
Sesampainya aku di rumah, lantai teras depan dan pekarangan yang tak terurus seolah menggambarkan bahwa tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Ditambah lagi kolam ikan di halaman depan sudah kosong, tidak ada seekor ikan pun di dalamnya. Yang kupikirkan hanya dua hal. Pertama, kemungkinan ikan-ikan itu sengaja dipindahkan ke kolam belakang, atau kemungkinan keduanya adalah ikan-ikan itu sudah dimasak dan dijadikan lauk oleh suamiku yang ahli dalam goreng-menggoreng, panggang-memanggang, atau bakar-membakar.
Berlebihan, ya? Semua orang bisa melakukan itu.
Yang membuatku sedih adalah bunga-bungaku yang mesti bersaing dengan rerumputan yang ikut tumbuh dengan subur di lahannya. Untung saja waktu itu musim penghujan, bunga-bungaku tidak ikut mati tersengat matahari.
Kusingkirkan dulu perihal pekarangan depan yang tidak terurus itu. Aku segera merogoh kunciku dari dalam tas dan membuka pintu garasi. Dan sesuai dugaanku, pintu garasi yang mengarah ke kolam tidak terkunci, bahkan mobil Reza ada di dalam. Itu artinya Reza tidak ke mana-mana, dia ada di rumah dan sengaja menghindar dari Salsya.
__ADS_1
Segera setelah aku menutup kembali pintu itu, aku langsung masuk lewat pintu samping, pintu kaca di dekat dapur yang juga tidak terkunci. Tidak seperti pekarangan depan, keadaan di dalam rumah justru terawat dengan baik. Seperti peraturanku dulu sewaktu kami memutuskan untuk tinggal berdua, tidak boleh membiarkan perabotan dapur kotor apalagi sampai berserakan. Yap, dapurku aman. Hanya saja, stok makanan instan dan segala saos, cabe bubuk, kecap, dan sambal-sambal saset hampir ludes. Semua sudah menipis. Apalagi telur di kulkas, sebutir pun sudah tidak ada. Sedangkan sayur-sayuran dan segala jenis termasuk cabe dan tomat, dan lain-lainnya, aku yakin semua itu dimakan sebagai lalapan, atau dibuang karena membusuk. Reza tidak mungkin menumis atau memasak sayur bening. Itu mustahil. Pun dengan pakaian kotor, harus segera dimasukkan ke mesin cuci, jangan dibiarkan menumpuk dan bergelantungan di mana-mana. Itu yang kupesankan dulu padanya jika aku sedang tidak berada di rumah. Semua kenangan itu terngiang-ngiang dalam ingatanku, seolah itu baru kemarin terjadi. Dan pekarangan belakang rumah, tidak ada rerumputan yang sempat meninggi. Pot-pot mawarku dipindahkannya ke belakang sehingga semuanya terawat dengan baik.
Tapi di sisi lain, rasa bersalah menonjok-nonjok hatiku dengan keras. Aku tidak bisa mengatakan -- apa yang Reza dan aku lakukan adalah perbuatan yang impas. Tidak bisa. Aku merasa diriku keterlaluan hingga suamiku terlantar dan makannya tidak terurus, padahal orang-orang di luar sana bisa makan dengan nikmat di resto miliknya. Masih untung dia punya ikan yang ia ternak sendiri dan ia andalkan untuk lauknya sehari-hari, meski hanya dimasak itu-itu saja.
Dan...
Huh! Dia seolah tidak mengurus diri, rahangnya dipenuhi brewok dan kumisnya sudah memanjang. Melihatnya seperti itu membuatku merasa geli.
__ADS_1
Setelah berhasil menguasai diri dan mendapatkan kembali kesadaranku, aku yang berpaut ke pintu segera membalikkan badan dan melesat ke dapur. Sesampainya di wastafel, lekas-lekas kubasuh wajahku dan berusaha mengatur napas. Lagi-lagi tanpa kusadari, Reza sudah berada di belakangku, membuat detak jantungku sedikit melompat. Dia memelukku dengan erat sambil membenamkan wajahnya di tengkuk leherku. Tanpa sepatah kata pun dia melebur semua perih atas perpisahan kami -- empat puluh empat hari terberat dalam hidupnya. Tersiksa rasa bersalah terhadap anak dan istri yang sudah ia sakiti. "Aku merindukanmu," katanya. Hanya itu yang terucap di antara hangatnya air mata yang membasahi pundakku.
Kubuka mulutku untuk berbicara, tapi kata-kata lenyap dariku. Aku tidak tahu mesti bagaimana. Akhirnya aku hanya memintanya untuk mandi. "Bersihkan wajahmu," kataku. "Aku tidak suka melihat kamu brewokan, kumismu juga membuatku geli."
Dia tersenyum dengan mata berkaca. "Reza Rahadian juga pernah brewokan, tahu!"
"Jangan protes!" Mataku ikut berkaca. "Pergilah mandi. Akan kumasakkan makanan untukmu."
__ADS_1
Reza mengangguk dengan senyuman dan langsung berlalu.
Ini berat. Tapi hatiku ingin aku ada, dan, tetap di sini. Bersamanya.