Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Aku Terluka Lagi


__ADS_3

"Aku ingin mandi," kataku kemudian. "Omong-omong, setelah ini tolong bantu aku menyusun semua belanjaan semalam, ya. Aku mencintaimu." Kupaksakan diri untuk bangun dan langsung ke kamar mandi setelah satu ciuman kilat kukecupkan di pipinya.


Satu jam kemudian, aku sudah selesai dengan segala urusan mempercantik diri, begitu juga dengan Reza, dia langsung membantuku menyimpan dan menyusun belanjaan itu ke laci-laci dapur.


"Bagaimana? Cukup, kan, untuk beberapa bulan ke depan?"


Reza mengangguk. "Lebih dari cukup."


"Bagus. Sudah selesai." Waktunya terapis lanjutan untuk hatimu. "Aku butuh istirahat sebentar, mau menemaniku?" Kuangkat dan kusodorkan segelas besar jus mangga segar untuknya.


Selanjutnya kuambil ponselku dan kunyalakan pengeras suara yang membuat suara Yuni Shara dalam lagu Tuhan Jagakan Dia -- miliknya Motif Band -- menggema di rumah kami, lalu kuajak Reza santai di kursi malas di seberang kolam.


Lagu pertama itu adalah lagu bertema cinta yang sengaja kupilih supaya Reza tetap terlena dengan manisnya cinta kami pagi ini. Tetapi dia mulai merasa risih begitu lagu-lagu berikutnya sukses mencubit hatinya. Diawali dengan lagu Cobalah Untuk Setia yang mengalunkan suara merdu Krisdayanti, tapi ia tidak mencetuskan komentar apa pun.


Pada lagu ketiga -- Serpihan Hati - Utopia -- Reza mulai melirikku. "Kenapa? Mau camilan?" tanyaku, pura-pura bodoh dan menyodorkan toples cokelat kacang di tanganku.


Reza menggeleng. Dia berpindah duduk ke sisiku dan merebahkan kepalaku di bahunya. "Terasa ada yang aneh," cetusnya. "Lagumu berbeda."


"Nikmati saja," kataku. Kutaruh ponselku ke meja di sampingku -- jauh dari jangkauannya, kemudian aku langsung merebahkan kepala di dadanya dan kupeluk ia dengan erat. "Aku mencintaimu. Dan saat ini aku sedang tidak ingin membahas apa pun, biarkan nada-nada itu mewakili perasaanku, oke?"


Seperti keinginanku, waktu terus bergulir dalam alunan nada-nada perih yang kian menusuk hatinya. Kehilangan - Firman, Demi Cinta - Kerispatih, Bersama Bintang - Drive, Melepasmu - Drive, Tak Bisa Memiliki - Samsons, Kisah Tak Sempurna - Samsons, Maafkan Aku - Enda, Terakhir: Perpisahan Termanis - Lovarian. Dalam setiap alunan-alunan lagu itu, Reza berusaha mencari makna yang tersirat dalam ketidakberdayaan.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Ponselku sudah kembali hening. Kutegakkan bahu dan menatapnya dengan serius. Dan aku bertanya, "Apa kamu bahagia bersamaku?"


Dia tersenyum kosong. "Sangat bahagia. Tidak pernah lebih baik dari ini," katanya. "Kalau kamu?"


"Aku juga. Selama ini hidupku tidak pernah sebahagia ini, seperti saat aku bersamamu."


Lagi, senyum di wajahnya mengembang sempurna. "Sama," katanya, "begitu juga aku."


"Jadi, apa keputusanmu?"


"Sayang...."


"Kamu mau putus hubungan dengan Salsya?"


"Mas, kumohon, kita perbaiki rumah tangga kita, ya? Jauhi dia, demi aku."


"Kita sudah pernah membahas ini. Kita sudah sepakat. Tolong?"


Aku menggeleng dengan pandangan kosong. "Kesepakatan kita hanya sebatas kamu berjanji pada Salsya. Tidak lebih. Tidak sampai kamu berduaan dan bermesraan dengannya."


"Ya Tuhan, Sayang, aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Kamu tidak percaya padaku?"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Aku percaya pada apa yang kulihat. Salsya nyaris telanjan* dan sudah menempel padamu. Aku tidak tahu, tidak tahu apa yang sudah terjadi sebelum aku datang."


Reza menatapku dengan nanar. "Aku tidak melakukan apa-apa padanya."


"Dia melakukannya. Dia mencumbuimu dan aku melihat itu."


Hening.


"Kutanya untuk terakhir kali--"


Reza memegangi kedua lenganku dengan kuat -- hingga kalimatku terputus. "Jangan bahas ini lagi."


Marah. Aku masuk ke dalam rumah, mengambil koper di gudang dan mengepak beberapa helai pakaian di kamar. Sementara Reza kalang kabut menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari dalam. Saat aku membuka pintu dan hendak keluar, Reza berhasil mencekalku dan membawaku kembali -- masuk ke dalam kamar. Dan seperti biasa, dia menggunakan adegan ranjang untuk menahanku. Dia melucuti pakaianku dengan kasar meski aku sama sekali tidak melawan. Dia membuat bajuku robek dan kancing-kancingku terlepas, lalu melayangkannya ke seberang tempat tidur.


"Jangan pernah pergi dariku!" dia berteriak sambil menyibakkan rokku, lalu menarik pakaian dalamku. "Kamu milikku," katanya dengan gusar. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak akan pernah!" Kakiku direnggangkan, dan, ia pun masuk, menghunjam dan menghentak-hentakku dengan kasar, seolah aku melawan padanya.


Agak ngeri juga sebenarnya melihat dia beringas seperti itu. Tapi aku harus membuat dia menyesal karena menyakitiku terlalu dalam.


"Terserah! Dengan atau tanpa izinmu aku tetap akan pergi."


Kugarukkan kuku-kuku jemariku di punggungnya dan berharap supaya dia marah lalu menamparku, dan aku punya alasan kuat untuk mengajukan gugatan cerai dengan alasan KDRT. Tetapi dia tidak melakukannya. Sebagai gantinya dia malah mengernyit, lalu menelikung kedua lenganku ke tempat tidur dan menggempurku habis-habisan.

__ADS_1


Enak? Entahlah. Yang kutahu, hatiku sangat marah padanya.


__ADS_2