Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kepercayaan


__ADS_3

"Mas?"


Reza menghela napas panjang. "Dengarkan aku," katanya. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Aku tahu dia ingin bicara serius padaku. "Di pisau itu hanya ada sidik jari Salsya. Tidak ada sidik jarimu. Itu posisi yang menguntungkan, apalagi dokter menyatakan kalau kamu pingsan karena obat bius. Jadi katakan kalau kamu tidak tahu apa-apa. Ada yang membiusmu dan kamu pingsan."


Mendengar kata-kata Reza, jantungku berpacu kencang. Reza seakan mengetahui semua yang terjadi dan itu membuatku berpikir: apakah dia si sosok hitam misterius itu? Jika benar, apa aku harus takut, atau justru -- aku mesti merasa senang?


"Jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu terjebak dan dinyatakan bersalah. Biar saja penyelidikan polisi tidak bisa berlanjut. Ayahmu akan mengusahakan supaya kamu terbebas dari kasus ini. Oke? Apa pun kamu, bagaimanapun keadaanmu, aku di sini. Aku mencintainu tanpa peduli pada apa pun yang sudah terjadi."


Tunggu dulu, maksudnya?


"Mas, apa kamu mengira aku yang membunuh Salsya?"


Reza menggeleng. "Di sana tidak ada siapa pun. Tapi...." Dia menunduk.


"Mas?"


"Aku tidak tahu."


"Ya Tuhan. Kamu--"


"Sudahlah. Kita tidak usah lagi membahas hal ini."


Aku menggeleng. "Bukan aku," kataku, berusaha menjelaskan, berusaha meyakinkannya kalau bukan aku pelaku pembunuhan itu. "Sumpah, bukan aku yang membunuh Salsya."


"Lalu, siapa?"


Lagi. Aku menggeleng lagi. "Aku tidak tahu. Lampu di ruangan itu mati. Dan aku dibius."

__ADS_1


"Baiklah. Katakan itu kepada polisi saat kamu introgasi nanti."


Aku mengangguk. "Akan kukatakan," jawabku. "Tapi, apa kamu percaya padaku?"


"Sayang...."


"Percaya atau tidak?"


"Aku...."


"Oke. Kamu tidak percaya. Oke. Aku tidak akan berusaha meyakinkanmu. Aku...."


Melesak!


"Sayang...."


"Sebentar, dengarkan aku dulu."


"Kamu saja tidak percaya padaku. Bagaimana dengan polisi?"


Hening.


Kemudian...


"Mas," kuambil tangannya dan kutaruh tangan kokoh itu di atas perutku. "Sumpah. Demi Tuhan. Demi anak-anak kita. Bukan aku yang membunuhnya. Please?" aku memohon. "Percayalah padaku. Jujur saja aku takut. Aku tidak ingin dipenjara atas perbuatan yang tidak kulakukan. Tapi kepercayaan dari keluargaku, itu yang paling kubutuhkan. Tolong--"


Ssst... seketika jarinya menempel di bibirku. "Aku percaya padamu. Aku percaya."

__ADS_1


Kami pun berpelukan -- untuk saling menguatkan, dan, meluruhkan -- perih yang menghunjam rasa.


"Aku janji," katanya. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu, akan melindungi kalian. Apa pun dan bagaimanapun caranya, akan kulakukan apa pun demi kalian. Jangan takut lagi, oke?"


Aku mengangguk -- berusaha mempercayai ucapannya: janjinya untuk kami.


"Oh ya, aku ingin tahu kronologi setelah aku pingsan. Apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa berada di rumah sakit? Tolong ceritakan kronologinya padaku, please?"


Tetapi Reza seakan enggan bersuara. Namun aku, aku sangat ingin tahu. Kudorong tubuhnya dengan lembut dan dia melepaskan pelukannya dariku.


Reza berdeham. "Saat aku pulang, aku melihat pintu depan terbuka, dan keadaan di dalam rumah gelap. Tapi lampu di teras masih menyala. Aku memanggil-manggilmu, tapi tidak ada jawaban. Lalu, ketika aku masuk, aku kaget karena ruang tamu berantakan. Dan seperti yang kutakutkan, terjadi sesuatu. Begitu aku menyalakan lampu, aku melihat kalian berdua sudah tergeletak di lantai. Salsya masih hidup saat itu, kamu yang tidak sadarkan diri. Aku menghampirimu dan sedikit lega karena kamu hanya pingsan. Tapi aku tetap khawatir, takut kandunganmu kenapa-kenapa. Makanya aku langsung menelepon ambulans. Setelah itu...."


Aku mengangkat alis menatapnya dengan seribu tanda tanya. "Apa?"


"Maaf, aku menghampiri Salsya. Aku... aku sempat bertanya apa yang terjadi, dia bilang kalau dia tidak tahu. Lalu ambulans datang, Salsya dibawa. Tapi dia tidak tertolong. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit."


Serasa ada yang ganjal. Matanya tidak jujur. Tetapi aku tidak menuturkan rasa curigaku. "Soal ponsel itu aku minta maaf, Mas. Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Aku tidak tahu kalau Salsya benaran gila."


"Sayang?"


"Emm?"


"Kalau kamu benar-benar dibius, maksudku... kalau kamu dibius oleh orang lain, kamu tidak melakukan itu sendiri atau bukan dibius oleh Salsya. Berarti... di sana ada pihak ketiga, ya kan?"


Aku menggeleng. "Aku tidak tahu, Mas. Ada yang membiusku, aku tidak tahu itu siapa. Atau mungkin Salsya, lalu dia bunuh diri. Memang tidak masuk akal. Tapi siapa yang tahu, kan?"


Aku terpaksa mengikuti alur cerita si pembunuh misterius itu. Aku tidak ingin terkesan seperti pengkhianat yang tidak tahu terima kasih karena dia sudah membiarkan aku dan anak-anakku tetap hidup. Dan, bahkan karena pengakuan ini, aku juga ragu apa yang sebenarnya terjadi, seolah aku tidak yakin mana yang benar, mana yang nyata, atau semua yang terjadi hanya sekadar ilusi?

__ADS_1


__ADS_2