Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Suami Siaga


__ADS_3

Kukira demamku kali ini seperti yang sudah-sudah, hanya butuh istirahat dan akan segera sembuh. Tapi ternyata kali ini tidak seperti biasanya. Suhu tubuhku malah meningkat drastis, aku sampai menggigil di tengah malam. Waktu hampir menjelang dini hari dan Reza tengah tidur lelap, aku terpaksa membangunkannya sebab aku sudah tidak tahan menahan dingin di saat suhu tubuhku sedang panas-panasnya.


"Dingin. Tolong peluk aku."


Reza yang baru terbangun langsung menyentuh kening dan leherku, dia langsung panik mendapati suhu tubuhku yang tinggi. Tapi dia berusaha tenang, sambil memelukku, dia langsung browsing informasi dari internet cara mengatasi demam dan menggigil.


"Tunggu di sini, aku buatkan minuman hangat supaya kamu enakan." Dia langsung mematikan AC dan lekas ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan mengambilkan air hangat untuk mengompresku. Setelah itu dia langsung melepaskan kausnya dan kembali memelukku plus menyelubungi tubuh kami dengan selimut.


Setelah menggigilku reda dan suhu tubuhku masih saja tinggi, Reza memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Ia pun langsung menelepon Erik dan memintanya segera menjemput kami. "Kita harus ke rumah sakit," katanya. "Sabar, ya. Kita tunggu Erik."


Rasa-rasanya aku sudah kehilangan kefokusanku, aku hanya ingat sepintas kalau Reza terus memelukku, bahkan sewaktu di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.

__ADS_1


Aku mendapatkan kembali kesadaranku sewaktu aku sudah berada di rumah sakit. Dan aku lega, setelah dokter memeriksa keadaanku -- aku dinyatakan hanya demam biasa dan kandunganku pun baik-baik saja. Aku tidak bisa membayangkan betapa banyak orang yang kukecewakan andai terjadi hal buruk pada kandunganku. Termasuk diriku sendiri.


"Maafkan aku. Aku lalai menjaga kesehatanku."


Menggeleng. Kali ini Reza tidak mau aku menyalahkan diriku sendiri. "Aku yang salah. Aku yang abai dan tidak tegas terhadapmu." Dia menggenggam tanganku dan memintaku berjanji. "Kita harus lebih awas. Jangan abai dan jangan lalai lagi. Oke? Janji?"


"Ya. Aku janji. Tapi tolong jangan beritahu siapa pun kalau aku masuk rumah sakit, apalagi Bunda dan Ihsan. Aku tidak mau mereka menyalahkanmu nanti."


"Kita bisa mempertimbangkan itu nanti setelah aku lahiran. Aku masih ingin menikmati waktu kita berdua. Aku janji, aku tidak akan memporsir tenagaku. Aku akan banyak istirahat. Ya? Aku mohon, Mas?"


Reza meringis. "Aku baru saja tadi janji akan lebih tegas padamu. Sekarang kamu ngeyel lagi. Dikasih enak kok tidak mau, sih?"

__ADS_1


Aku nyengir. "Enakan tinggal berdua. Bebas."


Dia menatapku dengan tanda tanya. "Bebas? Maksudnya?"


"Sok polos."


"Aku memang polos. Coba jelaskan, bebas apa?"


"Bebas mengekspresikan cinta," kataku terus terang. "Aku suka kebebasan kita. Kita bebas mau melakukan apa saja, kapan saja, juga di mana saja. Dan... bebas berekspresi tanpa harus menahan diri, tidak perlu khawatir atau malu kalau ada yang melihat atau mendengar saat kita bermesraan. Sejak kita kembali ke Jakarta, kita baru dua bulan benar-benar tinggal berdua. Tapi karena keadaan -- kita terpaksa harus berpisah. Jadi, aku ingin menghabiskan lima bulan ke depan hanya berdua dengan suamiku."


Tepat di saat itu Reza mengerti sepenuhnya apa yang kumaksud. Aku berharap Tuhan akan memberikan aku kesempatan terindah: memiliki kehidupan penuh cinta -- seperti bulan madu di setiap harinya.

__ADS_1


__ADS_2