
Aku ingin memperbaiki keadaan, tapi lidahku tetap saja keluh. Aku belum bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang sekiranya bisa memperbaiki kepercayaan dirinya sebagai suami. Jadi, pada keesokan malamnya, kucoba untuk memainkan sedikit peran yang sebenarnya agak ribet, tapi setidaknya -- tidak mengharuskan aku untuk terang-terangan memberikan sinyal kepadanya, seperti tidak harus memberikannya *bat kuat atau perangsan*, tidak harus memakai lingerie apalagi sengaja telanjan*, plus tidak harus mengatakan -- terlebih memohon untuk disentuh. Rasa gengsi itu masih ada.
Akhirnya, malam itu aku berdiri saja di ruang tamu sambil sesekali mengintip ke luar.
"Ada apa?" tanya Reza.
"Aku...."
"Kenapa?"
"Menunggu tukang sate lewat," kataku. "Aku kepingin makan sate kambing."
Aku terkikik dalam hati. Mana ada tukang sate lewat di depan rumah kami. Tapi Reza sedikit pun tidak curiga.
"Biar aku carikan," katanya.
"Kamu mau keluar? Memangnya tidak takut--"
"Demi kamu," sahutnya. "Demi anak kita."
Ouw, dia mengira aku ngidam. "Aku mau ikut. Kita naik motor, ya?"
Tapi dia melarangku untuk ikut dengan alasan hari sudah malam dan tidak mau aku kena angin malam.
__ADS_1
"Aku mohon, ya?" Senyuman renyah seperti dulu tak pernah bisa membuat Reza menolakku.
Dia mengangguk. "Iya. Everything for you."
"Hoek! Gombal!"
Dia tersenyum, mengambil kunci motor dan kami segera bergegas. "Pelan-pelan, ya," kataku, sesaat setelah aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Dia tertegun dan langsung menatap tanganku yang memeluknya. Lalu ia menolehku, senyuman bahagia pun seketika mengembang menghiasi wajahnya. Dan sambil menenggerkan kepala di pundaknya, kukatakan bahwa aku juga sangat merindukannya, juga merindukan saat-saat bersamanya. Reza bahagia, ia melepaskan sejenak tangan kirinya dari setang motor untuk mengelus dan merema* lembut jemariku. Lalu...
Setibanya di warung sate, Reza langsung memesankan satu porsi sate kambing untukku.
"Kenapa pesan satu?"
"Untukmu saja."
Begitu sateku sudah terhidang di atas meja, aku langsung menoleh ke Reza yang duduk di sampingku.
"Suapi aku," kataku.
Lagi-lagi dia tertegun. Ekspresinya itu menggambarkan kekhawatiran, seolah-olah dia takut sekali kalau aku ingin mempermainkannya seperti waktu itu.
"Aku serius. Aku tidak akan mempermainkanmu seperti waktu itu. Kali ini sungguhan, aku mau kamu menyuapiku."
__ADS_1
Dia mengangguk, lalu mengambil satu tusuk sate dan menyuapkannya ke mulutku.
"Aku mau kamu juga makan," pintaku. Tetapi Reza tetap menggeleng. "Tidak apa-apa, jangan takut." Lalu aku berbisik, "Seandainya nanti kamu merasa gerah dan menginginkan aku, aku tidak akan melarangmu menyentuhku. Hmm?"
Dia menegakkan bahu, ekspresinya berubah girang. "Sayang...?"
Aku menatapnya, mengangguk dan tersenyum. "Aku janji, aku milikmu."
Yap, Reza langsung menyerukan pesanannya, "Dua porsi lagi, Mas!"
Eh? Wow sekali.
Tatapan mata dan senyuman Reza mulai berbeda semenjak kami keluar dari warung sate, dan itu sungguh membuatku merasa malu. Sesampainya di rumah, selagi Reza mengunci pintu, aku langsung melepaskan jaket dan lekas ke wastafel untuk mencuci tanganku, lalu menyiapkan susu khusus ibu hamil dan segera meminumnya. Sedangkan Reza -- setelah mencuci tangan, dia berdiri saja di dekat wastafel dengan dua tangan santai di dalam saku sambil memandangiku. Seusai meneguk segelas susu itu hingga tandas, kubawa gelas yang sudah kosong itu ke wastafel dan langsung mencucinya. Seakan tidak ingin kehangatan di antara kami kembali sirna, Reza langsung memelukku dan mendaratkan satu ciuman di tengkuk leherku. Jeda yang cukup lama -- yang terjadi di antara kami membuatku kembali merasa nervous. Aku merasakan lagi getaran-getaran yang mendebarkan seperti yang kurasakan dulu.
Dengan begitu lembut, Reza memutar tubuhku, lalu mengangkatku dan mendudukkan aku ke meja dapur di samping wastafel. Dia menatap lama ke dalam mataku -- jauh lebih lama dibanding yang pernah dilakukannya selama ini. Dia seolah menyampaikan pertanyaan tanpa kata. Sebuah isyarat yang kumengerti tanpa ia harus benar-benar bertanya. Aku mengangguk, kupejamkan mataku perlahan sebagai isyarat bahwa aku mengizinkannya melakukan apa pun yang ia inginkan dariku. Barulah Reza memberanikan diri menciumku -- menikmati bibirku dengan lembut dan sepenuh perasaan, seolah itu adalah ciuman kami yang pertama.
Tetapi, hanya itu saja yang ia lakukan -- dia hanya menciumku, kendati aku tahu dia sudah menegang, sebab aku merasakannya. Dan itu membuatku mengutuk diri sendiri. Gara-gara aku. Aku menghukumnya terlalu lama sehingga merusak mental dan kepercayaan dirinya sebagai seorang lelaki.
Akan kuperbaiki semuanya. Akan kubebaskan dia dari belenggu penyesalan dan kecemasan yang menyiksa. Kugerakkan tanganku dan kuberanikan diri untuk melepas tali celananya. "Ayo," kataku.
Dia tersenyum dan menarikku lebih rapat hingga aku menempel padanya. "Maaf, ya. Mungkin ini tidak akan berlangsung lama. Kita sudah lama... maksudku, aku sudah lama tidak--"
"Tidak apa-apa. Kita bisa mengulanginya lagi nanti."
__ADS_1
Lagi-lagi dia tersenyum dengan sangat semringah. Matanya memancarkan kebahagiaan. Dan seperti yang ia katakan, momen itu hanya berlangsung sesaat. Durasi tersingkat yang pernah kami lakukan.
Tapi itu sama sekali bukan masalah. Toh, malam masih panjang. Dan, ada aku di sini, bersamanya.