Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kejujuran


__ADS_3

"Mas... kan belum dimulai...."


"Jadi?"


"Ah!"


"Cepat, katakan."


Ya ampun....


Aku berdeham. "Mas, aku minta maaf sebelumnya. Aku... rasa percayaku berkurang. Maksudku, tidak seperti dulu. Aku tidak memercayaimu sepenuhnya seperti dulu. Aku... aku seringkali menaruh curiga terhadapmu."


"Itu hal yang wajar. Karena kesalahanku, kan? Aku tidak layak marah untuk hal itu."


Aku nyengir lebar. "Marah dong... please... tekan aku."


"Baiklah, aku marah, ya. Siap-siap menerima kemarahanku," katanya. Ikut sinting.


Dan...


Uuuuuh... tekanan yang nikmat.


"Lagi?"


Uh!


Ah!


Emmm!


"Suka?"


"He-em. Suka. Sangat suka."


"Aku yang terbaik?"


"Tentu saja, kamu yang terbaik."


Pujian itu menghasilkan rasa gemas. Bibirku pun langsung dilahapnya dengan nikmat. "Lanjutkan," katanya.


"Ehm, setiap malam, aku selalu terbangun. Aku memaksakan mataku terbuka -- untuk... untuk melihatmu. Apa kamu ada di sisiku, atau...?"


Ah!


Aku kena marah. Eh, maksudku kena tekan lagi. "Kamu marah, ya?"


Dia mengangguk. "Yap. Tapi bukan karena kecurigaanmu. Melainkan karena kamu nakal. Kamu kan tahu, kamu itu tidak boleh kurang istirahat."


Aku cemberut. "Tapi, kan--"


Ah!


"Hanya beberapa menit, kok."


"Lalu?"


"Aku tidur lagi setelah itu."


"Lalu?"


"Jangan emosi, ya? Aku mau jujur."


Ah!


"Mas, aku belum ngomong, lo."


Ah!


"Mas...."

__ADS_1


Dia nyengir. "Ayo, ngomong."


"Aku...."


Ah!


"Mas...."


Idiiih... dia malah cengar-cengir. Parah!


"Lalu? Apa lagi?"


Aku menatap matanya. Dan...


Ah!


"Ngomong, Sayang...."


Yang ada makin kuperlama kalau kamu tekan terus. Hihi. Aku terkikik dalam hati. "Emm... aku kemarin mengikutimu."


"Ap--"


Hening!


Giliran dia menatapku dengan tajam.


"Mas... jangan marah... ingat anak-anak." Aku merengek dan merasa ngeri.


Ah!


"Maaf, Mas...."


Ah!


"Nakal!"


"Maaf...."


Ah!


"Apa lagi?"


"Emm... auw!" Pundakku kena gigit.


"Jujur. Katakan semuanya."


"Motorku kemarin mogok, terpaksa kudorong. Terus...."


Ah!


"Apa?"


"Emm...."


"Katakan!"


Ah... Eummmmm... kali ini dadaku ikut jadi sasaran. Dia *eremasku.


"Aku menelepon Ihsan, aku minta dia membawa motorku ke bengkel dan mengantarku pulang."


Uh!


Ah!


Eum!


"Itu yang membuatmu capek?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Lalu? Perutmu?"


Eh?


"Jawab!"


"Emm...."


"Keram?"


Ah!


"Jujur!"


Ah!


"Ti--"


Ah!


"Jangan bohong!"


Aku mengangguk tanpa suara.


Ah!


Ah!


Ah!


Ah!


Aaaaah....


"Mas...."


Dia berhenti -- terbenam dalam ketanggungan.


"Kamu itu...," katanya geram. "Kenapa, sih, kamu tidak berpikir panjang?"


Ya Tuhan, dia marah sungguhan padaku.


"Maaf, Mas...."


"Apa susahnya bilang mau ikut?"


"Aku kan mau melihat sendiri kejujuranmu...."


Eummmmm....


Reza mengisa* leherku dengan ekstra. Kurasa ini benar-benar ia lakukan karena marah.


"Nara minta maaf, Mas."


Dia menggeleng, dan melepaskan diri dariku. Lalu duduk.


"Nara minta maaf...," rengekku lagi. Aku pun bangkit, duduk di sampingnya. "Mas...?" Nangis sajalah. Dia pasti luluh. "Nara janji, Nara tidak akan seperti itu lagi. Maaf, ya? Nara mohon...."


Reza mengangguk. "Sini," katanya, ia menyuruhku duduk di pahanya.


Tuh... kan. Aku tahu kamu tidak akan tega melihatku menangis.


Aku senang. Bahkan kuposisikan diriku dengan pas dan membenamkannya lagi dengan sempurna.


"Mas sayang kamu," katanya. "Kamu boleh curiga, boleh tidak percaya. Tapi jangan sampai itu mencelakai dirimu sendiri, apalagi mengorbankan anak-anak. Aku tahu, kesalahan-kesalahanku selama ini fatal. Tapi aku berusaha -- aku berusaha memperbaiki semuanya. Tolong, Sayang. Bantu aku menjaga keluarga kecil kita, oke?"


Dia menghapus air mataku. Aku pun mengangguk. "Nara minta maaf?"


"Iya. Bahkan setelah ini aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Aku akan selalu mengawasimu, dan aku akan mengajakmu ke mana pun aku pergi."

__ADS_1


Haddeh... mulai... over protektif lagi. "Sudah, ya, marah-marahnya, jangan bahas hal ini lagi. Mending kita selesaikan yang tadi, yuk?"


__ADS_2