
Tetapi sebenarnya kami tidak benar-benar berdua. Mayra dan Alfi yang tahu kami berada di rumah -- sengaja datang untuk mengganggu kami.
Kenapa kubilang mereka mengganggu?
Karena selain untuk mengunjungi kami, mereka sengaja datang untuk menantang dan memanasi Reza agar saling unjuk kemesraan. Lebih tepatnya itu tujuan pribadinya Alfi, Mayra sebagai istri -- yang sama gilanya dengan suaminya itu -- seringkali mau meladeni kegilaan suaminya yang suka sekali menggoda Reza. Dan, Reza seringkali terpancing kalau Alfi sudah menyebutnya Lelaki Cemen.
"Itu sudah berlangsung bertahun-tahun, Ra. Apalagi dulu saat ditinggal nikah oleh mantannya, Alfi dan Ari puas sekali meledeknya yang susah move on. Makanya, sekarang Reza seringkali merasa tertantang kalau Alfi meledeknya seperti itu."
Aku memonyongkan bibir. "Whatever. Pokoknya aku tidak mau meladeni kegilaan kalian."
Meski pada akhirnya aku membiarkan saja Reza memelukku ketika aku sibuk dengan pangganganku.
"Kamu seperti anak kecil, tahu!"
Dia nyengir. "Tidak juga," sahutnya. "Aku memang mau bermesraan denganmu. Karena mereka datang, jadi seolah aku menuruti permainan mereka. Sebenarnya tidak, kok."
Kujulurkan lidahku karena tak percaya. "Yakin?"
"Yap. Kita kan baru bersama. Jadi, aku mau menghabiskan hari-hariku dengan bermesraan bersamamu. Membayar lunas perpisahan kita yang menyakitkan itu," katanya lugas. Dia menutup kalimatnya dengan satu ciuman hangat di pipi.
Kumiringkan kepalaku untuk menoleh dan menatapnya. "Masih terasa?" tanyaku.
Dia mengangkat bahu. "Tidak juga," sahutnya. "Tapi kalau diingat atau ditanya, itu seperti luka ditaburi garam. Perih."
Aku tidak tahu mesti mengatakan apa, tapi dia jelas mengerti bahwasanya aku menatapnya dengan iba. "Aku harus apa untuk menyembuhkan lukamu?"
Dia menggeleng. "Tidak harus apa-apa," katanya. Lalu ia mengeratkan pelukannya sambil mencium pipiku sekali lagi. "Hanya harus bertahan di sisiku, apa pun yang terjadi dan bagaimana pun keadaan kita. Janji?"
"Aku...."
"Aku mohon?"
"Baiklah, aku janji. Tapi...."
"Apa?"
"Janjiku hanya berlaku selama aku menjadi istrimu, maksudku sah sebagai istrimu. Kalau kamu melanggar sumpah pernikahan kita, janjiku juga langsung gugur."
Reza tersenyum. "Deal. Karena aku tahu aku tidak akan pernah mengingkari sumpah pernikahan kita."
"Aku percaya," kataku.
Kuperhatikan Mayra dan Alfi terus saja melirik-lirik ke arah kami, seolah siap-siap mengejek Reza jika dia tidak berhasil mencium bibirku.
"Mending kamu santai sana dekat Mas Alfi. Ambil gitar, nyanyikan lagu untukku. Aku lebih suka seperti itu daripada mengumbar kemesraan di depan orang lain."
Dia tertawa kosong. "Aku tahu, kamu bukannya tidak suka mengumbar kemesraan. Kamu hanya tidak suka kalau kemesraan itu dilakoni seperti suatu permainan. Karena untuk seorang penulis novel roman sepertimu, kamu memiliki prinsip: love is truth, and love is not a game. Apa aku benar?"
Aku mengangguk. "Ya, itu maksudku. Kamu boleh mesra padaku di depan siapa pun, tapi bukan untuk memenuhi tantangan atau hanya ajang pertunjukan."
"Aku paham. Abaikan saja dua orang gila itu, ya?"
Entah kenapa malam itu untuk pertama kalinya aku merasa risih dengan kehadiran Alfi. Perlu kutekankan pada 'kehadiran Alfi' bukan pada kehadiran Mayra. Dan bukan tidak suka pada orangnya, apalagi membencinya. Tidak sama sekali. Aku hanya tidak suka dengan caranya yang mengusik perasaan Reza, dan aku tidak nyaman dengan hal itu. Ingat, ya, bukan berarti aku benci.
Aku mengangguk dan seperti perkataan Reza, aku pun mengabaikan kelakuan mereka selama sisa malam itu. "Mungkin aku jadi sensitif karena bawaan hamil."
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa."
"Kamu tidak marah, kan?"
"Sama sekali tidak."
Lega. "Pokoknya kamu boleh mesra asal tujuan tujuanmu bukan untuk beradu mesra di depan mereka. Ya?"
"Iya, Sayang."
Aku senang Reza mau mengerti, kendati Alfi masih saja meledek dan memanas-manasinya.
"Sori, Bro. Tidak akan berpengaruh lagi. Gue lebih memilih menjaga perasaan istri," ujarnya pada Alfi.
Dengan gerakan indah, Reza menjatuhkan diri ke bean bag kami yang super besar itu dan mulai mengutak-atik gitarnya.
"Ok, fine. Ternyata seorang Reza Dinata sudah kebal dari ledekan."
Tanpa menggubris perkataan Alfi, Reza langsung bertanya padaku aku mau request lagu apa. Apa saja kataku, yang penting yang bisa membuatku baper. "Kalau kamu berhasil menyanyikan tiga lagu yang bisa membuatku baper, aku yang akan menciummu dan akan memberimu hadiah yang manis. Tapi syaratnya harus tiga kali berturut-turut. Kalau tidak berturut-turut, artinya kamu gagal dan harus mengulang dari nol."
Reza mengangguk-angguk dan mulai berpikir, lalu mencatat beberapa judul lagu yang akan ia nyanyikan untukku.
"Bagaimana kami bisa tahu kamu baper atau tidak?" Mayra bertanya dengan antusias.
"Kalau aku baper, akan kuacungi satu jempol setelah dia selesai menyanyikan satu lagu."
"Bagaimana kalau kamu tidak jujur?" tanya Alfi ikut menimbrung. "Siapa yang tahu?"
"Tenang, istriku itu sosok perempuan yang sangat sportif," ujar Reza membelaku.
"Terima kasih, kamu tidak pernah meragukan aku." Kuberikan ia senyuman terbaik.
__ADS_1
Saat itu semua jenis panggangan kami sudah matang. Aku mengambil beberapa tusuk dan menaruhnya di piring, lalu membawakannya untuk Reza. Tetapi dia belum mau makan. Dia ingin menyanyikan lagu untukku dulu katanya.
Pertama-tama, dia menyanyikan lagu Penantian - Armada. Aku sengaja membiarkannya menyanyikan lagu itu sampai selesai, tapi aku tidak baper. "Tidak berhasil, ya? Padahal kemarin kamu sampai menangis."
"Aku suka. Kalau aku tidak suka, aku akan memintamu supaya berhenti menyanyi. Tapi khusus saat ini, kamu jangan menyanyikan lagu yang sudah pernah kamu nyanyikan."
Reza mengeran*. "Susah juga ternyata," keluhnya.
Lagu kedua yang ia nyanyikan adalah Aku Jatuh Cinta - Roulette. Dan kubiarkan lagi dia menyanyikan lagu itu sampai selesai, barulah aku berkomentar, "Aku suka lagu itu dari zaman dulu... sekali. Aku bahkan masih hafal lirik-liriknya sampai sekarang. Tapi aku tidak baper, karena lagu itu tidak sesuai untuk hubungan kita saat ini yang sudah menikah. Kita bukan lagi sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta."
"Oke. Berarti harus sesuai momen." Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara aku cekikikan sambil menikmati jagung bakar.
Sambil menunggu Reza memikirkan lagunya, aku berbisik pada Mayra, "Aku boleh tanya?"
Mayra balas berbisik, "Apa?"
"Tapi aku tidak punya maksud apa-apa lo, ya. Aku cuma penasaran. Bagaimana pembagian waktu Alfi untukmu dan Dinda saat momen-momen penting seperti ini? Tahun baru, valentine, dan lain-lain."
Mayra terkikik. "Kamu kepo juga, ya," ledeknya. Dia menyesap creamy latte di tangannya perlahan sebelum menjawab. "Aku istri pertama, Ra. Jadi aku yang pertama. Dari tadi pagi sampai besok pagi, itu jatahku. Besok pagi sampai lusa, itu jatahnya Dinda. Intinya, aku malamnya, Dinda siangnya. Begitu juga pada hari valentine, aku mendapat jatah pagi sampai sore, jatah lunch. Sedangkan Dinda malamnya, dinner time. Begitu juga pada hari ulang tahun Mas Alfi."
Aku mendengar Mayra dengan serius sampai aku tidak sadar Reza sudah menyanyikan lagu ketiganya. Sampai Tutup Usia miliknya Angga Candra. Kuberikan Reza tepuk tangan dan kuacungi jempol untuk pencapaian pertamanya. Dia sangat senang untuk keberhasilan pertamanya. Mungkin terdengar berlebihan, ya. Tapi aku dan Reza adalah pasangan pecinta musik, jadi kami tidak menganggap ini berlebihan. Tapi sayangnya, pada lagu keempat Reza menyanyikan lagu Tercipta Untukku - Ungu. "Kamu sudah pernah menyanyikan lagu itu untukku," kataku.
"O ya? Kapan?"
"Serius lupa? Mau kuingatkan?"
"Belum pernah lo, Sayang."
"Pernah. Sewaktu kita di Bali, sebelum kamu mendapat kabar kalau Salsya sudah kembali ke Bogor. Dan gara-gara itu kamu meninggalkan aku sendirian di pinggir kolam. Ingat, kan?"
Mayra cekikikan. "Wah, kamu punya ingatan yang tajam, ya, tentang Salsya."
"May...." Reza melotot pada sahabatnya itu.
"Iya... sori," sahut Mayra. "Tapi kamu harus ulang dari nol."
"Kurang tepat, May. Aku bukan menyimpan memori tentang Salsya."
Mayra berhenti tertawa. "Lalu, apa?" tanyanya.
"Aku tidak akan bisa lupa pada hal-hal yang membuatku sakit. Apalagi kalau itu dilakukan oleh orang terdekat."
Aku tahu Reza merasa tersindir. Tidak mau berlarut-larut dalam suasana tidak nyaman, ia pindah ke panggung dan duduk di kursi di depan mikropon. Dia langsung menyanyikan lagu kelima untuk mengalihkan perhatian kami. Lagu Tak Seindah Cinta Yang Semestinya - Naff yang sangat ampuh melebur kecanggungan saat itu. Aku pun menghampirinya dan berdiri sambil merangkulnya dari belakang, sebab aku merasa saat itu Reza-lah yang baper atas kata-kataku yang menyindir dan menusuk.
"Kok kamu yang baper, sih?" tanyaku ketika dia selesai bernyanyi.
"Aku baper karena melihatmu sampai nangis begitu."
Ia menggeleng. "Hanya kelilipan dan tidak usah dibahas."
Jelas dia menghindar, dia pun langsung bertanya apakah dia mendapat satu jempol? Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Silakan, nyanyikan lagu berikutnya."
Aku tetap di sana, duduk di sebelahnya, dan dia mulai menyanyikan lagu Wanita Paling Bahagia - Armada, dalam versi lebih slow dari band aslinya. Aku ingat betul dengan lagu itu. Pertama kali aku mendengarnya sewaktu aku di dalam bus, ada dua orang pengamen yang membawakannya dan aku langsung menyukai lagu itu, bahkan supaya aku tidak kesulitan untuk mencarinya di internet, aku langsung menanyakan judul dan nama penyanyinya pada si pengamen bersuara merdu itu. Dan padahal, aku sudah menyiapkan sanggahan untuk Reza, bahwasanya dalam lagu itu ada lirik yang tidak sesuai untuk hubungan kami.
Jadi terimalah oh cintaku
Jangan kau patahkan hatiku
Reza mengganti kata cintaku menjadi maafku. Dan akhirnya aku mengakui lagu itu menjadi pas untuk ia persembahkan kepadaku. "Kamu mendapatkan jempol kedua."
Dia tersenyum. "Thanks," katanya. "Lagu terakhir, lagu ini hampir setiap hari menemaniku melewati hari tanpamu. Sportif, simak sampai selesai dan jangan lari dari sini."
Deg!
Lagu apa?
Biarkan waktu teruslah berputar
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan
Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Malah kini kau ucapkan selamat tinggal
Membuat keresahan
Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga kujatuhkan air mata
Kekecewaanku sungguh tak berarah
__ADS_1
Biarkan ku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan air mata
Kekecewaanku sungguh tak berarah
Biarkan ku harus bertahan
Jangan pernah--
Reza menyetop lagunya karena aku sudah menutup telinga. Bukannya aku tidak suka dengan lagu Jangan Pernah Berubah - ST12 itu. Tapi aku tidak tahan mendengarkan lirik demi liriknya yang seolah Reza sedang mengungkapkan isi hatinya, itu membuatku menangis sedih dan membuat hati kecilku menyesali kesalahan yang sudah kulakukan. Tapi tetap saja, rasa gengsi dan egoku tak bisa kuenyahkan.
"Kamu menyalahkan aku?"
Reza tersenyum sambil meraih dan menggenggam tanganku. "Maaf, Sayang," katanya. "Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan sikapmu kemarin. Aku hanya mengetesmu. Seberapa menyesal dan seberapa merasa bersalah kamu dengan keadaan kita kemarin. Sekarang aku tahu, kamu juga sangat menyesal karena sudah meninggalkan aku. Maaf, ya? Jangan menangis lagi."
Bukannya berhenti, air mataku justru semakin menetes-netes. Dengan pengertiannya, Reza memeluk dan mendekapku lama.
"Aku nyanyikan satu lagu lagi untukmu, ya. Bintang Terindah." Dia pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku. Kemudian bernyanyi.
Cintaimu adalah anugerah
Sayangimu ku kan bahagia
Nyaman bila di pelukmu
Tak ku sia kan kesempatan terindah
Melihat senyum manismu
Tawa canda di wajahmu
Cukup buatku rasakan bahagia
Genggam tangan kecup keningmu dekap dan usap rambutmu
Bagiku kau Bintang Terindah
Cintaimu adalah anugerah
Sayangimu ku kan bahagia
Nyaman bila di dekatmu
Tak ku sia kan kesempatan terindah
Melihat senyum manismu
Tawa canda di wajahmu
Cukup buatku rasakan bahagia
Genggam tangan kecup keningmu dekap dan usap rambutmu
Bagiku kau memang Bintang Terindah
Genggam tangan kecup keningmu dekap dan usap rambutmu
Bagiku kau memang...
Bagiku...
Bagiku kau memang Bintang Terindah...
Bintang Terindah...
"So sweet.... itu lagu baru, ya? Aku belum pernah dengar."
Dia mengangguk. "Yap, single barunya Angga Candra. Baru rilis sekitar lima bulan yang lalu. Kamu suka?"
"Sangat. Apalagi dinyanyiin sama kamu."
"Well, aku sudah mendapat empat jempol?"
"Eh? Empat?"
"Mmm-hmm. Sudah lebih dari tiga. Jadi, bagaimana dengan hadiahku?"
__ADS_1
Reza menaruh gitarnya ke lantai lalu menarikku lebih dekat, dengan tangan melingkar sempurna di pinggangku. Sekalian saja, aku naik lalu duduk di pahanya, dan kusalungkan tanganku di lehernya. "Happy new year. Aku milikmu. Dan malam ini, akan kupenuhi apa pun yang kamu mau. Kapan pun, di mana pun. Everything for you."