangat ingin dan yang paling Reza rindukan yaitu makam ibunya. Hari itu dia juga mengajakku ke makam ayahnya dan ke makam adiknya. Selama di TPU, kami tidak mengobrolkan apa pun, bahkan nyaris tak bicara, selain dia menyuruhku jalan hati-hati dan menanyaiku apakah aku capek atau kakiku pegal sewaktu kami menyusuri jalan setapak, melewati makam-makam lain untuk sampai ke makam keluarganya.
Seperti tahun lalu, pada 1 April itu, kami menghadiri acara syukuran di panti asuhan. Satu hal yang membahagiakan, hari itu ada sepasang suami istri yang berniat akan mengadopsi Khiara. Aku senang sekali, akhirnya anak itu bisa merasakan memiliki orang tua yang akan menyayanginya.
"Khiala pasti lindu tempat ini," katanya. "Khiala juga akan lindu pada Tante."
Ya ampun... aku terharu. Aku menangis. Cengeng. Hiks!
"Tante juga akan merindukan Khiara," kataku. Kupeluk gadis kecil itu dan kami saling mengusap air mata.
Bapak dan Ibu Atmaja, orang tua angkat Khiara menghampiri kami. Lalu, dengan penuh kasih, ia berkata, "Nanti Khiara bisa kok sering-sering main ke sini. Nanti Mama akan sering-sering mengantar Khiara. Mama janji."
Tak pelak, gadis kecil itu melompat kegirangan dan berterima kasih atas pengertian dua orang yang hari itu -- secara hukum -- resmi menjadi orang tuanya.
Tapi, keharuan itu segera sirna tatkala kehadiran seorang perempuan yang selama ini mengusik hidupku. Salsya. Dia sepertinya tahu benar dan sangat paham dengan semua agenda keluarga Dinata. Hari itu dia datang ke panti asuhan. Kondisinya tidak lagi menyedihkan. Wajah cantiknya sudah secantik seperti sediakala. Bahkan senyumnya, secerah matahari di bulan Mei. Padahal April baru saja datang dengan teka-tekinya yang baru. Akankah Reza mampu menjaga hatiku yang rapuh?
"Hai," sapanya -- sangat lembut -- pada Reza. "Kamu apa kabar?"
Wah! Aku tidak dianggap.
"Baik," kata Reza. "Kamu, apa kabar?" dia menjawab dengan kikuk.
Karena ada aku, kan?
__ADS_1
"Boleh ngobrol berdua sebentar?"
Kau tahu serial laga zaman dulu seperti Misteri Gunung Merapi atau Dendam Nyi Pelet, atau film-film-nya Suzanna? Itu... pelototan-pelototan pemeran utamanya itu -- KALAH -- dibanding pelototanku ke Reza hari itu. Pangkas saja itu kamu sampai habis kalau kamu berani menjawab iya.
"Sori, Sya. Tidak bisa."
Bagus!
"Karena Nara?"
"Iya."
"Boleh aku minta izin padanya?"
Jalan*! Kemana, sih, urat malumu? Aku pun berdiri dan menghampiri mereka lebih dekat. "Mau membicarakan apa?" tanyaku dengan ketus. "Tidak mesti berdua-duaan dengan suamiku, kan?"
Salsya melirik ke kanan lalu ke kiri, jelas dia merasa tidak nyaman menyampaikan maksudnya jika di sekitarnya ada banyak pasang mata yang melihat dan ada banyak pasang telinga yang mendengar. "Bisa mengobrol di tempat lain?" tanyanya.
"Oke," kataku. "Ayo, Mas." Sengaja kugandeng Reza dalam genggamanku. Bodoh amat! Terserah orang mau menilai bagaimana. Terlalu over protektif terhadap suami? Memang. Masih untung tidak kuborgol tangannya dengan tanganku, ya kan?
Di parkiran cukuplah... tidak perlu jauh-jauh. Hanya mendengarkan si perempuan sialan itu berbicara dan aku bisa mengajak suamiku pergi dari sana. Menjauh dari makhluk yang bernama Salsya itu. Tidak perlu tempat bagus. Tidak pantas untuk perempuan seperti dia. Eh?
"Aku butuh pekerjaan lain. Aku tidak bisa memasak di resto sambil mengurus anakku. Kalau boleh, aku kerja di rumah kalian. Jadi ART pun tidak apa-apa. Gajinya pun terserah, berapa saja."
Aku mendesa*. Ingin kutampar rasanya perempuan itu di depan Reza. "Ayo, Mas. Masuk ke mobil, kita pergi dari sini."
"Za, please. Aku mohon?"
Bedebah! Secepat Salsya meraih tangan Reza, secepat itu juga aku menarik tangannya, lalu...
"Sakit, Ra...," dia memekik saat tangannya kupelintir.
__ADS_1
Reza pun refleks mencengkeram pergelangan tanganku. "Lepas, Sayang. Malu dilihat orang."
"Jaga baik-baik tanganmu kalau tidak ingin kupatahkan!"
Salsya meringis dan mulai menunjukkan aktingnya yang payah. "Tolong, aku butuh uang. Aku butuh pekerjaan yang bisa kukerjakan sambil mengurus anakku."
"Nanti kupikirkan, Sya. Kami permisi dulu."
"Mas...," protesku.
"Kita pulang, Sayang." Ditariknya tanganku dan dibawanya aku ke pintu mobil. Tanpa protes lagi, aku pun masuk lalu duduk.
Argh!
"Mau langsung pulang?"
Cemberut. Aku tidak menyahut.
"Sayang?"
"Terserah!"
"Oke, kalau begitu kita langsung."
Tanpa bicara, kami melaju dan sampai di depan rumah.
Waktu aku hendak membuka pintu, Reza langsung mencekal tanganku. "Sudah cemberutnya. Hari ini tanggal satu lo, Sayang."
"Nanti saja, kalau mood-ku sudah membaik," tolakku. "Aku mau ke kamar."
Tapi...
__ADS_1
Ceklek!
Pintu terkunci.