Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Aku Ingin Menyerah


__ADS_3

"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Sejak kapan kamu mengonsumsi obat-obatan seperti ini?"


Kepo!


"Jawab pertanyaanku. Sejak kapan?"


"Apa pedulimu? Hmm?"


"Jawab saja."


"Jangan sok peduli!"


"Jawab!"


"Kenapa? Dulu menampar. Sekarang kamu sudah berani bentak-bentak aku? Iya?"


Hening. Reza terdiam karena kata-kataku, padahal sebenarnya dia hanya bicara sedikit keras, bukan membentakku. Aku saja yang melebih-lebihkan karena sudah terlanjur emosi.


"Kalau kamu sepenuhnya peduli padaku, kamu pasti tahu penderitaanku. Sejak kamu ketahuan bohong dan menamparku, aku butuh obat untuk membantuku tidur, obat yang bisa mengenyahkan semua pikiranku tentang keberengsekanmu. Kamu berengsek. Kamu tidak pernah berubah."


Dia langsung menunduk dengan wajah bersalah dan penuh penyesalan. "Maaf?" katanya.


Aku menggeleng. "Aku tidak mau dengar. Aku sudah muak."


Aku baru saja hendak pergi saat tangan Reza menahan lenganku. Tetapi dia diam saja, seakan tidak tahu mesti mengatakan apa setelah permintaan maafnya kutolak mentah-mentah.


"Kita bisa mengobrol sambil duduk," kataku. Tapi Reza tetap diam saja, bahkan sewaktu dia mengikutiku dan kami duduk berhadapan di sofabed di ruang makan lesehan. Tidak tahan dengan keheningan yang terasa bermenit-menit, aku pun buka suara, "Kamu tahu, kamu itu seperti sebuah koin yang punya dua sisi berlainan. Kadang kamu memperlihatkan sosok suami dan ayah yang sempurna, tapi di lain waktu, kamu malah seperti ini. Kamu masih saja bermain-main di belakangku. Atau mungkin karena saking sempurnanya, makanya semua ini terjadi. Terima kasih banyak, ya, kamu sudah membuatku harus mengkonsumsi obat-obatan seperti ini. Kamu benar-benar sosok ayah yang luar biasa. Bahkan lebih luar biasa dari ayahku. Menghadapi ayahku saja aku tidak pernah sampai harus mengonsumsi obat-obatan seperti ini. Tapi menghadapi kamu? Amazing, bukan? Terima kasih, Mas."


Dia menaikkan matanya ke awang-awang. Sementara aku tidak yakin sepenuhnya menginginkan pembicaraan ini di perpanjang. "Aku hanya merasa bersalah. Aku kasihan padanya, pada anaknya. Aku...."


"O ya? Merasa bersalah? Atau... merasa masih cinta?"

__ADS_1


Dia menghela napas panjang lalu mengusap wajah. "Aku yakin -- aku hanya mencintaimu dan tidak lagi mencintai Salsya. Aku yakin sepenuhnya tentang itu."


"Lantas, kenapa kamu merasa bersalah? Hmm? Manusia punya takdirnya masing-masing, Mas. Mereka juga punya pilihan, dan otak. Kamu juga punya otak, kan? Ada banyak janda di luaran sana yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan daripada Salsya-mu itu. Kamu bisa mengasihani mereka dan tak perlu menjadikan Salsya spesial, ya kan?"


Reza menatapku dengan raut aneh yang tak bisa kumengerti, apa dia kesal, marah atau apa. Yang pasti itu membuatku ngeri. Aku refleks mundur sedikit dan merapatkan tangan untuk melindungi perutku. Dan itu membuatnya terkejut, dia menyadari ketakutanku. Andai waktu itu aku tidak hamil, tatapannya itu membuatku ingin langsung menyerangnya.


Sepersekian detik kemudian, sekonyong-konyong Reza malah turun dari sofa. Dia melingkarkan lengannya yang gelisah pada tubuhku, lalu membenamkan wajahnya di pahaku sambil menangis. "Jangan takut. Aku tidak akan kasar lagi. Tidak akan," sesalnya.


Aku tertegun melihat reaksinya, sekaligus merasa bersalah karena mengira dia akan bersikap kasar lagi padaku. Dengan jemari kikuk karena bingung harus bersikap "bagaimana" -- kusentuh kepalanya dan menggerakkan jemariku -- sedikit. Sejujurnya aku bermaksud membelainya tapi aku tidak mampu. "Aku...."


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Kata-kata lenyap dan terlucut dari pita suaraku. Mungkin karena tidak mendapatkan respons seperti yang ia inginkan, Reza mengangkat kepalanya lalu menatapku. "Kamu takut?"


"Aku...."


Reza nyaris menangis. Matanya merah berkaca. "Borgol tanganku," katanya seraya mengangkat kedua tangan. Dia menyodorkan pergelangan tangannya ke depan wajahku dengan kedua tangan mengepal.


Aku menggeleng, dengan mata yang sama berkacanya. "Jangan seperti ini, Mas...."


"Tidak apa-apa, supaya kamu nyaman, kamu tenang. Aku tidak mau kalau kamu ketakutan."


"Kamu tunggu di sini, biar kuambilkan borgolnya."


Reza baru hendak berdiri dan hedak ke kamar, tapi aku langsung mencegahnya. "Tidak usah," kataku. Dia kembali berjongkok lutut di hadapanku, mendongak menatapku sambil menggenggam erat tanganku. Air matanya berurai, membuatku tidak sanggup melihatnya. "Aku hanya cemas, anak-anakku... maksudku... emm...."


"Ssst... tidak usah takut." Dia menangkup wajahku dan mengusap air mataku sehingga rasa takutku mulai sirna. Kemudian aku memintanya untuk kembali duduk di sampingku, bahkan dia melakukannya dengan lebih baik. Dia langsung memeluk dan menyandarkan aku ke dadanya.


Cukup lama aku berusaha mengendalikan pikiranku sebelum mencetuskan kata-kata yang masuk akal, atau mungkin tidak sama sekali.


"Mas?"


"Emm?"


"Hubungan kita mulai tidak sehat. Entahlah, atau justru memang tidak sehat dari dulu, dari awal. Sebaiknya--"


Reza melepaskan pelukan dan memegangiku setengah lengan jauhnya. "Jangan bicara sembarangan. Sekalipun itu benar, kita bisa memperbaiki semuanya, ya kan?"

__ADS_1


Aku menghela napas dalam-dalam, dadaku terasa sesak dan pusing kepalaku mulai terasa. Obat tidur itu mulai bereaksi. "Jelas tidak sehat, Mas. Aku, kamu, kita -- seakan hanya memaksakan keadaan."


"Tidak begitu."


"Mas...."


"Sayang...."


"Kamu bersamaku bukan untuk menyiksaku, kan?"


"Tidak," sahutnya cepat dan menggeleng kuat.


"Aku ingin kamu bahagia. Tapi kenyataannya, keberadaanku di sisimu itu justru membuatmu tersiksa."


Ya Tuhan, air matanya tumpah. "Aku bahagia, Sayang. Aku bahagia bersamamu. Jangan bicara--"


"Tidak sepenuhnya, Mas. Kamu tersiksa karena tidak bisa bersama Salsya."


Reza menggeleng dengan emosional. "Tolong, tolong, tolong, tolong. Kamu... kamu jangan salah mengerti. Jangan salah paham."


"Oke. Tapi jelas, aku yang tersiksa. Aku tersiksa melihatmu yang murung, yang merasa bersalah, melamun, bahkan kamu tidak bisa tidur karena memikirkan perempuan itu. Ini tidak baik. Tidak baik untuk semua pihak." Aku mulai gelisah. Ekspresi wajah dan gerak tanganku mulai tidak tenang. "Aku, kamu, dan anak-anak kita menjadi korban dari semua ini. Kenapa kita memaksakan untuk bersama sementara kamu masih memikirkan perempuan itu? Ini tidak bagus untukku dan perkembangan janinku. Aku... pikiranku terbeban, Mas. Mungkin... mungkin sebaiknya kita saling melepaskan."


Reza mendengarkan aku -- hanya untuk tidak menyela ucapanku. Sementara itu, sakit kepalaku semakin menjadi dan kepalaku terasa berdentam-dentam. "Jangan berpikir yang berat-berat. Itu yang justru tidak baik untuk anak kita," ujarnya.


Oh, terkadang dia tahu dan sangat paham, tapi di lain waktu dia mulai kembali menjadi Reza-nya Salsya.


"Astaga.... Selalu seperti ini. Bisa tidak kamu memberikan solusi yang terbaik untuk semua pihak? Atau harus aku?" kataku sambil mencengkerami rambut. "Oh, atau begini. Kamu tidak bisa, kan, melepaskan Salsya? Dan, kamu... kamu juga tidak bisa berhenti memikirkan dia. Jadi...." Aku frustasi dan mulai timbul keinginan untuk menyerah. "Kamu nikahi saja dia, dan kamu bisa merawat anaknya. Biar aku yang mundur. Hmm? Kamu menikah dan kita bercerai. Atau, kita bercerai lalu kamu menikah dengan dia. Terserah, yang mana duluan. Itu terbaik," kataku dengan gusar.


Reza sedari tadi tidak bisa menyahut, tapi kepalanya menggeleng-geleng penuh penolakan, dengan suara tercekat dan air mata terurai.


"Kamu jangan khawatir, kalau kita berpisah baik-baik -- aku tidak akan pernah melarangmu menemui anak-anakmu. Bebas, kapan pun, seberapa lama pun, aku pasti mengizinkan."


Sekarang giliran Reza yang mencengkeram rambutnya. "Jangan bicara lagi," katanya. Dia menarikku kembali ke dalam pelukannya. Kurasakan lengannya melingkar erat dan bibirnya mencium keningku."


"Aku lelah. Aku ingin menyerah. Aku tidak sanggup melihatmu selalu mengingat dia, kamu selalu memikirkan dia, Mas. Kita jadi sering bertengkar dan itu membuatku takut. Aku takut kamu kasar dan menciderai kandunganku. Aku... aku ingin berpisah. Pernikahan ini menyiksaku," suaraku semakin melemah, aku seperti orang yang sedang mengigau. Sesaat kemudian aku mulai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2