
Pukul 03.45 WIB -- kurang sedikit, atau banyak? Aku lupa, sekitar itu pokoknya. Aku dan Reza keluar dari kamar dan langsung turun menuju ruang makan. Meskipun semua makanan hanya tinggal memanaskan dan tinggal menghidangkan, tetap saja aku merasa tidak enak, sebab aku tidak membantu ibuku dan Aarin di dapur. Semua hidangan sudah tersaji dan mereka hanya tinggal menunggu kami. Ibuku dan Aarin cengar cengir melihat kedatangan kami -- bermaksud menggoda. Aku sih lumayan biasa saja, tetapi Reza super salah tingkah karena melihat bibir semua orang yang menahan senyum ke arahnya, termasuk aku. Yeah, kecuali Ihsan yang setiap kali ada Reza mukanya seketika berubah masam.
"Ya ampun, harusnya kalian makan duluan saja. Maaf, ya."
"Kita ke sini kan untuk berbuka dan sahur bersama. Masa makan duluan," ucap Ihsan ketus.
"Sudah...," ibuku menengahi. "Tidak apa-apa, kok. Hanya menunggu sebentar."
"Iya, kita ngerti kok, Mbak...," sahut Aarin dengan cengengesan. "Omong-omong, happy anniversary satu tahun, ya. Semoga kebaikan selalu menyertai rumah tangga kalian."
Semua orang pun mengaminkan, kecuali...
"Ihsan...," tegurku.
"Iya, aamiin...."
"Sekalian pimpin doa sahur."
"Dia saja."
"Mas Reza sudah pimpin doa waktu berbuka kemarin. Sekarang giliranmu. Lakukan untukku."
"Hmm," gumamnya. Tapi dia tetap bersedia memenuhi permintaanku: memimpin doa sahur pagi itu.
Kami pun makan bersama dalam waktu beberapa belas menit. Jam sudah menunjukkan jam empat lewat sedikit ketika aku menghabiskan semua isi piringku dalam porsi penuh, sesuai paksaan ayah dan nenek si jabang bayi. Katanya biar kami bertiga kuat berpuasa seharian. Kalau Reza memang dari sahur kemarin memaksaku makan banyak, dan hari ini ibuku malah ikut-ikutan.
"Iya, Nara akan menghabiskan semuanya," kataku. Begitulah caraku menyahut pada saat kedua orang itu memberikan perhatian yang luar biasa ektra. Itu cara mereka menyayangi kami bertiga katanya.
Hah! Berlebihan euy....
__ADS_1
Omong-omong, aku yang sekarang penurut sekali, ya? Iya, kan?
"Biar Bunda saja, Nak. Kamu buruan mandi, gih. Kamu kan mandinya lama," ibuku berkata saat aku hendak membereskan meja dan mencuci piring-piring kotor.
Hmm....
"Serius? Tidak apa-apa?"
"Sana...," paksanya.
"Terima kasih, Bunda."
Aku cepat-cepat ke kamar dan segera masuk ke kamar mandi.
"Sayang... buka dong...."
Iyuuuh...
"Kenapa? Aku belum selesai mandinya, Mas."
"Buka dulu...."
"Apa, sih, kok kamu merengek-rengek begitu?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti, Sayang...."
Aku ngakak, lalu segera membuka pintu. "Sebentar lagi imsak. Tanggung, tahu."
"Cuma sebentar. Imsak masih dua puluh lima menit lagi."
__ADS_1
Iuuuh... keukeuh sekali. "Lima belas menit, ya. Tidak selesai lima belas menit harus stop."
"Iya, jangan cerewet."
"Aku tidak suka mandi buru-buru, tahu!"
"Kalau aku tidak suka bercinta buru-buru."
Eh?
"Mas...."
"Diamlah, istri wajib menurut pada suami."
"Ih kamu...."
Dan...
Seketika cengiran lebar di wajahnya langsung terukir. Pasrah sajalah....
"Terima kasih. Kamu memang istri yang pengertian. Teman hidup yang terbaik. Yang selalu memenuhi apa pun kebutuhanku, dan menemaniku menyambut pagi dengan kehangatan. Aku sangat mencintaimu."
Ya Tuhan... bisikan mesra itu -- sungguh menggelitik jiwa.
Dan sekarang...
Ukh!
Gila! Suamiku gila.
__ADS_1
Pagi yang dingin ini seketika kembali hangat karena cintanya. Karena kegilaannya, hasrat cintanya yang tak pernah padam.