Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Malam Pertama


__ADS_3

Setelah kami selesai menikmati jamuan, dan setelah semua orang mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehan dalam olah vokal, Reza dan aku memutuskan untuk segera kembali ke cottage, tapi semua orang malah memaksanya untuk menutup acara malam itu dengan sebuah lagu.


"Oke," katanya. "Tapi setelah ini jangan menahan kami untuk pergi."


Satu. Dua. Tiga. Dan... Reza mulai memetik gitar. Awalnya agak canggung, tetapi hal itu bisa ia tutupi dengan kegigihannya. Lagu yang dibawakannya adalah Arti Cinta, aslinya dibawakan oleh Ari Lasso, tetapi Reza membawakannya dalam versinya sendiri, versi yang sangat slow. Kurasa aku pun lebih suka lagu itu dalam versi slow, lebih menyentuh dan lebih mengena.


Setelah lagu itu berakhir, bukannya menaruh gitar -- Reza malah memanggilku. Dia ingin aku menyanyi bersamanya. Dan kusadari, kami tidak pernah berduet sekali pun. Menurutku tidak ada salahnya menuruti kemauannya satu itu. Aku pun menghampirinya. Kami membawakan lagu Dealova -- dengan sangat slow juga, -- dan itu menjadi lagu duet pertama kami -- kenangan kami.


Setelah lagu berakhir, aku dan Reza bergegas tanpa berpamitan, tidak ingin ada yang coba-coba menahan kami lagi. Walaupun semua orang meneriaki kami, kami hanya melambaikan tangan dan terus berlari meninggalkan pantai.


Sesampainya kami di cottage, aku mendapatkan satu kejutan lagi. Aku sama sekali tidak mengira jika kamar yang tadinya kutinggalkan dalam keadaan agak berantakan -- ternyata sudah dihias bak kamar pengantin baru. Ada banyak lilin dinyalakan di dalam sana, dan dengan kelopak mawar bertaburan di mana-mana, juga tempat tidur yang di desain dengan sangat indah, terselubung kelambu putih, tipis namun tidak terawang, sehingga apa pun yang ada di dalam sana -- jika dilihat dari luar kelambu akan terlihat seperti bayang-bayang siluet. Di samping itu juga terdengar nada musik tanpa lirik mengalun merdu memenuhi ruangan, aku tidak tahu apakah itu jenis instrumen lagu atau apa, tapi nada-nadanya merileksasi. Yap, sempurna.


"Siap?" tanya Reza.


Ah, suamiku. Matanya menatapku dengan lekat, dan satu tangannya sudah menarik tali pengikat gaunku, hingga membuatnya terasa longgar.


Aku pun mengangguk. Tapi tetap saja aku berdebar. Meskipun kami sudah sebulan menikah, meskipun kami tidur di satu kamar yang sama, tetapi Reza belum pernah melihatku secara keseluruhan. Dia pun tidak pernah memaksakan itu, juga tidak pernah meminta -- sejak aku menolaknya malam itu -- di malam pengantin kami. Mungkin dia ngambek atau apa, entahlah. Mungkin juga dia sengaja menunggu momen ini, bisa jadi. Dan jujur, meski sudah satu bulan menikah, kurasa sampai saat ini aku masih saja malu padanya.


"Boleh aku ke toilet sebentar?" tanyaku


Lega. Reza mengizinkan dan aku segera melesat masuk ke dalam sana. Bersembunyi, mengatur napas, dan mengontrol rasa gugupku. "Tenangkan dirimu, Nara... ini malam yang kamu tunggu-tunggu. Oke? Ayo keluar."


Hah! Aku seperti orang gila -- berbicara dengan diriku sendiri di depan pantulan cermin.


"Aku menunggumu," katanya saat aku membuka dan menutup kembali pintu toilet. Dia berdiri di luar pintu dan langsung menarikku ke dalam pelukannya, lalu menyandarkan tubuhku ke dinding. Barulah aku menyadari, dia sudah melepaskan jas dan dasinya, juga ikat pinggangnya -- hanya menyisakan celana dan kemeja dengan semua kancing yang sudah terlepas, dan tiba-tiba saja aku kembali merasa takut.


Lalu, perlahan tapi pasti, aku menyadari tangannya sudah menyentuh ritsleting gaunku dan mulai menurunkannya perlahan hingga gaunku meluncur bebas dan benar-benar terlepas. Saat itu, aku yang malu spontan berbalik -- memunggunginya. Sesaat kemudian, aku merasakan tubuhnya menempel di kulitku, membuatku menyadari -- dia sudah menanggalkan kemejanya. Rasanya hangat.


"Aku sudah menunggu sangat lama untuk melakukan ini," katanya sambil menelusurkan satu tangan dengan lembut ke sisi wajahku. "Boleh aku meminta hak-ku sekarang?" Dia meraih tanganku dan menguncikannya ke dinding.


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Kubiarkan ia menciumi sepanjang sisi wajahku, turun sampai ke leherku -- menyentuh titik sensitif di bagian bawah telingaku. Lututku goyah. Aku mendesis dan mataku terpejam ketika ia mencumbui leherku -- lebih lama dari yang pernah ia lakukan sebelumnya. Aku mengeran* lirih dan bergetar di dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sekarang," bisiknya. Kubuka mataku, dan pandanganku langsung tertumbuk pada pantulan cermin di dinding -- pipiku langsung merona saat menyadari Reza memerhatikan setiap ekspresiku dari pantulan cermin itu. Dan ia tersenyum saat mata kami bertemu pandang.


Menyadari aku yang merasa malu, dia pun langsung memutar tubuhku menghadapnya, tapi aku langsung menyembunyikan diriku lagi ke dalam pelukannya. "Aku malu," kataku.


Reza tersenyum lagi. Dia langsung menggendongku dan aku pun langsung menyalungkan tanganku di lehernya, menutupi tubuhku dari pandangan matanya. Dengan hati-hati, dia menurunkanku ke tempat tidur. Sambil menatap ke dalam mataku, tangannya bergerak liar menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Menyentuh sahara-ku dengan jemarinya. "Aku bangga menjadi yang pertama dan satu-satunya lelaki yang menyentuhmu."


"Emm, aku juga. Aku bangga menyerahkan diriku padamu."


Kendati dengan cahaya temaram, aku bisa melihat senyuman hangat nan bahagia menghiasi wajahnya, juga tatapan matanya yang dipenuhi cinta. "I want you now, Istriku," bisiknya dengan suaranya yang berat.


Aku mengiyakan dengan anggukan. Dan...


Aku benar-benar menegang ketika tangannya menyentuh inti diriku.


"Takut?"


Aku mengangguk. "Sedikit," kataku.


Ia pun turun ke kakiku, melepaskan kain terakhirku dengan perlahan, lalu...


Aku gemetaran -- merasakan sensasi asing yang menggelenyar dari sentuhan lidahnya. *rangan manis pun tak terelakkan ketika dia juga menyesapku dengan cinta.


"Mas... sekarang," pintaku dengan napas tersengal. Aku sudah siap. Setiap saraf dan sel dalam tubuhku mendambakan dirinya. Dia mengangguk.


Dengan sangat perlahan dan sangat hati-hati, Reza menyatukan dirinya denganku. Aku tahu ia pun takut kalau itu akan menyakitiku. Ia ingin pengalaman pertamaku -- pengalaman pertama kami -- menjadi seperti yang selama ini kuimpikan. Meski pada akhirnya...


"Ouh...," aku meringis menahan sakit saat ada sedikit rasa tidak nyaman.


Reza berhenti sejenak. "Rileks," bisiknya.


Bagaimana mau rileks kalau....

__ADS_1


"Hmp... auw...," aku merintih saat dia berhasil masuk -- sedikit.


Uuuh... sakit... sekali.


"Sakit?"


"He'em."


"Tahan, ya?"


Aku mengangguk. "Emm," gumamku sambil merengkuh erat tubuhnya dengan kedua tanganku. "Aku akan menahannya untukmu."


Kupejamkan mataku dengan perasaan was-was, dan...


"Sakit, Mas...."


"Tahan...."


"Ummmmmmm...."


Refleks, kucengkeram punggungnya dengan kuat. Kurasakan ada bulir bening mengalir dari sudut mataku saat aku merasakan dan menahan sakitnya ketika dia perlahan-lahan masuk seluruhnya.


Reza berhenti lagi sejenak, membiarkan dirinya terbenam dengan sempurna. Aku merasakan kehangatannya di dalam sana. "Terima kasih," katanya. "Sudah memberikan dirimu seutuhnya untukku." Dia mengusap air mataku, lalu mencium bibirku dengan lembut.


Aku hanya bisa mengangguk sekali dan mengedipkan mata, tenagaku terasa hilang begitu saja, terasa ada yang putus dan membawa separuh napasku terbang ke angkasa, kendati aku masih memiliki kesadaranku, masih bisa mendengar suaranya, dan masih bisa merasakan sentuhan-sentuhannya yang penuh cinta. Tapi pada akhirnya rasa sakit itu dengan segera terlupakan saat ia mulai bergerak, dan memujaku dengan tangan dan bibirnya. Aku gemetar penuh damba, tersesat dalam sensasi asing, menjerit saat kenikmatan itu semakin meningkat dan memuncak. Aku terpejam. Untuk pertama kali, ada sesuatu yang tumpah di dalam sana.


"Aku mencintaimu," suara Reza lirih di telingaku saat dia hampir mencapai puncak. Dia pun mempercepat gerakannya dan dengan sisa-sisa kesadaran yang kupunya -- aku mengamati wajahnya. Dia menyipitkan mata, mendongakkan  kepala ke belakang, dan mengeran*, seolah-olah lututnya terluka dan mesti dijahit tanpa novocaine.


Setelahnya, Reza menjatuhkan tubuhnya di atasku -- menutupi tubuhku dengan tubuhnya yang kekar. Tubuh kami saling menempel dengan keringat bercucuran. Andai aku bisa, saat itu aku ingin memeluknya dengan erat. Tapi aku tidak berdaya, aku kehilangan kesadaranku. Entah tidur atau pingsan, aku tidak tahu.


Dan, yeah. Malam ini sangat indah. Malam pertamaku. Terima kasih, Cinta.

__ADS_1


__ADS_2