Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Amarah


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, Reza mendongak saat seorang petugas medis mengetuk lalu masuk ke ruang rawatku. Dia membawa map berisi laporan medis atas namaku, lalu menyerahkannya pada Reza. Aku tidak tahu plus tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan. Aku memilih untuk ke toilet dan merapikan diri, bersiap untuk pulang. Yang pasti, dia tersenyum lega ke arahku saat aku ke luar dari toilet.


Itu sangat menyebalkan. "Bertolak belakang dengan segala hal buruk yang ada di dalam diriku. Aku masih waras."


"Aku hanya ingin memastikannya sendiri. Ayo, pulang." Dia menghampiriku, menautkan jemari kami dan menggandengku hingga ke mobil. Karena tidak ingin membuatnya malu, kulangkahkan kaki dan mengikutinya dengan santai.


Setibanya di parkiran, Reza membukakan pintu depan untukku. Aku pun masuk dan duduk, dan kulihat kursi belakang beralaskan kasur mobil. Kusadari itu pastilah bekas ia membaringkan aku semalam, sewaktu ia membawaku ke rumah sakit. "Aku ingin duduk di belakang," aku berkata sewaktu Reza sudah duduk di kursi kemudi.


Reza mengangguk. Tanpa bisa mengatakan apa-apa, ia membiarkan saja aku pindah ke belakang. Dengan duduk bersila, kutaruh bantal di pangkuanku.


"Tunggu," seruku, persis di saat Reza sudah menstarter mobil. "Aku mau ke apotek dulu. Obat tidurku habis. Maksudku tinggal sedikit."


Reza yang refleks mematikan mesin langsung menoleh ke belakang. Dia berkata, "Kamu tidak membutuhkannya lagi."

__ADS_1


"Siapa yang tahu. Selagi aku masih mencintaimu, aku masih bisa merasakan sakit. Itu yang membuatku tidak bisa tidur."


"Iya, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakitimu lagi. Tolong, Sayang, beri aku kesempatan."


"B. A. S. I. Basi! Kamu itu benar-benar tega, ya. Kalau aku tidak bisa tidur, bukan cuma hatiku yang sakit. Fisikku juga akan ikut sakit. Itu akan semakin membahayakan kandunganku. Kamu paham?"


Reza mengangguk cepat. "Iya, iya. Nanti kita mampir ke apotek di jalan, ya. Oke? Rileks. Rileks, Sayang. Tenangkan dirimu."


Oh, betapa lucunya dirimu. Kenapa tidak menurut saja dari tadi?


Aku menolak. Kugelengkan kepalaku dengan lemah. "Tidak usah," kataku. "Nanti malah kamu yang menyanyi. Aku tidak mau dengar. Mau tahu alasannya? Karena kamu tidak bernyanyi dari hati."


"Kenapa kamu bilang begitu?"

__ADS_1


"Kenyataannya begitu."


"Sayang...."


"Kenyataannya memang seperti itu. Kalau kamu menyanyinya dari hati, kamu akan paham pada setiap lirik yang kamu sampaikan."


Dia bengong. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung dan menunggu penjelasan.


"Kamu menyanyikan lagu Sampai Tutup Usia, aku merasa itu sebuah janji kalau kamu akan menjaga hatiku hingga kamu tua. Tapi, kenyataannya, kita belum setahun menikah, kamu sudah mematahkan hatiku berkali-kali. Lalu, kamu menyanyikan lagu Wanita Paling Bahagia, kupikir... begitulah! Tapi... nyatanya... kamu malah menjadikan aku salah satu wanita yang paling menderita di dunia ini."


Reza diam seribu bahasa. Tentu saja dia merasa serba salah, dia tahu benar -- semakin ia membela diri di hadapanku, akan semakin menculut api dan membuatku semakin kesal dan marah. Selebihnya, mungkin dia memang tidak tahu apa yang mesti ia katakan.


"Kamu lihat, kan, bagaimana kehidupan kita sekarang? Perpisahan kita di akhir tahun kemarin harusnya jadi pelajaran. Harusnya kita bisa baik-baik saja kalau kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang lihat, hampir setiap hal bisa membuat kita bertengkar. Ini tidak baik untuk kandunganku. Ibu hamil harusnya menjalani hari demi hari dengan bahagia, itu yang ia butuhkan, itu juga yang dibutuhkan si janin. Aku butuh bahagia, Mas. Anakmu juga butuh bahagia. Tapi apa? Kepedulianmu terhadap perempuan itu membuatku menderita. Dan kamu tahu apa yang kupikirkan sekarang? Aku berpikir sebaiknya aku pulang ke rumah Ihsan."

__ADS_1


Dia kembali menatap lurus ke depan. Nelangsa. "Kamu mau meninggalkan aku lagi? Mau pergi lagi?"


__ADS_2