Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Keputusan Berat


__ADS_3

Aku terkejut atas kedatangan Aris. Katanya dia tidak tenang kalau dia tidak melihat sendiri kondisiku. Memang, di satu sisi aku beruntung karena dia begitu peduli terhadapku, dia rela meluangkan waktu, jauh-jauh dari negeri seberang hanya untuk menemuiku. Tapi rasa canggung tetap tak terelakkan. Entah karena aku terlalu percaya diri atau apa, tapi aku merasa, tatapan matanya masih seperti dulu. Masih ada cinta di sana. Terlebih sebelum pulang, dia meminta waktu untuk mengobrol empat mata denganku. Inti dari yang ia sampaikan adalah: dia akan mendukung apa pun keputusanku. Dan dia berharap kalau seandainya aku memilih untuk berpisah dengan Reza, dia ingin aku mengizinkan -- dirinya -- selalu ada dan berada di sisiku. Aku tidak tahu bagaimana mesti mengartikan kalimat itu. Ada dan berada di sisiku -- yang bagaimana dan sebagai apa?


Belum hilang kebingunganku atas ucapan Aris, Mayra yang jauh-jauh datang dari Bogor pun menambah panjang daftar hal-hal yang harus kupertimbangkan. Kendati katanya dia datang sebagai sahabat sekaligus saudariku, bukan untuk membela Reza.


Mayra memandangiku lama sekali. "Kamu tahu bagaimana rasanya hidup sebagai anak broken home. Apa kamu tega anak-anakmu mengalami hal yang sama?"


"Rumah tanggaku sudah tidak sehat, May. Sepandai-pandainya Mas Reza bersandiwara, pada akhirnya ketahuan juga kalau dia seringkali membohongiku. Apalagi sekarang sifat aslinya terlihat, dia seorang lelaki ringan tangan. Dan aku baru sadar, selain wajahnya yang mirip Reza Rahadian, dia juga sama pintarnya dalam berakting."


Mayra mendesa*. *esahannya bahkan lebih berat daripada landasan besi tempa. "Coba pertimbangkan lagi alasannya kenapa dia melakukan itu."


"Apa suamimu pernah membohongimu?"


Dia menggeleng. "Tidak," sahutnya, kendati sebenarnya dia ragu untuk menjawabku dengan jujur.


"Apa dia pernah memukulmu?"


Mayra menggeleng lagi.


"Mas Reza melakukan itu padaku. Dia membohongiku, bahkan berkali-kali. Dia juga tega melayangkan tamparan ke pipiku. Dia KDRT, May. Apa lelaki seperti itu layak untuk dipertahankan? Coba kamu yang mengalami kekerasan fisik, dipukul oleh suamimu sendiri, apa kamu bersedia bertahan? Aku lagi hamil saja dia sekasar itu, dan dia setega itu membohongiku, dan apa yang dia lakukan itu sudah termasuk kategori selingkuh. Bagaimana mungkin aku membiarkan diriku bertahan di sisi lelaki seberengsek itu? Tidak. Aku tidak mau."


Tapi hatiku menjerit. Aku tahu, dari dasar hatiku, aku ingin rumah tanggaku kembali utuh. Aku juga ingin anak-anakku punya keluarga yang utuh, memiliki ayah dan ibu yang membesarkannya bersama-sama. Tapi jelas, hatiku juga tidak akan sanggup berbagi suami dengan perempuan lain. Tidak akan pernah.


"Seandainya, yang ia katakan padaku adalah kebenaran. Aku akan mengakui kalau yang ia lakukan itu memang perbuatan baik. Dan andai aku tahu yang ia katakan memang sebuah kebenaran, aku bisa mengerti atas alasannya, karena dia ingin menolong orang, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin menyakiti aku seandainya aku tahu dia menolong orang itu. Tapi alangkah baiknya kalau dia tidak usah berbohong. Sepahit apa pun kejujurannya, itu akan lebih baik, daripada aku tahu sendiri kalau ternyata selama ini dia sering membohongiku. Rasanya jauh lebih sakit. Lagi-lagi dia membuatku kecewa. Kalau aku tahu sendiri seperti ini, aku jadi sulit untuk percaya lagi padanya. Kalau dia sering bohong, bagaimana aku tahu dia jujur atau tidak atas alasan-alasan yang ia paparkan itu. Dan yang pasti, aku tidak mau berbagi suami. Mungkin perpisahan adalah jalan yang terbaik, May. Lagipula, keselamatan anakku akan terancam kalau aku dekat-dekat padanya. Keselamatan anakku adalah hal yang terpenting, kan?"


Setelah jeda dalam obrolan, Mayra berdeham. "Aku mengerti. Akan kusampaikan ini pada Reza. Dan, seandainya, Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kalian berdua untuk tetap bersama, semoga Reza benar-benar menyesali kebodohannya selama ini, dan semoga dia tidak mengulangi perbuatan bodoh itu lagi."

__ADS_1


Aku tersenyum kepadanya. "Trims, sudah peduli padaku."


Mayra mulai menangis, lalu dia memelukku. "Akan kumarahi dia karena sudah bersikap kasar padamu. Dia memang bodoh."


Memang, dia memang bodoh. Dan aku akan membuatnya menyesal karena kebodohan yang sudah ia lakukan itu.


Jadi, pada sabtu siang ketika aku sudah diperbolehkan pulang, karena selain harus mengonsumsi obat-obatan dan vitamin, dokter juga menyarankan aku untuk bed rest total, jadi itu membuatku membulatkan tekad -- membuatku mengambil keputusan untuk pulang ke rumah Ihsan, bukan bertujuan untuk segera mengurus perceraian. Bukan. Aku hanya ingin menjaga calon anakku di masa rentan trimester pertama kehamilanku. Aku tidak ingin hubungan Reza dan Salsya memberikan dampak buruk untuk calon anak kembarku.


Sebelum pulang, kuaktifkan ponselku yang sudah memuat begitu banyak pesan di berbagai aplikasi yang masih akan kuabaikan. Aku mengaktifkan ponselku hanya untuk mengirimkan pesan pada Reza.


《 Dokter menyarankan aku untuk bed rest total. Aku tidak boleh stres dan harus banyak istirahat. Kalau kamu sayang pada calon anakmu di dalam kandunganku, izinkan aku pulang ke rumah Ihsan.


Maafkan aku. Aku harus jaga jarak denganmu.


》 Aku akan menjagamu. Tolong, pulang ke rumah kita.


》 Maafkan aku. Aku akan memperbaiki segalanya.


《 Aku muak pada permintaan maafmu dan semua janji-janjimu. Tolong, kalau kamu tidak mau kehilangan anak-anakmu -- jangan jadi ayah yang egois. Atau kamu memang sengaja menyakitiku, membohongiku, bahkan kamu memukulku, kamu ingin aku dan anak-anakku mati?


》 Oke. Oke. Jangan berpikir macam-macam. Aku izinkan kamu pulang ke rumah Ihsan. Tolong tenangkan dirimu.


Bagus. Akhirnya dia mengalah. Entah dia terpaksa atau tidak, yang penting dia sudah mengizinkan aku meski harus dengan cara seperti ini.


Sewaktu kami keluar dari ruang rawatku, Reza ada di sana. Dia langsung berdiri, bangkit dari kursinya.

__ADS_1


"Biar kuantar, ya?" katanya. Dia nekat mengadang jalanku meski Ihsan menghalanginya mendekatiku.


Aku melengos. "Tidak usah," kataku. "Aku tidak mau kehadiranmu memengaruhi keputusanku. Aku tidak mau melihatmu membuatku lemah. Ayo, Bund."


Tapi...


"Tidak," ibuku menahanku.


"Em?"


"Kita pergi baik-baik. Setidaknya cium tangan suamimu."


"Bund!" kata Ihsan agak keras. Jelas dia tidak setuju, dan itu memang agak konyol.


Dengan patuh, kuraih tangan suamiku dan aku menciuminya -- kulakukan itu dengan sepenuh perasaan -- perasaan mendalam dari dasar hatiku. Sesaat kemudian, kurasakan satu tangan Reza menyentuh kepalaku.


"Tidak perlu lama-lama," celetuk Ihsan. "Tangan itu yang sudah tega menamparmu."


Benar. Yang dikatakan Ihsan itu benar. Dan aku tidak marah Ihsan mencetuskan kalimat yang pasti telah menonjok hati Reza dengan keras. Bahkan mataku berkaca begitu menyadari hal itu.


"Aku pergi," kataku. Kuusap air mata yang tahu-tahu sudah melintasi pipi. "Jaga dirimu baik-baik."


Reza mengangguk. Matanya sama berkacanya denganku. Lalu sejenak kemudian dia menarikku ke dalam pelukannya. "Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Aku mencintaimu, cinta yang tidak akan pernah berubah.


Hmm... muak dan haru langsung bertarung hebat di dalam hatiku begitu mendengar kata cintanya yang... entahlah, manis -- tapi basi. Lalu, setelah melepaskan pelukan, dia menangkup wajahku dan mencium keningku.

__ADS_1


Oh, drama ini bisa membuatku luluh jika aku tidak segera meninggalkan tempat.


__ADS_2