Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Detik-Detik Yang Berbahaya


__ADS_3

Bagaimana ini? Tolong aku, Tuhan.


Jujur saja waktu itu aku sangat khawatir. Aku sudah lama tidak latihan beladiri. Apalagi keadaanku sekarang dengan perut yang besar dan bobot tubuh yang berat. Belum lagi yang kuhadapi itu adalah orang gila. "Sya...," kataku hendak membujuknya.


"Nara... Nara. Aku sudah pernah membunuh tiga orang. Dan kali ini... giliranmu. Oh, ya, aku ingat. Kamu hamil anak kembar, kan? Itu artinya... aku bisa menghabisi tiga nyawa sekaligus. Bukan begitu, Sayang?"


Well, dalam adegan ini aku berusaha tenang, sedikit demi sedikit menyingkir dan mencoba menghindar. Begitu pula sebaliknya, Salsya perlahan mendekat ke arahku.


"Katakan, kamu ingin kutusuk di mana? Jantung? Hati? Lambung? Atau... oh, aku tahu, bagaimana kalau kita mulai dari perutmu? Asyik, kan?"


Tuhan... tolong lindungi aku dan anak-anakkku.


Aku bersiaga. Aku tidak mungkin berlari dalam keadaan seperti ini. Dia pasti akan berhasil mengejarku atau aku akan jatuh terjerembab. Satu-satunya cara aku harus bertahan dan melawan. Dan...


Salsya mulai menyerang.


Aku berhasil menghindar hingga pisau tajam itu menancap ke sofa dan sofa itu pun bergeser dari tempatnya.

__ADS_1


Keadaan ini membuat Salsya lebih marah. Dia mengeran* dengan beringas dan melakukan penyerangan berikutnya. Kali ini aku berhasil menahan tangannya hingga pisau itu terlepas. Dan demi pertahanan diri, aku terpaksa -- melawan dan menghajarnya yang tidak punya kemampuan beladiri sedikit pun. Sayangnya, aku hanya mampu mengandalkan kekuatan tanganku, aku mencoba menghantamnya dengan kakiku sekali, tetapi itu justru memberikan efek sakit terhadap perutku, hingga Salsya terlepas, dia menubruk meja dengan vas bunga yang cukup besar. Mejanya bergeser, vas itu jatuh dan pecah berserakan di lantai.


Salsya yang tersungkur secepat kilat berusaha mengambil pisaunya, tapi beruntung aku bisa melumpuhkannya lagi dan refleks menarik rambutnya dan menghentakkan kepalanya ke lantai. Dia pingsan.


Tapi hanya pura-pura.


Aku yang lengah dan mengira dia sudah lumpuh dengan susah payah hendak berdiri, di saat itulah Salsya menendangku hingga aku terlentang.


Ctek!


Dalam keadaan menahan sakit dan dengan keadaan ruangan yang gelap itu -- samar-samar aku melihat sekelebat bayangan hitam datang dan langsung menyerang Salsya. Aku sama sekali tidak bisa mengenali orang itu, pakaiannya serba hitam dan ia mengenakan penutup kepala hingga yang terlihat hanya mata dan bagian mulutnya, bahkan aku tidak tahu apakah dia lelaki ataukah seorang perempuan.


Aku memiringkan tubuhku -- berusaha untuk berdiri, tapi tidak bisa. Perutku sakit seolah mengalami kontraksi. Dan di saat itu pula -- meskipun samar-samar -- aku melihat sosok hitam itu dengan sadis menghunjamkan pisau ke dada Salsya. Senjata itu memakan tuannya sendiri. Dan dengan sengaja pula sosok malaikat pembunuh itu meraih tangan Salsya dan menggenggamkannya ke gagang pisau. Aku tahu persis tujuannya supaya di pisau itu ada jejak sidik jari Salsya sendiri. Dan lagipula orang itu menggunakan sarung tangan. Melihat adegan itu aku hanya bisa menahan suaraku, membekap mulut dengan kedua tangan karena merasa shock. Dan sesaat kemudian, sosok hitam itu menghampiriku. Aku sempat berteriak, tapi dengan cepat dia membekap mulutku.


"Ssst... tenanglah," katanya pelan. Dia menggunakan sebuah alat untuk menyamarkan suaranya. Hingga aku tidak mengenali suaranya, bahkan tipe suara lelaki atau perempuan, aku tidak bisa membedakannya.


Sambil menangis dan menahan sakit, dan dengan suaraku yang tersendat, aku memohon kepadanya. "To-tolong, tolong jangan... jangan bunuh aku. Ak-aku... aku sedang hamil."

__ADS_1


Dia tersenyum -- senyuman dalam suasana gelap namun tetap bisa kulihat dengan pendaran cahaya dari ruangan lain. Senyuman itu sangat asing. Aku merasa tidak pernah melihatnya di bibir siapa pun. Lalu...


Dia mengelus perutku. "Kamulah pemenangnya."


"Siapa kamu?"


Dia menggeleng. "Katakan pada siapa pun yang bertanya bahwa kamu tidak tahu apa-apa. Akui kalau kamu sudah pingsan lebih dulu sebelum semua ini terjadi. Mengerti?"


Aku mengangguk setuju karena aku tidak punya pilihan. Satu-satunya yang kupikirkan hanyalah keselamatanku dan anak-anak dalam kandunganku.


"Sekarang tidurlah." Dia mengusap wajahku dengan tangannya yang terselubung sarung tangan. Lalu...


Perlahan...


Aku mulai kehilangan kesadaran. Dia membiusku.


"Hai, Bocah-Bocah, bertahanlah. Kalian akan baik-baik saja. Percaya atau tidak, kalian akan terlahir sebagai jagoan."

__ADS_1


__ADS_2