
Aku jatuh, terjerembab ke lantai dan efeknya mencederai perutku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk bangkit tapi tidak bisa. Kupegangi perutku dan aku menangis kesakitan. Di saat yang bersamaan Reza meraihku, menggendongku dan membawaku ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan itu ia tak henti-hentinya meminta maaf dan menuturkan semua penyesalannya.
Andai aku tidak kesakitan, ingin sekali rasanya mengutuki dirinya yang sudah berani melakukan kekerasan padaku. Tapi rasa sakit plus takut membuatku tidak bisa memikirkan hal-hal lainnya. Tidak ada yang kulakukan selain menahan sakit, menguatkan diriku sendiri, dan berdoa untuk keselamatan janinku. Aku ketakutan, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon anak-anakku.
Dan, beruntung. Tuhan masih percaya padaku. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa kandunganku baik-baik saja. Dan meskipun prahara rumah tanggaku dan kebohongan Reza sangat menyakitkan, tapi keyakinanku tidak goyah. TUHAN MEMANG BAIK.
Setelah keadaanku stabil dan rasa sakitku sudah reda, aku dipindahkan ke ruang perawatan. Aku berusaha untuk tegar, tapi tetap saja, ketika Reza menemuiku dan meminta maaf, aku tidak bisa menahan diri. Aku pun menangis lagi.
"Keyakinanku selama ini ternyata salah. Ternyata kamu sama ringan tangannya dengan ayahmu. Kamu menjadikan aku sebagai sasaran. Kamu membuatku merasakan sakit yang sama dengan sakit yang dulu pernah dirasakan oleh ibumu saat ayahmu memukulinya. Sumpah, Mas. Aku tidak akan memaafkanmu untuk hal ini. Tidak akan pernah."
Reza terisak. "Aku menyesal," ujarnya.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak ada gunanya. Aku mau kamu keluar dari sini."
"Sayang...."
"Keluar! Aku tidak ingin melihatmu."
"Sayang, tolong. Maafkan aku."
"Pergi...."
"Aku mohon...."
"Kamu atau aku yang pergi?"
__ADS_1
Reza tidak beranjak, juga tidak menyahut. Hanya terus menatapku dengan lekat dengan matanya yang basah, hingga aku memaksakan diri untuk bangkit, barulah dia menyerah. Dia menurut dan langsung keluar.
Tetapi, malam itu ternyata Reza tidak memberitahu ibuku kalau aku masuk rumah sakit. Tetapi, sungguh malang, peristiwa KDRT yang dilakukan Reza padaku menjadi sorotan warganet. Banyak orang yang merekam dan mengunggahnya ke berbagai media sosial. Sehingga berita itu sampai juga ke Ihsan. Tak ayal, Ihsan mengamuk dan mencari keberadaanku hingga Reza tidak bisa mengelak.
Begitu sampai di rumah sakit, Ihsan langsung menghajar Reza dan seperti biasa -- Reza tidak mau melawan. Sesak dadaku semakin jadi. Walau sebenarnya aku tidak melihat kejadian itu secara langsung dan hanya mendengar keributan itu dari dalam kamar, suara keributan dan baku hantam di luar ruangan itu membuat hatiku meringis, kututup telingaku sambil menahan isakan tangis. Untung saja, keributan itu berhasil dilerai.
Begitu ibuku dan Ihsan masuk ke kamar rawatku, tangisku semakin pecah. Ibuku yang sudah menangis sedari rumah langsung memeluk dan menciumku, juga menanyai keadaanku. Pun Ihsan, yang berusaha menyembunyikan air matanya, tubuhnya gemetar saat dia memelukku.
"Maaf, aku tidak ada di sana untuk melindungimu," suaranya serak dan ia terisak.
Kupaksakan bibirku tersenyum. "Kalian jangan menangis," kataku. "Aku sudah baik-baik saja. Dokter bilang, besok atau lusa aku sudah boleh pulang, kok."
"Pulang ke rumah kita," ujar Ihsan.
Itu bukan pertanyaan, juga bukan permintaan. Tidak tahu juga apa, dikatakan perintah pun tidak tepat. Yang jelas dia ingin aku menurut dan pulang ke rumahnya.
Dalam hati kecilku, aku tahu, kata-kata kasarku-lah yang memancing Reza berlaku kasar padaku. Memang aku sakit hati atas tamparannya itu, tapi tidak lebih sakit dibanding kebohongannya -- dia membohongiku demi Salsya. Tapi anehnya, aku tidak bisa tidak khawatir padanya. Dia baru makan sedikit sewaktu kami di resto. Bagaimana kalau dia kelaparan atau menahan lapar karena kekacauan dan penyesalannya atas kejadian ini?
"Bund, bisa tolong belikan Nara makanan? Nara lapar."
"Kamu mau makan apa? Biar aku yang beli," kata Ihsan.
"Bunda saja," tolakku. "Tidak apa-apa, kan? Tolong, ya, Bund?"
Ibuku mengangguk, lalu berdiri menghampiriku. "Mau makan apa, Sayang?"
__ADS_1
"Apa saja," jawabku. "Tolong belikan makanan untuk Mas Reza juga, ya? Tolong?"
Mata ibuku berkaca, sedangkan Ihsan memanas. "Untuk apa kamu masih memedulikan lelaki berengsek itu?"
Sambil menangis, ibuku melerai Ihsan, mencoba menenangkannya. Sementara aku, aku hanya bisa terdiam.
"Tolong, Bund. Bujuk dia untuk makan. Aku tidak mau dia kelaparan nanti."
Ibuku mengangguk, membuat Ihsan kembali memanas. "Memangnya dia tidak bisa mengurusi dirinya sendiri? Heh?"
"Dia... mungkin dia masih kalut."
"Peduli setan!"
"Ihsan, aku tidak mau dia sakit."
"Biarkan saja!"
"Tap--"
"Lelaki berengsek itu tidak pantas dikasihani."
"Ihsan. Jaga bicaramu, Nak."
"Dia masih suamiku," kataku.
__ADS_1
"Sudah, ya. Bunda akan beli makanan dan menyuruh Reza makan. Kamu tenang. Rileks, oke?"
Aku mengangguk, dan merasa -- cinta ini benar-benar membodohkan aku. Menutup akal sehatku.