
"Ini... aroma minyak urut?"
Aku mengangguk lalu mengeluarkan minyak urut itu dari saku piyamaku.
"Badannya sakit? Hmm? Ayo, sini biar kupijit." Reza langsung duduk di depanku dan menaruh kakiku di atas pangkuannya, dan, dia langsung memijat kakiku.
Ya ampun... ini jauh di luar ekspektasiku. Dia malah bicara lembut sekali, bahkan menawarkan diri untuk memijatku.
"Kamu tidak keberatan?"
Keningnya mengerut. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Malah seharusnya kamu bilang, beritahu aku, minta aku untuk memijatmu."
"Aku takut, Mas."
"Takut? Kenapa?"
"Aku takut merepotkanmu, takut kamu keberatan, atau kamu mau tapi sebenarnya terpaksa."
Lagi-lagi keningnya mengerut. "Pemikiran macam apa itu? Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?"
Aku menggeleng.
"Cerita, apa yang kamu pikirkan? Apa yang membebankan pikiranmu sekarang?"
Aku menggeleng lagi. Mulutku terasa berat, bahkan walau sekadar menganga, itu sangat sulit rasanya.
__ADS_1
"Inga, tidak, dulu kamu pernah berjanji kalau kamu akan menjadi pribadi yang selalu terbuka padaku. Ingat, kan?"
Terbuka. Kata itu membuatku terpikir untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku terbuka, kok. Malah sudah sangat terbuka. Bahkan aku sering polosan di depanmu, ya kan?"
"Yeee... malah bercanda."
Euwww... dia mencubit pipiku.
"Serius, ceritakan padaku." Kendati mulutnya bercuap-cuap mengintrogasiku, tangannya tetap telaten memijat.
Aku berdeham. "Ini ada hubungannya dengan masa laluku, Mas. Sebenarnya aku pernah bertanya pada Bunda bagaimana sikap ayahku dulu ketika Bunda hamil. Ya Bunda tidak pernah berbohong atau menutup-nutupi apa pun yang ingin kuketahui, mungkin Bunda tidak ingin kalau aku sampai ngambek seperti dulu, jadi Bunda selalu menjawab apa adanya."
Hening sesaat. "Lalu?" tanya Reza tak sabar.
Reza mendesa*. "Karena itu kamu berpikir kalau aku juga akan bersikap seperti itu?"
Aku mengedikkan bahu. "Bukan begitu juga, Mas. Aku... aku merasa kamu tidak akan seperti itu. Tapi... aku tetap saja takut."
"Maksudmu antisipasi? Begitu? Daripada kejadiannya seperti yang dialami Bunda, jadi kamu pikir lebih baik kamu tahan sendiri? Iya?"
Aku mengangguk.
"Sayang, dengar." Reza menggenggam tanganku dan menatap fokus padaku, kemudian ia berkata, "Aku bukan ayahmu. Aku, bukan seperti laki-laki lain di luar sana yang hanya mau enaknya saja. Aku bukan lelaki yang hanya mau disiapkan dan dilayani semua kebutuhanku. Bukan lelaki yang hanya minta diladeni ketika aku butuh kehangatan tubuhmu dan meminta anak darimu -- tapi tidak mau berbagi semua beban yang kamu tanggung. Aku bukan lelaki seperti itu."
Reza berceloteh panjang, dan aku suka sekali mendengarkan dia menuturkan kata-kata yang mendengungkanku hingga ke hati. Aku sengaja diam, menyimak kata demi kata yang keluar -- bukan sekadar dari mulutnya, tetapi dari hatinya.
__ADS_1
"Sayang, aku bukan lelaki yang hanya manis di saat kita pacaran. Aku tidak akan berubah, tetap Reza yang sama. Kamu ingat sewaktu kita di Cianjur, sewaktu aku memijatmu sehabis kamu muntah-muntah? Waktu itu aku tulus melakukannya untukmu, bukan untuk memanfaatkan keadaan supaya bisa menyentuh tubuhmu. Tidak sama sekali. Dan sekarang, ini -- ini tetap Reza yang sama. Mas-nya Nara yang bersedia berbagi suka duka bersama Nara. Bukan berarti aku sudah menikahimu dan kamu sudah menjadi istriku -- lantas aku menjadi tidak peduli dengan kesehatanmu. Tidak seperti itu, Sayang."
Hiks! Aku nangis. Tidak semua lelaki bisa menuturkan isi hati sebaik dia.
"Dengar," katanya lagi seraya menangkup wajahku. "Jangan seperti ini lagi. Kamu harus mengatakan apa pun yang kamu mau, apa pun yang kamu butuhkan, aku akan penuhi dan menuruti semuanya. Dan kamu juga harus mengatakan apa pun yang kamu rasakan, termasuk semua beban yang kamu simpan. Jangan menutupi apa pun dariku. Oke? Janji, Sayang?"
Aku mengangguk sesenggukan. Seandainya tidak pernah ada huru-hara tentang Salsya, betapa sempurnanya keluarga kecilku ini. Betapa sempurnanya suamiku ini. "Aku janji. Maafkan aku, ya?"
"Kamu tidak sepenuhnya bersalah, kamu hanya tidak terbuka padaku, hanya itu. Selebihnya salahku, aku tidak cukup peka dan kurang perhatian. Harusnya aku bertanya atau bahkan berinisiatif sendiri, kan? Maaf, ya?"
Seandainya bisa, Mas. Aku juga ingin jujur kalau aku sudah mengikutimu tadi pagi. "Maafkan sikap kekanakanku, ya, Mas?"
"Jangan bicara begitu. Aku sangat mengerti, Sayang. Ini itu... emm... bisa dibilang sudah konsekuensi untukku karena aku sudah tahu bagaimana karaktermu dari awal. Jadi aku harus mengerti kamu sepenuhnya. Aku tidak mempersalahkannya. Yang terpenting kedepannya nanti kamu harus selalu terbuka padaku. Oke?"
Aku mengangguk lagi. Pasti, tapi nanti.
"Bagus. Mana lagi yang sakit?"
"Semuanya," kataku -- sedikit malu.
"Ya, sudah. Kalau begitu kita ke kamar biar kamunya bisa sambil tiduran."
Tanpa kuminta Reza langsung menggendongku dan menurunkanku ke tempat tidur dengan sangat hati-hati. Lalu ia menyuruhku bertelungkup dan menaruh guling di sisi tubuhku supaya perutku tidak tertekan.
Oh Tuhan... aku berharap ini sepenuhnya seperti yang kupercayai. Tidak ada kepura-puraan apalagi keterpaksaan. Aamiin....
__ADS_1