Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Bercinta Lagi


__ADS_3

Aku terbangun saat suara azan subuh berkumandang dari aplikasi di ponsel Reza. Dia tidak ada di sisiku saat aku membuka mata. Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan aku turun dari tempat tidur. Sambil melilitkan kembali handuk ke tubuhku, kucoba memanggilnya dan suaraku bersambut. Reza ada di beranda pribadi kami. Dan ketika aku membuka pintu, yang kudapati adalah sosok lelaki yang tertangkap basah menghapus air mata.


Ini belum selesai. Aku akan mengajarkanmu dan hatimu itu untuk menghargai kehadiranku -- seutuhnya. Aku berdeham. "Mas, subuh."


Dia mengangguk dan langsung berwudu, sementara aku cepat-cepat mengenakan pakaian lalu menyusulnya. "Tunggu aku. Aku ingin kita berjamaah."


Permintaan salat berjamaah yang menyakitkan. Seperti permintaanku supaya dia memelukku sepanjang malam yang membuatnya malah tidak bisa tidur. Apa yang kukatakan semua terkesan seperti permintaan terakhir.


Hei, bukan berarti aku ingin segera mati. Kuharap kau tidak berpikir seperti itu, ya!


Setelah selesai salat, aku sengaja sungkem kepadanya. "Aku minta maaf atas segala kesalahanku selama aku menjadi istrimu. Aku minta maaf atas segala kekuranganku -- kekuranganku sebagai istri dan kekuranganku dalam melayani suami. Juga... segala keburukan tingkah laku dan sikapku selama ini. Kamu mau memaafkan aku?"


Sebuah senyuman lega mengembang dari wajahnya. Tetapi Reza salah paham, dia berpikir kalau saat itu aku meminta maaf untuk mengikat hubungan kami menjadi lebih kuat. "Iya," katanya. "Aku memaafkanmu." Dia menangkup wajahku dan mencium keningku. Lalu kami berpelukan -- agak lama.

__ADS_1


"Kamu mau sarapan apa? Biar kumasakkan."


"Nasi goreng spesial ala kamu," jawabnya.


"Baiklah. Siap laksanakan."


Aku bergegas ke dapur meninggalkan Reza dengan wajahnya yang ceria. Dan aku punya cukup waktu untuk membuatkan sarapan yang ia request itu.


"Jangan memujiku. Itu bisa membuatku terbang." Aku pun tersenyum kepadanya.


Setelah sarapan, aku langsung membersihkan meja, lalu mencuci peralatan masak dan peralatan makan yang kotor. Saat itu Reza berdiri di tepi kolam, aku tidak tahu dia sedang memikirkan apa. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaanku dan segera menghampirinya, lalu mendorongnya ke kolam hingga ia benar-benar tercebur. Begitu ia muncul dari dalam air, sambil tertawa -- aku melemparkan suplemen stamina ke arahnya dan dia menyambut maksudku dengan girang. Sebab, selama ini aku belum pernah sekali pun mengajaknya bercinta lebih dulu, baik terang-terangan ataupun dengan memberikan isyarat seperti ini. Intinya aku tidak pernah mengutarakan meminta hak nafkah batin kepadanya, karena dia memberikannya rutin -- untuk kami -- tanpa aku harus meminta, dan aku juga sama sekali tidak pernah menolak meski seringkali aku harus melayaninya dua kali sehari. "Ayo," kataku sambil menjatuhkan pakaianku ke lantai.


"Dengan senang hati," sahutnya sambil tergelak dan penuh semangat. Binar-binar bahagia tergambar jelas dari wajahnya sampai-sampai aku merinding.

__ADS_1


Kuatkah aku melukainya setelah ini?


Dengan gesit ia menepi dan menghampiriku yang sudah setengah berbaring di lantai ruang makan, di pinggir kolam itu. Ekspresi senang itu membuatnya terlihat cute sekali.


Sudah setengah jam berlalu ketika kami selesai bercinta. Kendati kelelahan, senyuman Reza tak kunjung redup dari wajahnya yang berseri.


"Terima kasih, aku menyukainya," kataku. "Aku suka setiap jejak cinta yang kamu tinggalkan di tubuhku."


Dia tersenyum. "Aku suka saat kamu berinisiatif mengajakku bercinta."


Ah, kata-katanya dan tatapan matanya membuatku malu. Pipiku pun bersemu merah dalam senyuman.


Tapi sayangnya cerita cintaku tidak semua itu, kawan....

__ADS_1


__ADS_2