
Untuk pertama kalinya semenjak aku pulang, Reza menjulurkan tangannya. "Ikut aku ke atas," katanya.
Well, tanpa bertanya, aku menyambut uluran tangannya dan mengikutinya. Dia mengajakku ke roof top -- ke panggungku. Sesampainya kami di atas, dia menutup mataku dengan kedua tangannya. "Ada kejutan untukmu," katanya. Dia menggiring dan mendudukkan aku di sebuah kursi. "Jangan buka mata sebelum kusuruh, oke? Kamu siap?"
"Hmm, baik." Reaksi kimiawi sedari tadi menyergapku. Aku deg-degan.
King of dramatisir. Dia menghitung sampai tiga. "Buka matamu."
"Eh? Ini...."
Sebuah piano besar hitam mengilap ada di depan mataku. Sambil berdiri dengan mulut menganga, mataku tak bisa lepas memandanginya.
"Ya ampun, Mas. Waktu itu aku hanya--"
Reza tersenyum, puas dan senang. "Piano ini sudah lama menunggumu. Dan aku selalu yakin, kamu pasti akan pulang ke sini," Reza berkata sambil memeluk erat tubuhku dari belakang, dia menopangkan kepalanya di pundakku. "Jalani hari-harimu dengan baik, ya? Aku tidak mau kamu stres."
Dengan agak gemetaran, kusentuh dan kuremas lembut jemarinya. "Terima , Mas."
"Sama-sama," sahutnya, sesaat kemudian ia mengecup sisi kepalaku. "Terima kasih karena kamu sudah mau pulang. Aku tidak akan menghabiskan waktuku sendirian lagi di sini."
Tunggu sebentar -- di sini?
"Mamsudnya di rumah ini, atau...?"
"Di sini, di panggung ini."
"Belajar piano?"
"Yap." Dia mengangguk. "Maaf, aku sudah mendahuluimu."
"Bagus dong. Kamu bisa mengajariku nanti. Tapi untuk malam ini, aku mau request, nyanyikan lagu untukku."
Reza tergelak dengan lambaian tangan. Dia menolak. Tapi aku memohon dan memaksanya. "Masa iya Mas Reza-nya Nara malu?"
"Aku belum mahir," dalihnya.
"Yang kamu sudah mahir pasti ada, kan?"
"Ada sih, cuma dua lagu."
__ADS_1
"Aku mau dengar, dua-duanya," kataku.
Untuk sesaat Reza terlihat sangat ragu. Tapi melihatku yang sudah duduk manis di sampingnya, dia pun tidak tega untuk menolak. Lagu pertamanya Biarkan Aku Jatuh Cinta - ST12. Waktu itu aku baru menyadari bahwa setiap lirik lagu itu -- sedetail-detailnya -- sangat sesuai dengan perasaan dan isi hatinya. Dari dulu -- sejak dia mendekatiku sampai ke momen perpisahan kami -- lagu itu benar-benar mewakili perasaannya, cinta dan kesedihannya. Aku bertepuk tangan dan langsung menagih lagu kedua.
"Tidak usah," katanya.
Aku menggeleng. "Aku tidak mau ada penolakan." Kunaikkan kedua alisku sambil tersenyum simpul.
Dan...
Pulangkan dia padaku
Tunjukkan jalan padanya
Bahwa ku tetap di sini
Temukan dia untukku
Pulangkan dia padaku
Tunjukkan jalan padanya
Bahwa ku tetap di sini
Penantian ini teramatlah panjang
Coba kau rasakan sayang
Letihku di ujung jalan
Dia menghilang
Membawa semua kenangan
Terindah yang kurasakan
Saat bersamanya sayang
Penantian ini teramatlah panjang
__ADS_1
Coba kau rasakan sayang, letihku di ujung jalan
Dia menghilang membawa semua kenangan
Terindah yang ku rasakan saat bersamanya sayang
Hatiku pilu
Sepilu-pilunya
Keceriaanku seketika langsung meredup. Reza menyanyikan lagu Penantian miliknya Armada dengan sepenuh perasaan hingga mampu membombardir hatiku menjadi kepingan-kepingan kecil. Aku membayangkan selama ini -- dia -- setiap hari -- berdoa lewat lagu itu, memohon supaya yang Mahakuasa di atas sana berkenan mengembalikan aku kepadanya.
Pada akhirnya, aku tidak sanggup untuk bertahan di sana. Aku tidak sanggup melihatnya melantunkan nada-nada penuh luka. Luka yang serasa menggenang dan menenggelamkanku seketika. Aku pun pergi.
Pengecut, memang. Aku Hanya bisa lari, menangis, dan bersembunyi. Yah, itulah aku. Begitulah aku -- bodoh dan pengecut.
Setelah beberapa menit membiarkan aku sendiri, Reza menyusulku. Dia masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangnya perlahan-lahan. Aku yang duduk di tempat tidur menoleh, menatap sebentar kepadanya dengan mataku yang merah. Jujur saja, aku merasa bersalah karena begitu tega menghukumnya seberat itu. Tapi di sisi lain, aku juga membenarkan sikapku, sebab jika aku begitu mudah memaafkannya seperti yang sudah-sudah, Reza tidak akan memiliki penyesalan yang mendalam dan tidak akan menjadikan masalah itu sebagai pelajaran berharga untuknya. Bahkan mungkin saja dia akan terus menganggap bahwa aku wanita bodoh yang gampang ditipu dan gampang juga memaafkan saat dia melakukan kesalahan, hingga membuatnya tidak akan pernah takut kehilangan aku dan anak-anakku. Jadi, aku tidak salah sepenuhnya.
"Aku mau tidur. Aku sudah mengantuk," kataku. Aku langsung merebahkan tubuhku, meringkuk ke tempat tidur dan menyelubungi tubuhku dengan selimut.
Aku tahu betul saat Reza naik ke tempat tidur. Yang membuatku cemas adalah ketika Reza menyelinap masuk ke dalam selimutku. Dia ikut meringkuk di sebelahku dan meletakkan satu tangannya di atas bahuku. Itu mengingatkan aku dengan kisah kami dulu, sewaktu aku merajuk gara-gara muntah setelah mencicipi mayones. "Tadi aku sudah bilang tidak usah. Tapi kamu yang memaksaku menyanyikan lagu itu. Kalau kamu seperti ini, aku jadi serba salah," katanya.
"Jangan bahas sekarang, ya. Tolong?"
Reza mengangguk. "Kalau melakukan hal lain, bagaimana?" tanyanya sambil merema* lembut bahuku dengan jemarinya. "Mas masih kangen kamu. Boleh Mas minta lagi?"
Kendati aku tidak menyahut, Reza sama sekali tidak berhenti. Tangannya yang tadinya hanya nangkring di atas bahuku, sekarang mulai menjelajahi lekuk tubuhku. Karena aku diam saja, dia menganggap diamku itu sebagai persetujuan. Dan tak pelak, dia langsung menyelipkan tangannya dan mengelus bagian dalam pahaku, hingga aku merasakan kembali nikmatnya belaian dan sentuhannya yang sudah lama tidak kurasakan. Dan yeah, aku tidak sengaja mendesa*. Dia juga berhasil membuatku basah. Dan aku sangat malu karena dia menyadari hal itu. Aku yang malu langsung membenamkan wajahku ke bantal.
"Tidak perlu malu," bisiknya. "Nikmati saja."
Oh, Mas. Justru celotehan-celotehanmu itu yang membuatku bertambah malu.
"Sayang, Mas boleh masuk sekarang?"
"Aku milikmu. Kamu tidak perlu bertanya."
"Trims. Kamu selalu mengakhiri penantianku dengan indah. Mas sayang kamu, Nara."
Dengan kebahagiaan yang meluap, Reza pun mulai masuk perlahan dan menyelamiku sedalamnya.
__ADS_1
Sungguh, betapa aku merindukan momen ini.