
Mana mungkin deal. Reza pun tidak pernah mengiyakan. Dia memberikan aku sekotak perhiasan. Aku merinding melihatnya, sebab kata Reza itu milik mendiang ibunya yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Reza ingin aku menyimpan perhiasan-perhiasan itu dengan baik, seperti ibunya dulu. Tidak boleh dijual, kecuali -- amit-amit -- di saat benar-benar mendesak.
Hari itu hari senin, tanggal 27 Juli. Dia berencana mengajakku ke kota untuk bermalam di mes resto, dia ingin menghabiskan sepanjang hari hanya berdua denganku, di hari ulang tahunku. Aku sangat senang saat dia mengutarakan gagasannya. Waktu itu seperti biasa, dia yang sudah bangun lebih dulu -- membangunkan aku dan mengajakku salat subuh, selesai salat dan berdoa, aku mencium tangannya sebagai imamku dan dia mencium keningku sebagai makmumnya. Yang berbeda hanyalah: waktu itu dia memelukku, seperti saat pertama kali kami salat berjamaah sebagai pasangan suami istri. Dia memelukku yang masih terselubung mukena dengan erat.
"Selamat ulang tahun," katanya. "Selamat mencapai seperempat abad."
Hah!
"Bisa tidak mengucapkannya dengan romantis? Selamat ulang tahun, Istriku Sayang. Semoga kamu bahagia selalu dan sehat selalu. Kan kedengarannya enak," protesku.
Aku mencebik, tapi Reza malah terkekeh. Aku jadi teringat sewaktu pertama kali dia mengajakku menikah, seperti itu juga -- tidak romantis sama sekali. Tapi setidaknya kali ini kami berpelukan, meski hanya di lantai beralaskan sajadah. Ah, aku baru menyadarinya, itu justru jauh lebih romantis. Setidaknya seperti itulah suamiku, romantisnya agak berbeda. Sedikit aneh dan nyeleneh. Ups!
"Selamat ulang tahun, Istriku. Aku mencintaimu."
"Terima kasih. Aku bahagia bisa melewati ulang tahunku tahun ini bersamamu."
"Bagaimana kalau kita ke kota? Bermalam di mes? Hmm? Kita bisa berduaan sepanjang hari. Mau?"
Aku sih yes!
"Ide yang bagus. Aku mau."
Ah... senangnya aku. Aku merasa saat ini Tuhan sangat baik padaku. Yang pasti, aku sangat bersyukur Dia mengirimkan pasangan yang sempurna seperti Reza untukku. Toh, selama ini aku tidak meminta yang aneh-aneh, tidak meminta dijadikan penguasa dunia atau hal-hal jahat semacam itu. Aku tidak ingin menjadi presiden, atau astronaut, atau minta dijadikan orang hebat dan sekaya Bill Gates. Keinginanku sangat sederhana: aku ingin kami terus bersama, dan hidup bahagia. Tidak terlalu muluk-muluk, bukan?
Atau iya?
"Hati-hati dan selamat bersenang-senang," kata Bunda saat kami berpamitan.
Aku mengangguk dengan cengiran lebar. Tentu saja kami akan bersenang-senang. "Trims, Bunda. Maaf, Bunda Nara tinggal dulu, ya."
Ibuku tersenyum sambil mengelus kepalaku. "Tidak apa-apa," katanya. "Bunda malah senang kalau kalian sering berduaan."
Yeah, meski ibuku tidak mengatakannya, tapi aku tahu -- ia ingin kami segera memberinya cucu.
__ADS_1
Aamiin... aku juga berharap seperti itu...
Siang itu kami berangkat setelah jam makan siang. Seperti kemauan Reza, kami menghabiskan waktu untuk berduaan. Dari rumah kami langsung menuju Danau Opi, Jakabaring. Menikmati angin sepoi-sepoi sambil menikmati jagung bakar dan kelapa hijau. Kami juga sempat naik sepeda air.
"Mas, kita sudah menikah lebih dari tiga bulan. Tapi aku masih belum hamil. Apa kamu kecewa padaku?"
Dia menatapku, seolah-olah pertanyaanku itu hal teraneh yang pernah ia dengar. "Kenapa bertanya seperti itu?"
Aku menghela napas, lalu menggeleng.
"Aku tidak pernah kecewa padamu. Soal rezeki, soal anak, kita harus terus berusaha. Hasilnya terserah Tuhan."
Aku mengangguk. "Bagaimana soal program hamil?"
"Nanti, setelah kita pulang ke Jakarta. Nih, gigit." Dia menyodorkan jagung bakar pedas manisnya ke depan wajahku dan aku memakannya. "Jangan terlalu dipikirkan, justru beban pikiran itu tidak bagus untuk kesuburan," imbuhnya.
Yeah, aku tahu itu. Kusedot kelapa hijauku cukup banyak. Aku tidak haus, tapi aku butuh merileksasi pikiranku dengan minuman dingin.
"Nah, kalau kelapa hijau katanya bagus untuk kesuburan." Dia tersenyum. Itu benar.
"Enak," komentar Reza. "Bagaimana kalau kamu belajar masak mie ini? Jadi kita bisa makan kapan pun saat aku kepingin."
Aku tidak keberatan untuk itu, tapi Reza harus menarik dahulu kata-kata yang pernah ia ucapkan -- dulu. "Ingat, tidak? Kamu pernah bilang kalau kamu tidak akan memintaku memasakkan makanan untukmu?"
Reza terdiam sesaat, nampak berusaha mengingat-ingat: bagaimana, kapan, dan di mana dia pernah mengatakan hal itu. Kemudian ia nyengir. "Oke, aku ingat. Nah, sekarang aku mencabut kata-kataku waktu itu. Aku ingin kamu sering memasak untukku. Tidak masalah, bukan?"
Sudah kuduga. Suami lebih suka makan makanan yang dimasak oleh istrinya, seperti itu juga seorang Reza Dinata. Dan aku tersenyum. "Suatu hari akan kumasakkan untukmu. Aku janji rasanya akan seenak ini."
Hari sudah hampir jam sembilan malam saat kami sampai ke mes resto. Aku langsung mandi, membersihkan diri dan menggosok gigi. Saat aku membuka pintu kamar mandi dan hendak keluar dari sana, yang kudapati malah ruangan gelap yang hanya di terangi beberapa batang lilin. Salah satunya lilin di atas kue ulang tahun yang disiapkannya untukku.
"Selamat ulang tahun," dia berkata di telingaku.
Uuuh... sweet sekali....
__ADS_1
Dia memelukku dan kami melangkah bersama menuju kue. Kemudian ia memintaku untuk memanjatkan doa, meniup lilin, memotong kuenya, dan memberikan suapan pertama untuknya -- suamiku. Setelah itu...
"Hadiah untukmu," katanya. Dia memberikan sesuatu yang dibungkus dengan kertas kado. Tidak susah untuk membukanya, dan aku langsung mendapati sebuah kotak plastik bening, dan isinya...
Ya Tuhan....
"Mas, ini... untukku? Sebanyak ini?"
Aku menelan ludah. Aku pernah melihat emas sebanyak itu hanya di etalase toko emas, BUKAN MILIK PRIBADIKU.
"Ini milik almarhumah ibu," katanya. "Mungkin kebanyakan modelnya sudah kuno, model-model lama, soalnya ini sudah lama sekali dikumpulkan Ibu. Sekarang kuserahkan ini padamu. Jaga baik-baik. Bukan untuk dijual. Kecuali kalau kepepet."
Kotak itu berbahan plastik, bening, dengan kelebaran sedikit lebih besar dari sebuah buku tulis. Ada enam slot di dalamnya. Slot paling besar diisi dengan gelang-gelang besar yang disusun nenumpuk. Sedangkan perhiasan lainnya dimasukkan dengan asal di slotnya masing-masing. Cincin ditumpuk dengan sesama cincin, kalung sesama kalung, begitu pun anting dan liontinnya.
Jujur saja saat itu aku tercengang cukup lama, dan gemetaran.
"Perhiasan merak-mu dan mawar yang waktu itu kubelikan untuk Ibu juga sudah kutaruh di situ," katanya sambil menaruh kue ultah itu ke kotaknya.
Kuhirup udara banyak-banyak -- mencoba menguasai kembali diriku. "Mas... jujur, aku senang. Aku... aku bukan perempuan yang naif. Aku tidak naif, tentu aku mau menerima dan tidak akan menolak semua perhiasan ini. Tapi... kamu yakin ingin memberikan ini padaku?"
"Ya, tentu. Kamu istriku."
Aku masih bungkam. Rasanya tidak percaya. Walaupun aku tahu Reza sangat kaya, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan memberikan kepercayaan sebesar itu kepadaku.
"Jangan bengong. Taruh kotak itu," katanya. "Aku ingin memberimu hadiah ekstra."
Hah?
Tiba-tiba ia mendekapku erat-erat dan tersenyum nakal.
"Sebentar," kataku. "Taruh ini dulu."
Tapi boro-boro, dia hanya meletakkan kotak itu ke atas meja dan langsung menarikku ke tempat tidur, menjatuhkan diri ke sana. Ah... begitulah dia kalau sudah dimabuk hasrat.
__ADS_1
Hmm....
"Omong-omong, saat ulang tahunmu nanti, apa yang harus kuberikan untuk membalas hadiah ini?"