
Penyiksaan untuk hatinya harus tetap berlanjut.
Sambil terisak sesedih-sedihnya, kubungkus tubuhku dengan selimut dan aku lari ke roof top. Di atas sana, aku berteriak sekencang yang bisa dihasilkan pita suaraku dengan tampang frustasi. Aku tahu Reza pasti mengikutiku. Dan aku juga tahu, kerapuhanku adalah serpihan kaca yang bisa menyakiti hatinya. Sekalian saja pura-pura pingsan.
__ADS_1
Seperti kebakaran janggut, Reza menepuk-nepuk pipiku dan memanggil-manggilku supaya aku lekas siuman. Karena tidak ada reaksi, ia membopongku turun dan membaringkanku di sofabed ruang galeri. Dengan tergopoh-tergopoh, ia menuruni lagi anak tangga menuju kamar dan kembali dengan sebotol minyak kayu putih di tangannya. Aku pun menyudahi pingsanku begitu aroma minyak kayu putih menusuk indra penciumanku, lalu beringsut duduk, dan seketika itu juga Reza memelukku erat-erat.
"Ayahku adalah seorang lelaki dengan kebutuhan *eks yang cukup tinggi," tuturku.
__ADS_1
Mendengar itu, seketika pelukan Reza langsung melonggar, dia melepaskan pelukannya dan menyelubungiku dengan selimut sewaktu aku menekuk kaki dan menutupi tubuhku dengan kedua tangan.
Ceritaku selesai. Kusembunyikan wajahku dan kubiarkan diriku sesenggukan di antara kedua kakiku, kendati sebenarnya aku sudah menangis sedari tadi.
__ADS_1
Malangnya, Reza hanya memelukku tanpa bisa mengatakan apa pun selain maaf.
Oh, malangnya nasib. Aku terluka lagi.
__ADS_1