
"Jangan memperbesar masalah."
Aku melotot. "Kamu lo yang membuat masalah. Gila, ya. Dari awal sebelum menikah sampai sekarang, cuma satu hal yang membuat kita bertengkar. Cuma Salsya. Kita sama sekali tidak pernah bertengkar karena hal lain. Kapan, sih, dia akan mati?"
"Hei, jangan begitu. Kamu lagi hamil... dijaga bicaranya, Sayang...."
Fix! Aku semakin geram. "Kamu mau membela dia? Iya, Mas?"
"Lo... siapa yang membela dia? Aku mengkhawatirkanmu, jangan buat dirimu bad mood, jangan sampai kamu stres. Bisa, kan?"
Tidak berpengaruh. Bibirku maju dua senti.
"Sayang, ke belakang, yuk?"
"Apa sih kamu?"
"Ayolah... please?"
"Tidak mau. Nanti kalau ada yang kesini, bagaimana?"
"Cuek saja. Kita suami istri, siapa yang mau menggerebek?"
__ADS_1
"Ya tapi kan malu kalau ada orang, Mas. Nanti kalau Mbok Tin keluar, bagaimana? Hayo?"
"Biar saja, kan seru. Siapa yang mau mendekati mobil bergoyang?"
Aku diam karena bingung mau mengiyakan atau tidak. Tapi seperti biasa, aku belum mengiyakan -- Reza sudah berpindah ke belakang. Aku menoleh, "Yakin?"
"Jangan banyak mikir. Sini," katanya. "Penuhi permintaan suami. Hukumnya wajib."
Ya sudahlah. Aku turut pindah ke belakang, dan...
Seketika, mobil pun bergoyang -- seirama dengan cinta dan hasrat kami yang menyatu padu.
"Mas... ini tidak sesuai kesepakatan...," protesku.
Dia nyengir. "Iya, nanti kita lanjut lagi di dalam. Aku akan menyervismu sampai kamu puas."
Uuuh... itu salah satu gunanya memiliki suami bertubuh kekar. Manfaatkan kekekarannnya semaksimal mungkin. Haha!
"Non kenapa?" tanya Mbok Tin saat melihat Reza menggendongku.
Reza tersenyum. "Biasa Mbok, bawaan bayi," sahutnya sambil berlalu.
__ADS_1
Si Mbok di belakang sana pun ber-O lega.
Sesampainya di kamar, Reza menutup pintu dengan kakinya dan langsung membawaku ke tempat tidur.
"Langsung lanjut?"
"Bathtub, please? Gerah."
"Oke. Ide yang bagus. Lagipula kita butuh pemanasan ekstra."
Tanpa bertele-tele, dia mulai melepaskan pakaianku dan membawaku ke kamar mandi.
Di dalam bathtub, aku bersandar santai di dadanya. Itu adalah momen manis yang sepele. Aku yakin, ada banyak pasangan di dunia ini yang abai dengan momen-momen kebersamaan mereka, dan menganggap bercinta di ranjang itu sudah cukup untuk satu sama lain. Jangankan berendam, mandi bersama pun pasti sangat jarang. Padahal, kebanyakan istri pasti senang jikalau suaminya mau mengajak sang istri untuk menikmati momen-momen kecil untuk menghangatkan hubungan. Tidak perlu ke hotel atau makan di restoran mahal. Cukup diajak mandi bareng, memberikannya sentuhan-sentuhan penuh cinta, dan saling menyuapi saat makan bersama, itu sudah cukup membahagiakan untuknya. Sepertiku, aku sudah cukup hanya dengan perhatian kecil seperti itu. Perlakuan Reza yang sekecil itu membuatku merasa bahwa aku bukan sekadar pemuasnya di ranjang atau sekadar istri yang wajib menyiapkan makanan saat dia lapar, mencucikan pakaiannya dan merapikan tempat tidurnya agar dia tidur nyenyak dan lelap. Lebih dari itu, aku merasa sangat dihargai. Terlebih, dia tidak pernah lupa mendaratkan morning kiss di bibirku setiap pagi, ciuman di pipi atau di kepalaku di sela-sela waktu, entah di saat aku masak atau mengerjakan tugas lainnya, plus kecupan di kening setiap malam sebelum tidur. Selain tentang Salsya, sikapnya sebagai suami selalu sempurna.
Dia sempurna.
...Mendekati sempurna....
Dan omong-omong tentang Salsya, Reza meminta persetujuanku untuk mengizinkan Salsya tinggal di panti, mengurus dan menjadi koki untuk anak-anak di panti.
Hmm... baiklah.
__ADS_1