
Pada hari berikutnya, selama enam hari berturut-turut -- Reza benar-benar tidak datang. Harus kuakui, aku kembali merasa gersang saat mataku tidak lagi melihat sosok Reza Dinata. Taman surgaku kembali tandus. Sinar matahari telah membakar tanahnya dan menyerap habis semua air di dalamnya. Yang tersisa hanyalah aku, bunga kecil yang haus dan mati-matian berusaha bertahan hidup. Jujur saja aku mulai cemas. Dalam kecemasan itu pula, tiba-tiba Salsya malah datang menemuiku untuk menanyakan keberadaan Reza.
"Aku tidak tahu," kataku. "Sudah seminggu lebih dia tidak ke sini dan tidak ada kabar. Harusnya kamu yang tahu. Kalian kan sudah menikah."
Salsya menggeleng. "Belum," ujarnya.
Sepercik perasaan senang menyetrum hatiku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar senang dengan kenyataan bahwa suamiku belum menikahi wanita itu.
"Reza berjanji akan menikahiku setelah masa nifasku berakhir. Tapi karena kamu dan dia... maksudku karena kalian ada masalah, Reza mengundur rencana pernikahan kami. Katanya dia mau memperbaiki rumah tangga kalian dulu, baru setelah itu kami akan berembuk lagi. Itu juga alasanku mencarinya, aku kepingin kami menikah tanggal sebelas Januari. Tapi... sekarang Reza malah tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu dia ada di mana."
Argh! Dasar jalan*! Mungkin itulah alasan kenapa dia pergi -- untuk menghindarimu. Aku pura-pura tersenyum. "Aku juga tidak tahu dia ada di mana."
"Emm... Ra, bisa kita mengobrol sebentar, sambil duduk?"
Aku mengangguk dan langsung mengajaknya duduk di teras. "Mau membahas apa?" tanyaku.
"Emm... berhubung kita sudah membahas ini, sekalian saja, ya. Aku... aku minta tolong, maafkanlah Reza. Tolong, restui kami."
Dajjal!
"Aku janji, aku akan menjadi madu yang baik untukmu."
Berengsek! Aku sudah mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Tidak masalah kalau nanti Reza lebih sering bersamamu. Dari hari senin sampai hari sabtu pun tidak masalah. Tidak apa-apa jatahku hanya hari minggu. Atau hari apa terserah. Sekali seminggu saja dia bersamaku. Aku tidak masalah."
Sabar, Nara. Sabar. "Tanggal sebelas Januari, kurang lebih dua minggu lagi. Kalau aku boleh tahu, ada hal istimewa apa di tanggal itu?"
Pipinya yang pucat langsung bersemu merah jambu seperti pucuk mawar. "Itu hari pertama kali kami bertemu. Itu bermula dari keisengan Alfi. Waktu itu tanggal sebelas Januari, mereka berdua sedang makan di tenda pinggir jalan, dan kebetulan ada pengamen yang menyanyikan lagu 11 Januari di sana. Karena itulah Alfi jadi iseng, dia menantang Reza untuk berkenalan dengan salah satu gadis yang ada di tenda itu."
"Dan dia memilihmu?"
Salsya mengangguk. "Itu tenda kaki lima milik temanku, dan aku bekerja di sana."
"Oh, kukira kalian berkenalan setelah kamu bekerja di resto."
Dia menggelengkan kepala. "Bukan, justru aku bekerja di restonya setelah kami berkenalan. Dia yang menawariku bekerja di sana. Setelah itu kami bertemu setiap hari, dan... kami mulai menyadari, ada cinta di antara kami. Cinta pertama yang tidak akan pernah mati."
"Tidak mungkin. Kamu salah. Dia hanya perlu menyadari, jauh di dasar hatinya masih ada aku." Senyumnya merekah dan ada binar bahagia yang terpancar dari matanya. "Kalau dia sudah tidak mencintaiku, mana mungkin dia peduli padaku, ya kan? Lagipula, ada anakku yang menjadi pengikat cinta di antara kami kami."
Ya Tuhan... dosakah aku bila aku menerajang wanita murahan ini?
Huh! Sungguh dongeng yang luar biasa. Mataku langsung tertuju pada bayi mungil yang ada di gendongannya. Bayi yang tampan. Tapi sayang, dia terlahir dari wanita jalan* yang tidak tahu malu.
Sesaat kemudian, ibuku keluar dari dalam rumah dan sengaja berdeham. "Sudah senja. Tidak baik bagi bayi berada di luar rumah."
Butuh beberapa saat sebelum Salsya menjawab. Dia mengerti dan langsung berpamitan.
__ADS_1
"Bund, apa Bunda tahu di mana Mas Reza?" tanyaku setelah Salsya pergi.
Ibuku menggeleng. "Tidak. Tapi Bunda tahu harus menghubunginya ke mana."
Aku menyeringai. "Maksudnya?"
"Reza memberitahu Bunda nomor ponsel barunya. Katanya jangan diberitahukan kepada siapa pun." Lalu ia bersedekap. "Kamu mau meneleponnya?"
Aku menggeleng. "Tolong tanyakan saja, di mana dia sekarang."
"Bunda sudah menanyakan itu kemarin. Tapi dia tidak mau menjawab."
Tapi hatiku mengatakan dia sebenarnya ada di rumah kami. Dan aku sangat yakin sekali. "Nara mau mencarinya," kataku. "Nara rasa sebenarnya dia ada di rumah." Aku langsung melesat ke kamar, meraih tas dan ponselku, plus kunci motor di atas meja.
"Ini sudah senja, Nak."
"Nara tahu, tapi Nara mau pulang."
"Tunggu Ihsan pulang atau minta Reza menjemputmu, ya?"
"Hanya butuh beberapa belas menit untuk sampai ke sana, Bund. Tenang saja."
Kuciumi tangan ibuku dan aku memohon kepadanya supaya ia tidak memberitahukan pada siapa pun ke mana aku pergi. Ibuku mengangguk, dan aku pun langsung melesat pergi -- melintasi langit jakarta yang berwarna jingga.
__ADS_1
Aku akan pulang untukmu.