Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Mawar Merah


__ADS_3

"Mas?"


"Apa?"


"Kamu...."


"Emm?"


"Apa kamu sedih atas kematian Salsya? Apa kamu merasa kehilangan dia?"


Eh?


Reza tertawa pelan. "Tidak. Yeah, kurasa memang tidak. Kalau kasihan mungkin iya, karena... yah, karena dia menyia-nyiakan hidupnya. Tapi... kalau sedih... rasanya ada sedikit, tapi tidak sampai membuatku menangis. Hanya sedih, karena... begini, kenapa dia harus mati dengan cara seperti itu? Beda, lo, kalau matinya karena kecelakaan misalnya. Tapi aku tidak merasa kehilangan, jujur, tidak sama sekali. Kecuali pada Aulian. Aku sedih karena dia kehilangan ibunya. Tidak salah, kan, kalau aku kasihan pada bayi malang itu?"


Aku mengangguk.


"Ehm, Sayang, dengarkan aku. Mulai saat ini, kita hanya perlu menghadapi hukum. Selebihnya, semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi tentang orang ketiga. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemburui. Kamu sudah bisa tenang soal kesetiaanku, ya kan?"


Aku tersenyum -- senyum yang aku tidak mengerti alasannya. Tapi aku tahu -- aku tersenyum pada masa lalu. "Ya," kataku. "Semua tentang Salsya itu benar-benar mimpi buruk untukku."


"Yap. Mimpi buruk yang melelahkan, dan kisahnya sudah ditutup. Dan sekarang...," Reza berbisik, "apa kamu mau kuterapi?"


Eh?


Dasar! Bisa-bisanya dia berpikir nakal dalam situasi seperti ini.


"Memangnya ampuh?"

__ADS_1


"Kita coba saja dulu."


"Mas...," aku memekik, seketika Reza hendak menggendongku, dan...


Tok! Tok!


"Permisi...."


Seorang cleaning service rumah sakit, laki-laki usia tiga puluhan berdiri di depan pintu ruang rawatku dengan buket mawar merah di tangannya.


"Dengan Mbak Inara?"


Aku mengangguk.


"Ada kiriman untuk Mbak, tadi dititipkan di pos satpam," ujarnya.


Empat belas tangkai mawar merah dengan selembar surat di dalamnya.


Kamulah yang akan menjadi pemenangnya.


Deg!


"Sayang?" Reza menepuk bahuku. "Aku bicara denganmu. Kamu melamun?"


Jantungku berdegup kencang. "Sori, aku tidak dengar."


"Sayang?"

__ADS_1


"Emm, apa?"


"Tatap aku, apa maksud tulisan itu? Apa kamu yang membunuh Salsya?"


"Bukan. Sumpah demi Tuhan, Mas. Bukan aku." Kutatap matanya dengan tajam. "Aku malah ingin mengajukan pertanyaan yang sama untukmu."


Reza terbelalak. "Aku?"


"Semua orang patut dicurigai."


"Maksudnya?"


"Ini empat belas tangkai mawar merah."


"Oh, *hit! Ini dari pembunuh itu?"


"Iya. Aku yakin. Dan ini...."


Reza menggeleng. "Itu bukan aku, Sayang," katanya tegas. "Tapi kita bisa mengeceknya."


Giliran aku yang menggeleng. "Tidak mungkin, Mas. Itu mustahil. Bunga ini bepindah dari tangan ke tangan. Tidak ada keterangan dari toko mana asalnya. Tidak mungkin juga kita bertanya ke semua toko bunga di kota ini. Lagipula, belum tentu pelakunya membeli bunga ini sendiri. Bisa jadi dia menyuruh orang lain. Mungkin, dia hanya ingin memberitahuku kalau... dia selalu mengawasiku."


"Hah?"


"Yah, bisa jadi. Bisa jadi dia ada di sini." Aku menoleh keluar ruangan, mulai takut.


"Sayang, hei. Kamu kenapa? Tidak usah takut, ya. Ada aku, dan di luar ada beberapa bodyguard. Dia tidak akan bisa mendekatimu. Tenang, ya? Tenang."

__ADS_1


Aku mengangguk, memikirkan lagi kejadian malam itu, lalu aku tersenyum -- bukan senyum bahagia, bukan senang, bukan haru. "Mas, pembunuh itu justru menyelamatkan aku dan anak-anak kita dari keberutalan Salsya. Dia tidak membunuhku. Bisakah kita tidak usah membahas soal ini pada polisi? Aku harap kamu tidak keberatan kalau Salsya tidak mendapatkan keadilan. Iya, kan, Mas? Please?"


__ADS_2